PBTI User

PBTI User

Website URL: http://www.pbti.info Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Taekwondo Indonesia Tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) telah dilaksanakan di Hotel Panisula, Jakarta (28/1) berjalan dengan sangat kondusif. Berbagai gagasan dan pemikiran serta masukan konstruktif telah diakomodir dari Peserta kepada PBTI untuk ditindaklanjuti dalam program-program kerjanya kedepan. Selain itu, terkait diskusi pembekalan kepada peserta Rakernas yang diberikan oleh sejumlah narasumber dari pemerintah yakni Dirjen Anggaran Departemen Keuangan, Bapennas, dan Kemenpora serta KONI, akan menjadi rujukan dan referensi bagi PBTI untuk menyusun program kerja kedepan. 

Beberapa point penting terkait hasil pembekalan tersebut antara lain :

  • Seluruh narasumber menyebut bahwa prestasi taekwondo Indonesia mengalami penurunan dan perlu perbaikan dalam hal pembinaan dan regerenasi atlet. Terkait hal itu, tugas pengurus propinsi dalam hal pembinaan perlu diwujudkan dalam rencana strategis jangka panjang yang mengelaborasi seluruh kepentingan dalam hal pembinaan dan prestasi atlet. Program rekrutmen, seleksi dan pengiriman atlet pelatnas oleh PBTI keberbagai event Internasional juga perlu ditelaah dan di evaluasi kembali. 
  • Perlu pemahaman dan sinergi antar lembaga, baik cabor sebagai pelaku dan pengguna anggaran olahraga dengan stakeholders (Kemenpora, Kemendiknas, Kemenkeu, Bapenas, dan KONI) terkait dengan program, strategi dan target pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga, sehingga program pembinaan atlet jangka panjang menjadi lebih fokus dan terintegrasi. Tidak berjalan sendiri-sendiri dan tidak memiliki target sendiri-sendiri.
  • Dari hasil diskusi dengan keempat lembaga dan pemerintah tersebut , PBTI merekomendasikan agar seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), dalam hal ini Kemenpora, Kemendiknas, Kemenkeu, Bapenas, dan KONI untuk duduk bersama merumuskan konsep strategis pembinaan prestasi olahraga, dan mensosialisasikannya keseluruh daerah, sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan olahraga di tingkat daerah.  Termasuk dalam hal ini PBTI juga mendorong dikeluarkannya keputusan Presiden mengenai program strategis pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga jangka panjang, yang didalamnya memuat koordinasi antar lembaga serta peningkatan anggaran APBN untuk olahraga. Sebagai catatan, saat ini alokasi APBN untuk anggaran olahraga hanya sebesar 0,005 persen dari total APBN. Dengan asumsi presentasi tersebut, mustahil Indonesia mampu mengimplementasikan rencana strategis jangka panjang.

 Selain rekomendasi kepada pemerintah, beberapa hal pokok yang menjadi kesimpulan Rakernas dan menjadi catatan penting bagi PBTI untuk ditindaklanjuti adalah :

  1. Masalah zonasi (pembagian wilayah) perlu mendapat pengkajian dan analisa lebih lanjut, yang akan dirumuskan secara bersama oleh Bidang Binpres dan Pengprov. Masalah ini mendapat respons positif dan akan di realisasikan dengan pembentukan tim perumus yang berasal dari 5 wilayah, yakni Sumbar, Gorontalo, Jawa Barat, Jateng dan Sulteng. Kelima wilayah tersebut dengan masukan-masukan dari daerah lain akan merumuskan konsepsi dan strategi mengenai masalah pendanaan, masalah pembinaan, kejuaraan Kadet Nasional dan Pelatnas Yunior
  2. Perlu ada perbaikan mengenai masalah orientasi program dan seleksi atlet, termasuk didalamnya adalah mengenai masalah penilaian – keputusan penarikan dan seleksi yang berbasis standarisasi yang jelas dan transparan.
  3. Masalah mekanisme dan proporsi penugasan wasit juga menjadi perhatian peserta karena menyangkut tugas, kapasitas dan karir wasit.
  4. PBTI juga diminta membentuk tim untuk menyusun konsep pembinaan dan pengembangan atlet berdasarkan parameter yang digunakan oleh seluruh pengprov sebagai dasar untuk mensinergikan program kerja khususnya mengenai pembinaan atlet jangka panjang.
  5. Masalah O2SN juga menjadi perhatian. Merujuk pada saran staf ahli KONI bidang bela diri, O2SN (secara nasional) perlu diselenggarakan oleh cabor taekwondo. Untuk hal ini PBTI akan terus mengupayakan agar keinginan tersebut dapat segera terwujud.
  6. Masalah penyelenggaraan UKT masih menjadi problem klasik di berbagai daerah. Salah satu masalah klasik tersebut adalah masalah dana UKT sehingga berdampak pada masalah sertifikat. Terkait hal itu, PBTI seperti yang disampaikan Ketua Umum, meminta pengprov dengan tegas melakukan pembenahan sistem dan pembenahan disiplin dan sangsi organisasi kepada pengurus yang tidak melakukan tugas tata kelola UKT sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang berlaku. 
  7. Adanya rencana kenaikan biaya sertifikat dan rencana adanya penarikan dana kepada PBTI bagi individu dan/ atau klub yang ingin menyelenggarakan kejuaraan taekwondo. Untuk hal ini akan ditindaklanjuti lebih lanjut melalui surat keputusan PBTI.

Berdasarkan hasil kesimpulan Rakernas tersebut, Ketua Umum PBTI Letjen TNI (Purn) H. Thamrin Marzuki mengajak semua  peserta untuk memiliki komitmen bersama menjalankan hasil Rakernas ini sebagai bagian dari hasil evaluasi bersama.

Ditambahkannya, dari hasil Rakernas ini, dirinya memberikan 4 catatan penting yang menjadi penekanan untuk bersama-sama membangun kerjasama dan sinergi antara PBTI dengan seluruh Pengprov, yaitu : pertama, PBTI sesuai dengan mekanisme organisasi meminta dan mengakomodir berbagai masukan dan menerima evaluasi dari Pengprov. Namun Pengprov juga harus bisa dievaluasi dan menerima komitmen hasil evaluasi serta melaksanakan hasil evaluasi tersebut untuk kebaikan bersama. Kedua, meminta kita semua mempedomani AD/ ART sebagai aturan main organisasi. Terlepas apakah  AD/ ART TI memiliki kekurangan, saat ini aturan itulah yang harus kita jalankan sebagai konsensus bersama. Jika ada kekurangan secara obyektif dan sesuai aturan, bisa kita rubah di Munas nanti. Ketiga, Budayakan transparansi dan prinsip-prinsip akuntabilitas. PBTI menerima saran dan masukan terkait dengan masalah standarisasi seleksi atlet, masalah penugasan wasit dan pelatih, termasuk terbuka dalam menata kelola administrasi dan anggaran. Semuanya akan kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. PBTI juga memaklumi adanya beragam respons terkait rencana kenaikan biaya sertifikat. Namun secara obyektif rencana kenaikan tersebut memang telah disesuaikan dengan tingkat operasional dan kebutuhan program kerja yang digunakan pula kemanfaatannya untuk kita semua. Keempat. PBTI meminta kita semua menjaga soliditas dalam menjalankan roda organisasi. Hal ini penting karena menurut Ketua Umum PBTI, tidak ada jalan yang paling baik untuk mensukseskan setiap kegiatan dan program-program jika tidak adanya sinergi dan solidnya antar pengurus.

 

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Taekwondo Indonesia Tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) telah dilaksanakan di Hotel Panisula, Jakarta (28/1) berjalan dengan sangat kondusif. Berbagai gagasan dan pemikiran serta masukan konstruktif telah diakomodir dari Peserta kepada PBTI untuk ditindaklanjuti dalam program-program kerjanya kedepan. Selain itu, terkait diskusi pembekalan kepada peserta Rakernas yang diberikan oleh sejumlah narasumber dari pemerintah yakni Dirjen Anggaran Departemen Keuangan, Bapennas, dan Kemenpora serta KONI, akan menjadi rujukan dan referensi bagi PBTI untuk menyusun program kerja kedepan. 

Beberapa point penting terkait hasil pembekalan tersebut antara lain :

  • Seluruh narasumber menyebut bahwa prestasi taekwondo Indonesia mengalami penurunan dan perlu perbaikan dalam hal pembinaan dan regerenasi atlet. Terkait hal itu, tugas pengurus propinsi dalam hal pembinaan perlu diwujudkan dalam rencana strategis jangka panjang yang mengelaborasi seluruh kepentingan dalam hal pembinaan dan prestasi atlet. Program rekrutmen, seleksi dan pengiriman atlet pelatnas oleh PBTI keberbagai event Internasional juga perlu ditelaah dan di evaluasi kembali. 
  • Perlu pemahaman dan sinergi antar lembaga, baik cabor sebagai pelaku dan pengguna anggaran olahraga dengan stakeholders (Kemenpora, Kemendiknas, Kemenkeu, Bapenas, dan KONI) terkait dengan program, strategi dan target pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga, sehingga program pembinaan atlet jangka panjang menjadi lebih fokus dan terintegrasi. Tidak berjalan sendiri-sendiri dan tidak memiliki target sendiri-sendiri.
  • Dari hasil diskusi dengan keempat lembaga dan pemerintah tersebut , PBTI merekomendasikan agar seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), dalam hal ini Kemenpora, Kemendiknas, Kemenkeu, Bapenas, dan KONI untuk duduk bersama merumuskan konsep strategis pembinaan prestasi olahraga, dan mensosialisasikannya keseluruh daerah, sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan olahraga di tingkat daerah.  Termasuk dalam hal ini PBTI juga mendorong dikeluarkannya keputusan Presiden mengenai program strategis pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga jangka panjang, yang didalamnya memuat koordinasi antar lembaga serta peningkatan anggaran APBN untuk olahraga. Sebagai catatan, saat ini alokasi APBN untuk anggaran olahraga hanya sebesar 0,005 persen dari total APBN. Dengan asumsi presentasi tersebut, mustahil Indonesia mampu mengimplementasikan rencana strategis jangka panjang.

 Selain rekomendasi kepada pemerintah, beberapa hal pokok yang menjadi kesimpulan Rakernas dan menjadi catatan penting bagi PBTI untuk ditindaklanjuti adalah :

  1. Masalah zonasi (pembagian wilayah) perlu mendapat pengkajian dan analisa lebih lanjut, yang akan dirumuskan secara bersama oleh Bidang Binpres dan Pengprov. Masalah ini mendapat respons positif dan akan di realisasikan dengan pembentukan tim perumus yang berasal dari 5 wilayah, yakni Sumbar, Gorontalo, Jawa Barat, Jateng dan Sulteng. Kelima wilayah tersebut dengan masukan-masukan dari daerah lain akan merumuskan konsepsi dan strategi mengenai masalah pendanaan, masalah pembinaan, kejuaraan Kadet Nasional dan Pelatnas Yunior
  2. Perlu ada perbaikan mengenai masalah orientasi program dan seleksi atlet, termasuk didalamnya adalah mengenai masalah penilaian – keputusan penarikan dan seleksi yang berbasis standarisasi yang jelas dan transparan.
  3. Masalah mekanisme dan proporsi penugasan wasit juga menjadi perhatian peserta karena menyangkut tugas, kapasitas dan karir wasit.
  4. PBTI juga diminta membentuk tim untuk menyusun konsep pembinaan dan pengembangan atlet berdasarkan parameter yang digunakan oleh seluruh pengprov sebagai dasar untuk mensinergikan program kerja khususnya mengenai pembinaan atlet jangka panjang.
  5. Masalah O2SN juga menjadi perhatian. Merujuk pada saran staf ahli KONI bidang bela diri, O2SN (secara nasional) perlu diselenggarakan oleh cabor taekwondo. Untuk hal ini PBTI akan terus mengupayakan agar keinginan tersebut dapat segera terwujud.
  6. Masalah penyelenggaraan UKT masih menjadi problem klasik di berbagai daerah. Salah satu masalah klasik tersebut adalah masalah dana UKT sehingga berdampak pada masalah sertifikat. Terkait hal itu, PBTI seperti yang disampaikan Ketua Umum, meminta pengprov dengan tegas melakukan pembenahan sistem dan pembenahan disiplin dan sangsi organisasi kepada pengurus yang tidak melakukan tugas tata kelola UKT sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang berlaku. 
  7. Adanya rencana kenaikan biaya sertifikat dan rencana adanya penarikan dana kepada PBTI bagi individu dan/ atau klub yang ingin menyelenggarakan kejuaraan taekwondo. Untuk hal ini akan ditindaklanjuti lebih lanjut melalui surat keputusan PBTI.

Berdasarkan hasil kesimpulan Rakernas tersebut, Ketua Umum PBTI Letjen TNI (Purn) H. Thamrin Marzuki mengajak semua  peserta untuk memiliki komitmen bersama menjalankan hasil Rakernas ini sebagai bagian dari hasil evaluasi bersama.

Ditambahkannya, dari hasil Rakernas ini, dirinya memberikan 4 catatan penting yang menjadi penekanan untuk bersama-sama membangun kerjasama dan sinergi antara PBTI dengan seluruh Pengprov, yaitu : pertama, PBTI sesuai dengan mekanisme organisasi meminta dan mengakomodir berbagai masukan dan menerima evaluasi dari Pengprov. Namun Pengprov juga harus bisa dievaluasi dan menerima komitmen hasil evaluasi serta melaksanakan hasil evaluasi tersebut untuk kebaikan bersama. Kedua, meminta kita semua mempedomani AD/ ART sebagai aturan main organisasi. Terlepas apakah  AD/ ART TI memiliki kekurangan, saat ini aturan itulah yang harus kita jalankan sebagai konsensus bersama. Jika ada kekurangan secara obyektif dan sesuai aturan, bisa kita rubah di Munas nanti. Ketiga, Budayakan transparansi dan prinsip-prinsip akuntabilitas. PBTI menerima saran dan masukan terkait dengan masalah standarisasi seleksi atlet, masalah penugasan wasit dan pelatih, termasuk terbuka dalam menata kelola administrasi dan anggaran. Semuanya akan kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. PBTI juga memaklumi adanya beragam respons terkait rencana kenaikan biaya sertifikat. Namun secara obyektif rencana kenaikan tersebut memang telah disesuaikan dengan tingkat operasional dan kebutuhan program kerja yang digunakan pula kemanfaatannya untuk kita semua. Keempat. PBTI meminta kita semua menjaga soliditas dalam menjalankan roda organisasi. Hal ini penting karena menurut Ketua Umum PBTI, tidak ada jalan yang paling baik untuk mensukseskan setiap kegiatan dan program-program jika tidak adanya sinergi dan solidnya antar pengurus.

 

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Taekwondo Indonesia Tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) telah dilaksanakan di Hotel Panisula, Jakarta (28/1) berjalan dengan sangat kondusif. Berbagai gagasan dan pemikiran serta masukan konstruktif telah diakomodir dari Peserta kepada PBTI untuk ditindaklanjuti dalam program-program kerjanya kedepan. Selain itu, terkait diskusi pembekalan kepada peserta Rakernas yang diberikan oleh sejumlah narasumber dari pemerintah yakni Dirjen Anggaran Departemen Keuangan, Bapennas, dan Kemenpora serta KONI, akan menjadi rujukan dan referensi bagi PBTI untuk menyusun program kerja kedepan. 

Beberapa point penting terkait hasil pembekalan tersebut antara lain :

  • Seluruh narasumber menyebut bahwa prestasi taekwondo Indonesia mengalami penurunan dan perlu perbaikan dalam hal pembinaan dan regerenasi atlet. Terkait hal itu, tugas pengurus propinsi dalam hal pembinaan perlu diwujudkan dalam rencana strategis jangka panjang yang mengelaborasi seluruh kepentingan dalam hal pembinaan dan prestasi atlet. Program rekrutmen, seleksi dan pengiriman atlet pelatnas oleh PBTI keberbagai event Internasional juga perlu ditelaah dan di evaluasi kembali. 
  • Perlu pemahaman dan sinergi antar lembaga, baik cabor sebagai pelaku dan pengguna anggaran olahraga dengan stakeholders (Kemenpora, Kemendiknas, Kemenkeu, Bapenas, dan KONI) terkait dengan program, strategi dan target pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga, sehingga program pembinaan atlet jangka panjang menjadi lebih fokus dan terintegrasi. Tidak berjalan sendiri-sendiri dan tidak memiliki target sendiri-sendiri.
  • Dari hasil diskusi dengan keempat lembaga dan pemerintah tersebut , PBTI merekomendasikan agar seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), dalam hal ini Kemenpora, Kemendiknas, Kemenkeu, Bapenas, dan KONI untuk duduk bersama merumuskan konsep strategis pembinaan prestasi olahraga, dan mensosialisasikannya keseluruh daerah, sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan olahraga di tingkat daerah.  Termasuk dalam hal ini PBTI juga mendorong dikeluarkannya keputusan Presiden mengenai program strategis pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga jangka panjang, yang didalamnya memuat koordinasi antar lembaga serta peningkatan anggaran APBN untuk olahraga. Sebagai catatan, saat ini alokasi APBN untuk anggaran olahraga hanya sebesar 0,005 persen dari total APBN. Dengan asumsi presentasi tersebut, mustahil Indonesia mampu mengimplementasikan rencana strategis jangka panjang.

 Selain rekomendasi kepada pemerintah, beberapa hal pokok yang menjadi kesimpulan Rakernas dan menjadi catatan penting bagi PBTI untuk ditindaklanjuti adalah :

  1. Masalah zonasi (pembagian wilayah) perlu mendapat pengkajian dan analisa lebih lanjut, yang akan dirumuskan secara bersama oleh Bidang Binpres dan Pengprov. Masalah ini mendapat respons positif dan akan di realisasikan dengan pembentukan tim perumus yang berasal dari 5 wilayah, yakni Sumbar, Gorontalo, Jawa Barat, Jateng dan Sulteng. Kelima wilayah tersebut dengan masukan-masukan dari daerah lain akan merumuskan konsepsi dan strategi mengenai masalah pendanaan, masalah pembinaan, kejuaraan Kadet Nasional dan Pelatnas Yunior
  2. Perlu ada perbaikan mengenai masalah orientasi program dan seleksi atlet, termasuk didalamnya adalah mengenai masalah penilaian – keputusan penarikan dan seleksi yang berbasis standarisasi yang jelas dan transparan.
  3. Masalah mekanisme dan proporsi penugasan wasit juga menjadi perhatian peserta karena menyangkut tugas, kapasitas dan karir wasit.
  4. PBTI juga diminta membentuk tim untuk menyusun konsep pembinaan dan pengembangan atlet berdasarkan parameter yang digunakan oleh seluruh pengprov sebagai dasar untuk mensinergikan program kerja khususnya mengenai pembinaan atlet jangka panjang.
  5. Masalah O2SN juga menjadi perhatian. Merujuk pada saran staf ahli KONI bidang bela diri, O2SN (secara nasional) perlu diselenggarakan oleh cabor taekwondo. Untuk hal ini PBTI akan terus mengupayakan agar keinginan tersebut dapat segera terwujud.
  6. Masalah penyelenggaraan UKT masih menjadi problem klasik di berbagai daerah. Salah satu masalah klasik tersebut adalah masalah dana UKT sehingga berdampak pada masalah sertifikat. Terkait hal itu, PBTI seperti yang disampaikan Ketua Umum, meminta pengprov dengan tegas melakukan pembenahan sistem dan pembenahan disiplin dan sangsi organisasi kepada pengurus yang tidak melakukan tugas tata kelola UKT sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang berlaku. 
  7. Adanya rencana kenaikan biaya sertifikat dan rencana adanya penarikan dana kepada PBTI bagi individu dan/ atau klub yang ingin menyelenggarakan kejuaraan taekwondo. Untuk hal ini akan ditindaklanjuti lebih lanjut melalui surat keputusan PBTI.

Berdasarkan hasil kesimpulan Rakernas tersebut, Ketua Umum PBTI Letjen TNI (Purn) H. Thamrin Marzuki mengajak semua  peserta untuk memiliki komitmen bersama menjalankan hasil Rakernas ini sebagai bagian dari hasil evaluasi bersama.

Ditambahkannya, dari hasil Rakernas ini, dirinya memberikan 4 catatan penting yang menjadi penekanan untuk bersama-sama membangun kerjasama dan sinergi antara PBTI dengan seluruh Pengprov, yaitu : pertama, PBTI sesuai dengan mekanisme organisasi meminta dan mengakomodir berbagai masukan dan menerima evaluasi dari Pengprov. Namun Pengprov juga harus bisa dievaluasi dan menerima komitmen hasil evaluasi serta melaksanakan hasil evaluasi tersebut untuk kebaikan bersama. Kedua, meminta kita semua mempedomani AD/ ART sebagai aturan main organisasi. Terlepas apakah  AD/ ART TI memiliki kekurangan, saat ini aturan itulah yang harus kita jalankan sebagai konsensus bersama. Jika ada kekurangan secara obyektif dan sesuai aturan, bisa kita rubah di Munas nanti. Ketiga, Budayakan transparansi dan prinsip-prinsip akuntabilitas. PBTI menerima saran dan masukan terkait dengan masalah standarisasi seleksi atlet, masalah penugasan wasit dan pelatih, termasuk terbuka dalam menata kelola administrasi dan anggaran. Semuanya akan kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. PBTI juga memaklumi adanya beragam respons terkait rencana kenaikan biaya sertifikat. Namun secara obyektif rencana kenaikan tersebut memang telah disesuaikan dengan tingkat operasional dan kebutuhan program kerja yang digunakan pula kemanfaatannya untuk kita semua. Keempat. PBTI meminta kita semua menjaga soliditas dalam menjalankan roda organisasi. Hal ini penting karena menurut Ketua Umum PBTI, tidak ada jalan yang paling baik untuk mensukseskan setiap kegiatan dan program-program jika tidak adanya sinergi dan solidnya antar pengurus.

 

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Taekwondo Indonesia Tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) telah dilaksanakan di Hotel Panisula, Jakarta (28/1) berjalan dengan sangat kondusif. Berbagai gagasan dan pemikiran serta masukan konstruktif telah diakomodir dari Peserta kepada PBTI untuk ditindaklanjuti dalam program-program kerjanya kedepan. Selain itu, terkait diskusi pembekalan kepada peserta Rakernas yang diberikan oleh sejumlah narasumber dari pemerintah yakni Dirjen Anggaran Departemen Keuangan, Bapennas, dan Kemenpora serta KONI, akan menjadi rujukan dan referensi bagi PBTI untuk menyusun program kerja kedepan. 

Beberapa point penting terkait hasil pembekalan tersebut antara lain :

  • Seluruh narasumber menyebut bahwa prestasi taekwondo Indonesia mengalami penurunan dan perlu perbaikan dalam hal pembinaan dan regerenasi atlet. Terkait hal itu, tugas pengurus propinsi dalam hal pembinaan perlu diwujudkan dalam rencana strategis jangka panjang yang mengelaborasi seluruh kepentingan dalam hal pembinaan dan prestasi atlet. Program rekrutmen, seleksi dan pengiriman atlet pelatnas oleh PBTI keberbagai event Internasional juga perlu ditelaah dan di evaluasi kembali. 
  • Perlu pemahaman dan sinergi antar lembaga, baik cabor sebagai pelaku dan pengguna anggaran olahraga dengan stakeholders (Kemenpora, Kemendiknas, Kemenkeu, Bapenas, dan KONI) terkait dengan program, strategi dan target pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga, sehingga program pembinaan atlet jangka panjang menjadi lebih fokus dan terintegrasi. Tidak berjalan sendiri-sendiri dan tidak memiliki target sendiri-sendiri.
  • Dari hasil diskusi dengan keempat lembaga dan pemerintah tersebut , PBTI merekomendasikan agar seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), dalam hal ini Kemenpora, Kemendiknas, Kemenkeu, Bapenas, dan KONI untuk duduk bersama merumuskan konsep strategis pembinaan prestasi olahraga, dan mensosialisasikannya keseluruh daerah, sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan olahraga di tingkat daerah.  Termasuk dalam hal ini PBTI juga mendorong dikeluarkannya keputusan Presiden mengenai program strategis pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga jangka panjang, yang didalamnya memuat koordinasi antar lembaga serta peningkatan anggaran APBN untuk olahraga. Sebagai catatan, saat ini alokasi APBN untuk anggaran olahraga hanya sebesar 0,005 persen dari total APBN. Dengan asumsi presentasi tersebut, mustahil Indonesia mampu mengimplementasikan rencana strategis jangka panjang.

 Selain rekomendasi kepada pemerintah, beberapa hal pokok yang menjadi kesimpulan Rakernas dan menjadi catatan penting bagi PBTI untuk ditindaklanjuti adalah :

  1. Masalah zonasi (pembagian wilayah) perlu mendapat pengkajian dan analisa lebih lanjut, yang akan dirumuskan secara bersama oleh Bidang Binpres dan Pengprov. Masalah ini mendapat respons positif dan akan di realisasikan dengan pembentukan tim perumus yang berasal dari 5 wilayah, yakni Sumbar, Gorontalo, Jawa Barat, Jateng dan Sulteng. Kelima wilayah tersebut dengan masukan-masukan dari daerah lain akan merumuskan konsepsi dan strategi mengenai masalah pendanaan, masalah pembinaan, kejuaraan Kadet Nasional dan Pelatnas Yunior
  2. Perlu ada perbaikan mengenai masalah orientasi program dan seleksi atlet, termasuk didalamnya adalah mengenai masalah penilaian – keputusan penarikan dan seleksi yang berbasis standarisasi yang jelas dan transparan.
  3. Masalah mekanisme dan proporsi penugasan wasit juga menjadi perhatian peserta karena menyangkut tugas, kapasitas dan karir wasit.
  4. PBTI juga diminta membentuk tim untuk menyusun konsep pembinaan dan pengembangan atlet berdasarkan parameter yang digunakan oleh seluruh pengprov sebagai dasar untuk mensinergikan program kerja khususnya mengenai pembinaan atlet jangka panjang.
  5. Masalah O2SN juga menjadi perhatian. Merujuk pada saran staf ahli KONI bidang bela diri, O2SN (secara nasional) perlu diselenggarakan oleh cabor taekwondo. Untuk hal ini PBTI akan terus mengupayakan agar keinginan tersebut dapat segera terwujud.
  6. Masalah penyelenggaraan UKT masih menjadi problem klasik di berbagai daerah. Salah satu masalah klasik tersebut adalah masalah dana UKT sehingga berdampak pada masalah sertifikat. Terkait hal itu, PBTI seperti yang disampaikan Ketua Umum, meminta pengprov dengan tegas melakukan pembenahan sistem dan pembenahan disiplin dan sangsi organisasi kepada pengurus yang tidak melakukan tugas tata kelola UKT sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang berlaku. 
  7. Adanya rencana kenaikan biaya sertifikat dan rencana adanya penarikan dana kepada PBTI bagi individu dan/ atau klub yang ingin menyelenggarakan kejuaraan taekwondo. Untuk hal ini akan ditindaklanjuti lebih lanjut melalui surat keputusan PBTI.

Berdasarkan hasil kesimpulan Rakernas tersebut, Ketua Umum PBTI Letjen TNI (Purn) H. Thamrin Marzuki mengajak semua  peserta untuk memiliki komitmen bersama menjalankan hasil Rakernas ini sebagai bagian dari hasil evaluasi bersama.

Ditambahkannya, dari hasil Rakernas ini, dirinya memberikan 4 catatan penting yang menjadi penekanan untuk bersama-sama membangun kerjasama dan sinergi antara PBTI dengan seluruh Pengprov, yaitu : pertama, PBTI sesuai dengan mekanisme organisasi meminta dan mengakomodir berbagai masukan dan menerima evaluasi dari Pengprov. Namun Pengprov juga harus bisa dievaluasi dan menerima komitmen hasil evaluasi serta melaksanakan hasil evaluasi tersebut untuk kebaikan bersama. Kedua, meminta kita semua mempedomani AD/ ART sebagai aturan main organisasi. Terlepas apakah  AD/ ART TI memiliki kekurangan, saat ini aturan itulah yang harus kita jalankan sebagai konsensus bersama. Jika ada kekurangan secara obyektif dan sesuai aturan, bisa kita rubah di Munas nanti. Ketiga, Budayakan transparansi dan prinsip-prinsip akuntabilitas. PBTI menerima saran dan masukan terkait dengan masalah standarisasi seleksi atlet, masalah penugasan wasit dan pelatih, termasuk terbuka dalam menata kelola administrasi dan anggaran. Semuanya akan kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. PBTI juga memaklumi adanya beragam respons terkait rencana kenaikan biaya sertifikat. Namun secara obyektif rencana kenaikan tersebut memang telah disesuaikan dengan tingkat operasional dan kebutuhan program kerja yang digunakan pula kemanfaatannya untuk kita semua. Keempat. PBTI meminta kita semua menjaga soliditas dalam menjalankan roda organisasi. Hal ini penting karena menurut Ketua Umum PBTI, tidak ada jalan yang paling baik untuk mensukseskan setiap kegiatan dan program-program jika tidak adanya sinergi dan solidnya antar pengurus.

 

Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman menyatakan bahwa Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) bersama Pengurus Propinsi (Pengprov TI) diminta untuk menjaga soliditas organisasi. Hal tersebut disampaikan Marciano Norman ketika memberikan arahan kepada peserta Rapat Kerja Nasional Taekwondo Indonesia tahun 2020 yang berlangsung di Hotel Panisula, Jakarta 28/1.

Menurut Bapak Marciano Norman, hanya dengan organisasi yang kuat dan solid, segala bentuk tantangan untuk menjawab persoalan dan dinamika yang terjadi, yang bisa menghambat program pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga akan dapat diatasi dengan baik.  

“Saya meminta seluruh elemen pengurus, baik di Pusat dan seluruh daerah untuk menjaga soliditas. Hal itu karena tantangan mengelola organisasi dengan dinamika yang begitu tinggi tidaklah mudah. Dibutuhkan bukan cuma konsistensi dan keterpaduan tapi juga sinergitas dan soliditas antar pengurus. Tanpa hal itu, sulit taekwondo Indonesia bisa memproduksi sumber daya atlet yang maksimal dan berkualitas dalam jangka panjang.” Terang mantan Ketua Umum PBTI dua periode  (2011 – 2015 dan 2015 – 2019) itu dalam arahannya kepada peserta Rakernas.

Saat memberikan arahan, Bapak Marciano Norman sedikit flashback menceritakan pengalamannya ketika memimpin Taekwondo Indonesia sebagai Ketua Umum PBTI.  Kepada seluruh Pengprov TI yang hadir beliau menceritakan bagaimana beratnya memikul tanggung jawab sebagai Ketua Umum PBTI waktu itu. Tanggung jawab tersebut bukan saja terkait dengan urusan tata kelola organisasi dan perilaku berorganisasi yang akhirnya menimbulkan “distorsi” di tubuh taekwondo Indonesia, tapi juga terkait dengan masalah administrasi, anggaran dan bahkan ‘gangguan’ terhadap legitimasi organisasi.  

Salah satunya beliau menyebut dinamika PBTI ketika berhadapan dengan eksistensi YUTI/ UTI Pro yang menyebabkan tingginya dinamika di dalam tubuh organisasi taekwondo baik di Pusat maupun di berbagai daerah. Tak sedikit dari fakta empiris mengenai masalah ini yang akhirnya menimbukan konflik organisasi. Sehingga berbagai program pembinaan, pengembangan dan prestasi menjadi terhambat.

“Dengan solidnya organisasi, baik antara PBTI dengan para Pengprov TI, maka beban tanggung jawab tersebut terasa semakin ringan. Ada sinergi, kohesi dan hubungan ‘persaudaran’ serta ikatan kuat yang menyebabkan terintegrasinya semangat dan totalitas berorganisasi untuk bersama-sama maju berprestasi . Dengan konsistensi yang berpedoman pada aturan main (AD/ ART), itulah kita tetap bisa fokus pada program pembinaan dan pengembangan prestasi, yang pencapaiannya bisa sama-sama kita saksikan.” Ujar Bapak Marciano

Bapak Marciano Norman juga menceritakan bahwa dirinya tidak bisa dilepaskan dari keluarga besar Taekwondo Indonesia yang telah menjadikannya posisi Ketua Umum KONI saat ini. Menurutnya tanpa ia pernah menjadi Ketua Umum PBTI, mustahil dirinya dikenal dan dapat dipercaya memimpin KONI. Karena fakta itulah dirinya meminta kepada seluruh peserta Rakernas untuk tidak segan-segan terbuka berkomunikasi dengan dirinya maupun dengan KONI Pusat. Apalagi jika berkaitan dengan masalah transformasi pengetahuan, koordinasi, bahkan jika terkait adanya perbedaan pendapat diantara para pengurus TI Propinsi yang berkaitan dengan domainnya KONI, termasuk yang berhubungan dengan masalah program dan bantuan anggaran. Dipastikan Ketua KONI akan membantu menfasilitasi di tiap KONIDA yang terdapat diseluruh propinsi dan kabupaten.

Dalam arahannya, Ketua Umum KONI Pusat juga mengungkapkan bahwa jelang PON XX di Papua, hingga kini masih banyak permasalahan yang memerlukan penanganan yang lebih fokus. Bukan saja terkait dengan masalah kesiapan sarana dan prasarana, tapi juga masalah kebijakan dan kesiapan anggaran. Karena faktor itulah akhirnya berdampak pada keputusan pemerintah yang memutuskan dari 47 cabor yang dipertandingkan menjadi hanya 37 cabor dengan justifikasi alasan yang utama adalah keikutsertaan cabor melihat dari sisi olahraga Olimpik dan cabang olahraga yang memiliki prestasi internasional. sedangkan 10 cabor terkena rasionalisasi. Yakni balap sepeda, tenis meja, bridge, gateball, ski air, bowling, dansa, pentaque, woodball, serta soft tenis. Namun dengan pertimbangan karena cabor-cabor tersebut sudah mengeluarkan dana besar dan persiapan panjang untuk pelatnas, maka Ketua Umum KONI memandang perlu ke 10 cabor tersebut harus diakomodir dan tetap bisa dipertandingkan. Walaupun tidak di Papua. Salah satu daerah yang menyatakan siap adalah Jawa Timur. Namun Keputusan ini menurutnya masih terus dalam pengkajian dan masih berlangsung (belum final).

Dari fakta empiris apa yang disampaikan oleh Bapak Marciano Norman tersebut, tergambar jelas bahwa penekanan Bapak Marciano terhadap cabor Taekwondo adalah meminta cabor ini membuktikan bahwa taekwondo adalah cabor yang memiliki prestasi internasional dan layak menjadi cabor olimpik yang diprioritaskan untuk mendayagunakan program pembinaan dan pengembangan prestasi dalam jangka panjang yang nantinya didukung penuh pemerintah. Salah satu pembuktian tersebut adalah menciptakan Regenerasi atlet.  Regenerasi atlet menurut Bapak Marciano Norman adalah jalan paling tepat untuk menyatakan apakah program pembinaan dan pengembangan prestasi itu berjalan dengan baik.

“Saya melihat atlet pelatnas saat ini yang masih diisi oleh Renaldy, Mariska dan lain-lain adalah termasuk atlet yang sudah lama berada di pelatnas dan prestasinya juga semakin fluktuatif, seiring dengan siklus penampilan terbaiknya. Dan kondisi inilah yang harus dipahami oleh Pengurus Besar dan disupport oleh Pengurus Propinsi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab memproduksi atlet didaerahnya masing-masing. Itu yang disebut sinergitas.” Ujar Marciano Norman.

Dalam konteks ini Ketua Umum KONI meminta agar Pengprov TI di seluruh Indonesia, melakukan banyak terobosan yang efektif untuk menciptakan regenerasi atlet. Pengurus di tingkat propinsi harus mampu mengidentifikasi dan mencetak atlet yang berkualitas dan mengikutsertakannya dalam program pembinaan dan pengembangan prestasi jangka panjang, sambil mengikuti berbagai kompetisi yang produktif demi tercapai prestasi yang terus meningkat hingga dirinya layak bersaing secara kompetitif menjadi atlet pelatnas.  

“Organisasi yang solid dan efektif dengan tata kelola yang baik pasti dapat mencetak regenerasi atlet berprestasi. Dan sebaliknya organisasi yang tidak mampu atau gagal mencetak regenerasi atlet, itu merupakan indikator bahwa organisasi tersebut gagal menata kelola organisasinya dengan baik.” Tegas Bapak Marciano Norman. 

 

Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) sukses menggelar Rapat Kerja Nasional Tahun 2020 di Hotel Panisula, Jakarta 28/1.

Rakernas diikuti oleh 34 Pengurus Propinsi (Pengprov) Taekwondo se-Indonesia. Selain Pengurus Propinsi, Rakernas kali ini juga istimewa karena dihadiri oleh para senior dan para mantan dewan guru serta sejumlah narasumber dari kemenpora, KONI, Bapenas dan Kementrian Keuangan.

Menurut Ketua Umum PBTI Letjen TNI (Purn) H. Thamrin Marzuki, pelaksanaan Rakernas ini telah sesuai dengan Pasal 22 dan Pasal 26 Anggaran Dasar, bahwa rapat kerja nasional ini wajib diselenggarakan minimal dalam satu kali masa kepengurusan. Namun, menurutnya tidak menutup kemungkinan karena melihat perspektif kebutuhan dan komunikasi organisasi, maka penting rasanya jika memungkinkan Rakernas menjadi agenda rutin setiap tahun. 

“ Saya melihat begitu tinggi dan cepatnya dinamika dan perkembangan olahraga ini, yang membutuhkan kerjasama dan komitmen serta adjustment bersama antara PBTI dengan Pengprov terkait dengan kebijakan dan program kerja yang dijalankan PBTI - yang tentunya, semuanya itu tidak akan efektif dilaksanakan, jika tidak mendapat support dari para pengurus propinsi diseluruh Indonesia. Dan jika dibutuhkan untuk menjawab tantangan tersebut dibutuhkan sinergi program dan evaluasi yang terencana, berjenjang dan kontinyu, mungkin saja Rakernas kita lakukan setiap tahun. Tegas Bapak Thamrin Marzuki ketika membacakan amanah sambutannya  saat membuka Rakernas”.

Ditambahkan Ketua Umum PBTI, selain pentingnya Rakernas sebagai bagian dari amanah yang disematkan kepada PBTI dalam rangka menginformasikan, sekaligus mensosialisasikan program kerja agar sinergis dengan program kerja Pengprov TI, Rakernas juga penting sebagai evaluasi terhadap hasil pencapaian program kerja yang telah dijalankan di dalam satu masa kepengurusan.

Oleh karenanya, menurut Ketua Umum PBTI, momentum rakernas ini menjadi sangat bermakna karena nantinya dapat dijadikan sebagai acuan strategis antara PBTI dan Pengurus Propinsi yang membutuhkan persepsi yang sama dalam memandang arah, prioritas tantangan program pembinaan dan pengembangan prestasi taekwondo Indonesia sesuai dengan amanah musyawarah nasional yang diagendakan kepada kepengurusan ini.  Dengan begitu, menurutnya hasil Rakernas ini, akan menjadi bagian dari perjalanan tata kelola organisasi dalam rangka menjaga komitmen soliditas dan sinergi  organisasi antara PBTI dengan seluruh Pengprov TI.

“ Saya berharap melalui Rakernas kali ini, sinergitas dan kolaborasi konstruktif tersebut, dapat terus terjaga dengan baik, guna mewujudkan peningkatan eksistensi, reputasi dan utamanya prestasi taekwondo Indonesia dalam masa kepengurusan PBTI di periode 2019 – 2023 ini” Terang Bapak Thamrin.

Salah satu rangkaian pelaksanaan Rakernas TI Tahun 2020 ini adalah hadirnya beberapa narasumber yang mewakili institusi, yakni Direktur Keluarga, perempuan,  anak pemuda dan olahraga Bapenas. Ibu Woro Siiti Nastuti, ST, MIDS, Deputi Bidang Peningktan prestasi Kemenpora Drs. Chandra Bhakti, MSi, Staf Ahli KONI Bidang Bela diri,  Drs. Syamsudin Burhani, dan KAsubdit Anggaran Bidang Pendidikan dan Kepemudaan (PMK) Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, yang disampaikan oleh Drs. Sudadi, MM dan Syahrul, SE, MSi.

Menurut Ketua Pelaksana, Kolonel Inf. Ruminta, kehadiran seluruh narasumber tersebut tujuannya adalah agar peserta Rakernas mendapat pembekalan berupa pengetahuan, sekaligus masukan mengenai arah dan sasaran program pemerintah. Khususnya terkait dengan prestasi olahraga dan kebutuhan serta tata kelola anggaran yang dilaksanakan oleh setiap cabang olahraga. 

“ Dengan hadirnya institusi atau lembaga pemerintah tadi, diharapkan PBTI dan Pengprov di seluruh Indonesia memiliki pandangan yang integratif mengenai komitmen stakeholders (Kemenpora, Bapenas, KONI dan Kemenkeu) itu dalam memberikan arah dan tugas kepada kita selaku pengurus. Utamanya agar kita mampu merumuskan dan mengimplementasikan arah dan target pembinaan, pengembangan dan prestasi olahraga (dalam hal ini cabor taekwondo) sesuai dengan prinsip dan tata kelola organisasi. Yakni  akuntabel dan professional, efektif dan efisien serta sesuai dengan format garis kebijakan pemerintah dan induk organisasi olahraga.”

Terbukti penjelasan mereka, mendapat antusiasme tinggi yang akhirnya memberikan kepada peserta selain pengetahuan, juga masukan termasuk rekomendasi terhadap berbagai permasalahan yang selama ini terjadi dan menjadi problem krusial dalam pengelolaan olahraga. Tidak terkecuali yang dialami oleh pengurus cabor taekwondo di pusat maupun di daerah.

Dalam Rakernas, juga dipaparkan hasil program dan rencana masing-masing bidang kedepan. Yakni Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres), Bidang Organisasi, dan bidang Pendidikan, Latihan, Penelitian dan Pengembangan (Diklatbang).  Dari hasil paparan tersebut, secara konstruktif, banyak respons, masukan dan hasil evaluasi yang menjadi komitmen bersama antara PBTI dan Pengprov TI yang akan menjadi acuan dalam pelaksanaan program kedepan.

Rakernas kali ini juga menjadi lengkap setelah secara khusus Ketua Umum KONI, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman ikut hadir dan memberikan pembekalan singkat kepada seluruh peserta. Seperti diketahui, Bapak Marciano Norman sebelum menjabat sebagai Ketua Umum KONI, beliau adalah ketua  Umum PBTI dua periode, yakni periode 2011 – 2015 dan 2015 – 2019.

Salah satu amanah penting yang diberikan oleh Ketua Umum KONI adalah beliau meminta seluruh elemen pengurus, baik di Pusat dan seluruh daerah untuk menjaga soliditas organisasi. Hal tersebut mendapat penekanan penting karena menurutnya, tantangan mengelola organisasi dengan dinamika yang begitu tinggi tidaklah mudah. Menurutnya, dibutuhkan konsistensi, keterpaduan dan soliditas antar pengurus. Tanpa hal itu, menurutnya sulit taekwondo Indonesia bisa  memproduksi sumber daya atlet yang maksimal dan berkualitas dalam jangka panjang.  

Rakernas ditutup oleh Ketua Umum PBTI. Selain memberikan penekanan terkait hasil yang dicapai dalam Rakernas, Ketua Umum PBTI juga mengapresiasi atas berbagai pemikiran dan partisipasi kehadiran para pengurus propinsi di acara ini. Dirinya berharap semoga budaya konstruktivitas berorganisasi yang berisi saling mengevaluasi terus terjalin dan menjadi sinergi yang baik antara PBTI dengan Pengurus Propinsi di seluruh Indonesia.

Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) melaksanakan seleksi atlet nasional (seleknas) untuk mengikuti ajang kualifikasi olimpiade yang akan berlangsung di China 10 - 12 April 2020 mendatang. Seleknas dilaksanakan di GOR POPKI Cibubur Jakarta Timur (19/1) yang diikuti sebanyak 21 atlet dari berbagai daerah, yaitu : Muhammad Bassam Raihan (DKI Jakarta), Khaerullah (Jawa Barat), Farel Patra Syafullah (Jambi),   Sonifacius Angky (Maluku), Jalu Aruna K (Jawa Timur), Marstio Embran (Sumatra Barat), Ilham Ramadhan (Kalimantan Utara), Dewa Gede Tri Dharmadita (Bali), Ibrahim Zarman (Riau), Adam Yazid Ferdiyan (Jawa Barat), Muhammad Rizaldi (Jawa Barat), Chaerul Adzam (Kalimantan Utara), Kenny Rafael (DKI Jakarta), Mariska Halinda (Kalimantan Timur), Megawati Tamesti Mahesuci (Jawa Barat), Diaputri Ananda Lubay (DKI Jakarta), Aqila Aulia Ramadhani (Jawa Barat), Novrika Kusuma Ramadhanti (Banten), Jihan Lutfhi Angely (Banten), Putu Desya Srinadi Putri (Bali) dan Azhari Rieska Ramadhanti (Banten).

Seleknas dilakukan dengan sistem setengah kompetisi yang memaksa seluruh atlet dikelas yang sama untuk saling bertemu (bertarung). Sebelum digelarnya seleknas, beberapa hari sebelumnya para atlet juga telah melaksanakan serangkaian test yang menjadi bagian integral dari syarat penilaian akhir seleknas ini. Serangkaian test tersebut meliputi psikotest, physical test, dan tes kesehatan.

Menurut Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBTI, Yefi Triaji,  Pemanggilan para atlet untuk mengikuti seleknas tersebut didasari atas kriteria pencapaian prestasi atlet yang bersangkutan.

“Secara spesifik mereka yang mengikuti seleknas selain merupakan atlet pelatnas, mereka adalah peraih emas dan perak di kejurnas 2017 dan pra PON 2019 yang lalu. Selain itu, keputusan pemanggilan juga berdasarkan hasil pemantauan dan analisis tim talent scouting yang merekomendasikan hasil identifikasi bakat dan prestasi  atlet di kejuaraan-kejuaraan taekwondo  kepada bidang pembinaan prestasi PBTI.” Ujar Yefi.

Seleknas kali ini disaksikan langsung oleh Ketua Umum PBTI Letjen TNI (Purn) H. M. Thamrin Marzuki, wakil Ketua Umum I Irjen Pol (Purn) Drs. Syafrizal Achyar, MM, Waketum II Brigjen TNI (Purn) H. Noor Fadjari, ST dan beserta seluruh jajaran pengurus lainnya. Dalam amanahnya, beliau menyampaikan bahwa para atlet yang mengikuti seleknas adalah mereka yang terbaik dari daerahnya masing-masing. Menurutnya, PBTI memiliki parameter sesuai standard untuk menentukan kelayakan para atlet yang akan mengikuti kualifikasi  olimpiade.

“Dengan sistem seleknas yang obyektif, transparan dan kompetitif ini, diharapkan terpilih atlet yang akan lolos kualifikasi dan selanjutnya bisa mewakili Indonesia di pentas olimpiade Tokyo 2020 nanti. Untuk itu, kami minta seluruh atlet menunjukkan kapasitas terbaiknya dengan penuh semangat dan mengeluarkan kemampuan maksimalnya agar bisa terpilih mewakili daerah, dan selanjutnya mengikuti serangkaian pemusatan latihan nasional (pelatnas) guna persiapan mewakili tim nasional taekwondo Indonesia menuju ajang kejuaraan kualifikasi olimpiade nanti.” Pesan Bapak Thamrin Marzuki kepada seluruh atlet.

Dari hasil seleknas kali ini, PBTI memutuskan delapan atlet dari empat kelas (dua kelas putra dan dua kelas putri) untuk mengikuti pelatnas menuju persiapan kualifikasi olimpiade.  Keputusan memilih delapan atlet tersebut dipaparkan dan didiskusikan langsung dihadapan Ketua Umum PBTI, wakil ketua Umum PBTI, Binpres, Komisi Iptek dan Sport Science Dr. Bagus Sulistyo, Sp.Kj.M.Kes,  tim Talent Scouting, pelatih Pelatnas dan Konsultan Teknis Pelatnas Mr. Oh Il Nam.  Hasil penilaian dilakukan sesuai dengan validitas dan fakta hasil evaluasi tim mengenai kelayakan atlet yang didasarkan atas hasil pertandingan (seleknas), hasil penilaian intelegensia berdasarkan parameter psikotest dan hasil test kesehatan atlet.   

Kedelapan atlet yang lolos seleknas tersebut adalah Mariska Halinda dan Aqila Aulia Ramadhani di kelas 49 kg putri, Jihan Luthfi Angely dan Putu Desya dikelas 57 Kg Putri, Muhammad Bassam dan Farel Patra dikelas  58 Kg Putra, Ibrahim Zarman dan Adam Yazid dikelas 68 Kg putra.

Dari delapan atlet terbaik yang lolos seleknas ini, nantinya akan dipilih empat atlet yang akan mengikuti kualifikasi olimpiade di China 10 – 12 April 2020 mendatang. Untuk menuju kualifikasi olimpiade tersebut, Kabid Binpres PBTI menjelaskan bahwa selanjutnya para atlet akan mengikuti rangkaian uji coba dalam bentuk try in dengan timnas Korea Selatan dan mengikuti kejuaraan Asia yang akan berlangsung di Libanon 5 – 7 Maret 2020.

Kabid Binpres PBTI, Yefi Triaji  optimis, dengan melihat hasil seleknas kali ini, harapan taekwondo Indonesia untuk lolos kualifikasi olimpiade masih terbuka lebar. Untuk itu dirinya berharap rencana program yang sudah disusun dan dipersiapkan menuju kearah sana, dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Sebab dirinya menyadari bahwa seluruh pihak sangat berkepentingan untuk sinergis mensukseskan program atlet tersebut. Bukan cuma PBTI sebagai induk cabang olahraga, tapi juga ada instansi lain yang terlibat, khususnya kemenpora, KONI dan KOI.

Cabor taekwondo menyumbang 2 medali perak dan 8 perunggu di ajang Sea Games 2019 yang berlangsung di Ninoy Stadium kawasan Rizal Memorial Sport Complex. Dihari ketiga (9/12) cabor taekwondo meraih 2 medali perak yang disumbang oleh Reinaldy Atmanegara yang bertarung di kelas U 54 Kg putra dan Mariska Halinda yang tampil di kelas U – 53 Kg putri

Dengan demikian, selama 3 hari perhelatan Sea Games 2019, cabor taekwondo yang digelar dari tanggal 7 Desember 2019 lalu, total timnas taekwondo Indonesia berhasil meraih 2 perak dan 8 perunggu. Dihari pertama timnas meraih 5 medali perunggu di sumbang dari nomor poomsae (jurus) dan dihari kedua sebanyak 2 medali perunggu diraih di nomor kyorugi. Hari ini (9/12) timnas meraih 2 perak juga dari nomor kyorugi.

Di hari terakhir ini, Reinaldy Atmanegara tampil meyakinkan dengan mengalahkan lawan-lawannya dibabak penyisihan dengan skor cukup telak. Taekwondoin asal Jawa Tengah tersebut, di babak awal berhasil mengalahkan taekwondoin Kamboja Mean Sophor dengan skor 31 : 13. Dibabak selanjutnya Reynaldi mengalahkan taekwondoin asal Timor Leste dengan skor 32 : 5. Namun di final Reinaldy harus mengakui keunggulan taewondoin tuan rumah Filipina, Barbosa Kur dengan skor 26 : 10 dan harus puas dengan medali perak.

Mariska Halinda juga sukses mencapai final setelah dibabak penyisihan mengalahkan taekwondoin asal Myanmar dengan skor 30 : 3. Dibabak selanjutkan, Mariska berhasil menundukkan taekwondoin asal Filipna. Namun di final, Mariska gagal mempertahankan emas yang diraihnya di Sea Games Malaysia dua tahun lalu karena dikalahkan taekwondo asal Vietnam dengan skor 8 : 26.

Selain Reinaldy dan Mariska, di hari ketiga ini, sebenarnya Indonesia tampil dengan beberapa atlet kyorugi lainnya, namun semuanya gagal. Peraih medali emas Sea Games Malaysia 2017 lalu, Ibrahim Zarman yang tampil dikelas U – 63 Kg kg, gagal mempertahankan gelarnya. Padahal dibabak awal taekwondoin asal Riau tersebut lolos dengan mengalahkan taekwondoin asal Kamboja Chun Soklo dengan skor 16 : 13. Namun di babak selanjutnya Ibrahim harus kalah dari taekwondoin asal Vietnam dengan skor tipis 12 : 13.

Aqila Ramadhani di kelas U-49 Kg Putri yang berhadapan dengan taekwondoin Wongpanattanakit Fanipak juga gagal melangkah ke babak selanjutnya. Melawan taekwondo asal Thailand, Aqila gagal dengan skor cukup telak. Bahkan kegagalan aqila banyak mendapat tanda tanya besar sebab dirinya kalah tanpa satu point pun, yakni dengan skor 0 : 36. Selain Aqila, taekwondoin lainnya yakni Muhammad Bassam yang tampil di  kelas U-58 Kg juga sebenarnya tampil luar biasa. Dibabak penyisihan, Basam berhasil mengalahkan taekwondoin asal Laos dengan skor telak 42 : 20, namun di babak selanjutnya dirinya gagal mengalahkan taekwondoin asal Singapura. Bassam kalah dengan skor 24 : 35 dan harus puas mendapatkan perunggu. Atlet lainnya, Ni kadek Prikasih yang tampil, di kelas U – 46 kg juga gagal di babak awal karena dikalahkan taekwondoin tuan rumah  Grace Vero dengan skor 23 : 10. 

Dengan hasil ini, berarti taekwondo Indonesia belum mampu mencapai target 2 emas. Dan hasil ini belum mampu dipertahankan dari Sea Games sebelumnya yang berlangsung di Malaysia 2017 lalu. Dimana saat itu, timnas Taekwondo Indonesia dapat meraih 2 emas, 3 perak  dan 4 perunggu. Emas waktu itu diraih dinomor kyorugi atas nama atlet Mariska Halinda (U-53 Kg putri) dan Ibrahim Zarman (U-63 Kg putra). Perak direbut atas nama Maulana Haidir (poomsae perorangan putra), Dinggo Ardian Prasyogo (U-74 Kg putra) dan Shaleha Fitriana Yusuf (U-62 Kg putri). Sedangkan perunggu diraih oleh Reinaldy Atmanegara (U-54 Kg Putra), Dhean Titania Fazrin (U-62 Kg putri), Maulana Haidir, Abdurahman Wahyu, M. Alfi Kusuma (poomsae beregu putra) dan Defia Rosmaniar, Ruhil, Mutiara Habiba (poomsae beregu putri)

Terkait dengan hasil di Sea Games 2019 Manila ini, Manajer taekwondo Indonesia  yang juga merupakan Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) Yefi Triaji mengatakan bahwa, timnas taekwondo Indonesia sudah berjuang dengan sekuat tenaga untuk meraih hasil terbaik. Dirinya tetap mengapresiasi perjuangan para atlet dan seluruh tim pendukung lainnya yang sejak awal membantu lancarnya seluruh proses perjuangan timnas taekwondo Indonesia hingga berakhirnya Sea Games 2019 ini.

Namun dirinya mengakui bahwa penampilan timnas taekwondo Indonesia memang banyak yang harus diperbaiki. Ada banyak faktor masalah, baik teknis maupun non teknis, dan secara komprehensif semuanya sudah kita identifikasi dan analisa secara obyektif untuk selanjutnya kita laporkan kepada Ketua Umum dan akan kita evaluasi dan tindaklanjuti hasilnya.   

“Oleh karenanya, setelah Sea Games ini, kita akan segera melakukan evaluasi total. Berbagai masukan, saran bahkan kritik konstruktif akan PBTI akomodir untuk kemajuan prestasi taekwondo Indonesia kedepan.” Ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum PBTI Letjen TNI (Purn) H. Thamrin Marzuki mengucapkan selamat atas perjuangan seluruh tim yang sudah dengan penuh semangat mengeluarkan segala kemampuannya untuk mengharumkan nama bangsa dan negara.

“Kalah dan menang itu biasa, namun segala kekurangan wajib kita evaluasi untuk bekal kemajuan kita kedepan.” Terang Bapak Thamrin.

Sekembalinya ke tanah air, Ketua Umum akan segera meminta laporan dari manajer tim tentang segala aspek yang akan menjadi bahan evaluasi. Beliau juga berpesan secara khusus kepada para atlet yang baru kali ini tampil di Sea Games, dan masih minim pengalaman internasional, bahwasanya apa yang dicapai di Sea Games kali ini merupakan pengalaman berharga dan harus menjadi pelajaran berharga pula untuk makin meningkatkan potensi dan kemampuannya di masa depan.

 

 

Cabor Taekwondo Sea Games 2019, Manila Filipina, Indonesia menambah dua medali perunggu dari taekwondoin Rizky Anugrah Prasetyo yang bertanding di kelas Heavy yakni Over 87 kg dan Shaleha Yusuf yang bertanding di kelas U 62. Seperti yang sudah diduga sebelumnya bahwa kedua taekwondoin Indonesia tersebut terbuka peluangnya meraih medali karena jika menang di babak awal, di babak berikutnya dipastikan medali perunggu sudah dapat diraih karena langsung masuk di babak semifinal. Namun keduanya gagal menembus final karena kalah dari lawan-lawannya.

Rizky Anugrah Prasetyo dikalahkan oleh atlet Thailand Nattapat Tranmart dengan gap point atau skor cukup telak 22 : 5 dan atlet Thailand tersebut maju ke final. Di final Nattapat akhirnya meraih emas setelah mengalahkan taekwondoin tuan rumah Kristopher Uy dan harus puas dengan medali perak. Semenetara Saleha, dibabak awal sempat mengalahkan taekwondoin asal negara Malaysia Nurul Farah Alisa, namun dibabak semifinal dirinya kalah dari taekwondoin asal Kamboja, Cassie Tubbs dan harus puas dengan medali perunggu.  Di kelas ini akhirnya emas diraih atlet asal  Vietnam Pham Thj Thu Hien dengan mengalahkann atlet asal Kamboja yang mengalahkan Saleha, Cassie Tubbs dan dirinya harus puas dengan medali perak.

Taekwondoin Indonesia lainnya, Dinggo Ardian Prasbowo yang tampil di kelas Under 74 Kg putra gagal mempersembahkan medali karena  kalah dari atlet tuan rumah Filipina Dave Cea yang akhirnya meraih emas di kelas ini dengan skor cukup telah 23 – 9 setelah mengalahkan atlet asal Thailand Nutthawee Klompong. Atlet Thailand itu sendiri harus puas dengan medali perak. Medali perunggu di kategori ini akhirnya direbut oleh Muhammad Syafiq Zuber dari Malaysia.

Pelatih timnas taekwondo Indonesia Sun Jae Lee, mengatakan bahwa para atlet sudah bertanding dengan segenap kemampuannya. Namun memang lawan lebih baik penampilannya dari tim kita. Ia tidak mau menjelaskan secara teknis kelemahan timnas, namun dirinya sudah menganalisis hasil pertandingan tersebut sebagai bahan evaluasi nanti, dari soal teknik, fisik dan pengalaman bertanding sampai strategi antara lain soal timming, blocking dan lain-lain.

Sementara itu, wasit Internasional asal Indonesia (International Referee) yang bertugas di Sea Games 2019 ini, GM Ina Febriana Sari yang juga menyaksikan jalannya pertandingan cabor taekwondo hari kedua yang mempertandingkan kategori kyorugi ini mengatakan bahwa timnas taekwondo Indonesia  sudah berjuang dan melakukan yang terbaik. Tapi memang menurutnya perkembangan atlet-atlet di wilayah Asia Tenggara perkembangannya sangat pesat. Baik dari segi kemampuan tekniknya maupun ketahanan fisiknya.  

“Secara teknik, timnas taekwondo Indonesia sudah sangat baik. Tapi memang faktor fisik tidak bisa dipungkiri sangat mempengaruhi jalannya pertandingan.” Terang Ina

Selain itu menurutnya, atlet yang berlaga di Sea Games ini rata-rata masih merupakan atlet-atlet senior di negaranya, dan Indonesia mengirimkan atlet yang memang disiapkan untuk jangka panjang. Jam terbang internasional mereka belum banyak dan sangat terlihat dari penampilannya yang tidak keluar maksimal karena faktor mentalitas dan kepercayaan diri mengatasi atmosfir pertandingan. Menurut Ina, faktor inilah yang harus segera diperbaiki dan dirinya yakin pelatih sudah mengetahui faktor ini sebagai salah satu sebab belum berhasilnya para atlet kita. Namun dirinya yakin, khususnya Rizki dan Saleha, mereka potensial untuk terus berkembang sebagai atlet yang bagus.

Dengan tambahan 2 perunggu  di kategori kyorugi (tarung) ini, untuk sementara sampai dengan hari kedua, timnas taekwondo Indonesia sudah mengumpulkan 7 medali perunggu. Sebelumnya di hari pertama 5 perunggu diraih taekwondo Indonesia di nomor Poomsae (Jurus).

Besok akan bertanding Ibrahim Zarman yang tampil di kelas  U – 63 Kg. Ibrahim akan berhadapan dengan atlet asal Kamboja Chuun  Soklong. Selain Ibrahim, akan bertarung Ni kadek Prikasih, di kelas U – 46.  Ni kadek akan menghadapi atlet asal Filiphina, Reinaldy Atmanegara di kelas U 54 Kg, Aqila Ramadhani di kelas U 49 Kg Putri yang akan berhadapan dengan atlet asal Thailand Wongpanattanakit Fanipak. Jika Aqila menang, maka dipastikan perunggu sudah dapat diraih karena langsung berada di Semifinal. Sementara itu peluang besar untuk meraih medali juga berada pada atlet Mariska Halinda yang bertarung dikelas U 53 Kg putri, Dirinya akan berhadapan dengan taekwondoin asal Myanmar Kyaw Su Myat Sandi.

 

 

Hari pertama cabor taekwondo Sea Games 2019, Manila Filipina, timnas taekwondo Indonesia meraih 5 medali perunggu di nomor poomsae (jurus).  Bertanding di Ninoy Aquino Stadium, kawasan Rizal Memorial Sport Complex, kelima perunggu tersebut diraih oleh Rahmania Gunawan Putri di kategori Individual putri. Emas di kategori ini diraih oleh atlet tuan rumah Filipina Ninobla Jocel Lyn , dan perak di rebut oleh atlet asal Thailand Srisahakit Ornawee.

Perunggu kedua diraih dari kategori Recognize poomsae mix pair atas nama I Kadek Dwipayana dan Defia Rosmaniar. Di kategori ini emas diraih pasangan dari Malaysia dan perak diraih pasangan tuan rumah Perunggu ketiga diraih dari kategori Recognize poomsae team putri atas nama Defia Rosmaniar, Ruhil dan Rahmania Gunawan Putri. Di kategori tersebut emas di raih oleh tim Thailand dan perak diraih oleh tim tuan rumah.  Medali perunggu ke empat di rebut dari kategori Freestyle Poomsae Individual putra atas nama Wawan Saputra. Wawan kalah dari atlet tuan rumah yang meraih emas Domigues Jeordan, dan medali perak diraih oleh atlet asal Vietnam Nguyen Ngoc Minhy.  Adapun medali perunggu kelima di raih di kategori Freestyle Poomsae Mixed Team yang terdiri dari Wawan Saputra, Abdul Rahman Darwin, Muhammad Ibnu, Melinda Evelyna dan Ruhil. Emas di kategori ini direbut oleh atlet asal Myanmar dan perak diraih atlet asal Philipina.

Raihan 5 medali perunggu ini menandai paceklik emas di nomor poomsae sejak Sea Games 2011 di Jakarta.  Sejak saat itu di perhelatan Sea Games, baik di Myanmar, Singapura dan di Malaysia, timnas taekwondo poomsae, praktis tidak pernah lagi merebut emas.

Menurut pelatih Poomsae Indonesia, Maulana Haidir, dirinya mengapresiasi perjuangan para atlet. Raihan 5 medali perunggu yang disumbangkan oleh timnas taekwondo adalah pencapaian maksimal, walaupun menurutnya ada yang diluar ekspektasi. Beberapa nomor memang diakuinya sangat ketat dan kompetitif. Walaupun dalam latihan timnas bisa lebih baik dari penampilannya saat bertanding, akan tetapi diakuinya faktor pengalaman menjadi catatan penting dari hasil yang dicapai

“Seperti diketahui, sebagiaan besar atlet poomsae  kita adalah muka baru. Dan harus diakui penampilan tim kita sudah bagus, Cuma faktor non teknis yang menyebabkan tidak tercapainya target yang diinginkan. Padahal setidaknya kita bisa merebut satu medali emas di nomor ini.” Ujar Maulana.

Selain itu, menurut Maulana, harus diakui memang seperti dugaan para praktisi taekwondo Indonesia sebelumnya, bahwa untuk kategori poomsae memang sulit untuk menembus emas, karena menurutnya, selain kesiapan fisik, mental dan pengalaman bertanding, faktor non teknis yang kerap menjadi kontroversi di setiap Sea Games diakuinya terus terjadi.  Sea Games kali ini dirinya melihat dari perspektifnya bahwa Wawan Saputra, yang tampil di kategori individual free style, layak mendapatkan emas. Namun apa daya penilaian wasit di kategori memang mutlak harus dihormatinya.

“Walaupun secara kualitatif kita bisa menilai hasil presentasi para atlet, namun hasilnya, tetap diluar ekspektasi. Apalagi berkaitan dengan masalah tuan rumah, memang sulit menembus faktor itu.” Terang Maulana.

Namun Maulana (biasa disapa Nana) mengakui bahwa faktor tuan rumah hanyalah sebagian dari problem yang harus di evaluasi dari atlet kita. Intinya adalah para atlet harus mampu tampil sempurna, bukan cuma fisik dan teknis, tapi juga mental. Oleh karenanya, setelah ini dirinya akan melakukan telaah dan analisis terkait pencapaian hasil di Sea Games ini, agar kedepan menjadi lebih baik.

Hari ini  hingga esok hari 8 – 9 Desember, Nomor Kyorugi (Tarung) di pertandingkan. Di nomor ini timnas taekwondo Indonesia berharap ada hasil maksimal berupa raihan emas khususnya dari juara bertahan, yakni Mariska Halinda, Ibrahim Zarman dan Reinaldy Atmanegara.

Hari ini (8/12) akan tampil Dinggo Ardian Prasbowo di kelas Under 74 Kg putra, Rizky Anugrah Prasetyo di kelas Heavy yakni Over 87 kg.  Akan tampil pula  Shaleha Yusuf di kelas U 62 yang akan bertarung melawan atlet asal Malaysia yang bernama Nurul Farah Alisa. JIka Shaleha lolos menghadapi atlet asal Malaysia tersebut, maka yang bersangkutran langsung masuk babak Semifinal. Di tanggal yang sama atlet yang bernama Rizky Prasetyo juga akan tampil di kelas Over 87 Kg. Peluang Rizki juga sangat besar karena pertarungan keduanya sudah berada langsung di fase semifinal.

Esoknya (9/12), akan bertanding Ibrahim Zarman yang tampil di kelas  U – 63 Kg. Ibrahim akan berhadapan dengan atlet asal Kamboja Chuun  Soklong. Selain Ibrahim, akan bertarung Ni kadek Prikasih, di kelas U – 46.  Ni kadek akan menghadapi atlet asal Filiphina, Reinaldy Atmanegara di kelas U 54 Kg, Aqila Ramadhani di kelas U 49 Kg Putri yang akan berhadapan dengan atlet asal Thailand Wongpanattanakit Fanipak. Jika Aqila menang, maka dipastikan perunggu sudah dapat diraih karena langsung berada di Semifinal. Sementara itu peluang besar untuk meraih medali juga berada pada atlet Mariska Halinda yang bertarung dikelas U 53 Kg putri, Dirinya akan berhadapan dengan taekwondoin asal Myanmar Kyaw Su Myat Sandi.

Terkait dengan hasil di nomor poomsae tersebut, Kabid Binpres yang juga manajer tim Yafi Yriaji akan segera melakukan evaluasi. “Kami sudah mengantongi catatan penting dari para pelatih untuk di kaji sebagai bahan evaluasi kita.” Ujar Yefi.

 

Senayan Trade Centre (STC),
Senayan, Lantai 3 No.173B,
Jalan Asia Afrika. Jakarta Selatan
Telp: 021-29407769

Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Cari

Peta Kantor PBTI