Pengurus Besar Taekwondo Indonedia (PBTI) secara sah dan resmi telah mendaftarkan logo organisasinya ke Direktoral Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Departemen Hukum dan HAM pada tanggal 31 Januari 2018 lalu. Keputusan tersebut sesuai dengan formulir pengajuan permohonan Merek dengan nomor HKI-02.HI.06.01 Tahun 2017 pada tanggal 3 Maret 2017.

Mengacu kepada definisi Merek sesuai dengan UU Nomor 20 tahun 2016, dalam Pasal 1 Ayat (1) maka Merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa.

Dalam konteks tersebut diatas, logo PBTI sebagai Merek Kekayaan Intelektual (KI) ini merupakan komitmen legal-formal PBTI sebagai satu-satunya induk cabang olahraga taekwondo dibawah naungan KONI dalam melakukan berbagai aktivitas dan tata kelola organisasi.

PBTI Memahami akan pentingnya hak merek tersebut dalam menjalankan aktivitas dan tata kelola organisasi untuk memberikan jaminan perlindungan terhadap berbagai aktivitas dan tata kelola organisasi yang dijalankan. Dengan demikian, sesuai dengan UU No 20 Tahun 2016 tentang Merek, maka hak merek/ logo yang dimiliki oleh PBTI adalah hak ekslusif yang diberikan negara kepada pemilik merek yang terdaftar dalam Daftar Umum Merek untuk jangka waktu tertentu untuk menggunakan sendiri merek logo tersebut atau dapat memberikan ijin kepada seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk menggunakannya.

Pentingnya logo ini dilegitimasi oleh PBTI dimaksudkan agar pihak-pihak di luar PBTI baik individu maupun pihak yang mengatasnamakan organisasi/ institusi diluar dari PBTI sebagai induk cabang olahraga taekwondo Indonesia tidak melakukan hal-hal atau aktivitas melanggar hukum yang memanfaatkan eksistensi PBTI dengan menggunakan logo atau merek PBTI untuk keuntungan atau kepentingan sepihak. Dan jika hal tersebut terjadi, maka tentu akan berimplikasi secara hukum bagi pihak-pihak yang menggunakannya.

 

Legalitas Merek/Logo PBTI

07 Jun 2018 Written by

Untuk Mendownload Legalitas Merek/Logo PBTI Klik disini 

 

Atlet pelatnas taekwondo Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) akan kembali menjalani pemusatan latihan di Korea Selatan pada pekan ketiga Juni demi persiapan Asian Games 2018. Padahal mereka baru saja tiba kembai ke tanah air usai mengikuti Kejuaraan Asia Taekwondo di Vietnam, Minggu lalu. Namun karena rangkaian pemusatan latihan harus terus berjalan sesuai dengan time table program dan tryout yang sudah dijadwalkan, maka tim harus siap dan fokus kembali jalani semua program tersebut. Demikian hal itu disampaikan Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Rahmi Kurnia, 

"Kami baru saja kembali ke Indonesia setelah mengikuti pelatihan di Korea Selatan sejak April dan Kejuaraan Asia di Vietnam pada 24-28 Mei dengan hasil satu medali emas dan tiga medali perunggu," kata Rahmi. 

Ia mengatakan, sebanyak delapan atlet poomsae dan 11 atlet kyorugi mengikuti pelatihan di Korea Selatan sejak 20 April dan langsung mengikuti Kejuaraan Asia di Vietnam.

"Ada enam atlet poomsae yang sekarang masih berada di Korea Selatan untuk menjalani pelatihan di sana. Dua atlet poomsae kembali ke Tanah Air untuk mengurus visa dan berangkat bersama atlet-atlet kyorugi pada 20 Juni nanti," kata dia.

Atlet-atlet pelatnas taekwondo Merah-Putih itu, lanjut Rahmi akan menjalani pelatihan di Korea Selatan hingga 28 Juli sebelum masa tappering di Indonesia.

"Mereka akan mengikuti kejuaraan terbuka di Korea pada Juli. Khusus untuk atlet-atlet kyorugi, mereka juga akan mengikuti beberapa uji coba tanding di sekolah-sekolah ataupun kampus di Korea," ujarnya.

Jajaran tim pelatih nasional juga optimis optimistis bahwa latihan di Korea Selatan bukan berarti menjadi peluang bagi tim Negeri Ginseng untuk memantau kekuatan tim Indonesia.

"Kami juga akan mengukur kekuatan tim mereka. Meskipun mereka itu unggul, tetap saja punya kelemahan. Kami punya tim analis," ujar dia.

Seperti diketahui,  PBTI menargetkan dua medali emas dalam Asian Games 2018.  Meskipun target yang dipatok Kementerian Pemuda dan Olahraga pada cabang bela diri asal Korea Selatan itu hanya satu medali emas.

"Pada disiplin kyorugi, atlet-atlet kami memang belum punya catatan penampilan. Kami masih optimistis dan berharap mereka dapat masuk putaran final Asian Games," kata Kurnia.

Sementara pada disiplin poomsae, PB PBTI mengaku punya peluang pada nomor individu putra ataupun individu putri.

 

 

Taekwondoin putri Indonesia Mariska Halinda berhasil meraih medali perunggu di hari ketiga ajang Asian Taekwondo Championship yang berlangsung di Ho Chi Minh, Vietnam 27/5. Tampil di kategori Kyorugi kelas U-53 Kg Putri, sayang Mariska terhenti langkahnya di semifinal oleh taekwondoin asal Thailand dengan skor 6 – 17.

Terkait dengan hasil tersebut, untuk sementara hingga hari ketiga kejuaraan ini berlangsung, timnas taekwondo Indonesia telah berhasil mengumpulkan 1 medali emas dan 3 medali perunggu. Di hari sebelumnya timnas taekwondo Indonesia telah berhasil meraih medali emas yang diperoleh Defia Rosmaniar dikategori individual Poomsae putri dan kategori pair poomsae yang berpasangan dengan Muhammad Abdurahmman Wahyu. Sementara satu perunggu lagi juga diraih oleh Dhean di kategori Kyorugi kelas U – 49 Kg putri.

Menurut Manajer timnas taekwondo Indonesia Rahmi Kurnia, Mariska Halinda adalah salah satu atlet yang diharapkan dapat merebut medali di Asian Games, Agustus mendatang. Dikatakan Rahmi, sejak yang bersangkutan meraih emas Sea Games 2017 dan berhasil merebut emas di Invitation Tournament (Test Event) Asian Games Januari lalu, grafik penampilan Mariska terus meningkat. baik dari segi kualitas teknik maupun dari segi ketahanan fisiknya. Namun memang kelas U-53 ini adalah kelas yang termasuk paling ketat dan sangat kompetitif persaingannya.

Namun demikian, Rahmi menilai penampilan Mariska sudah cukup baik. Kekalahan Mariska terlihat dari segi ketepatan timing baik ketika saat menyerang maupun ketika melakukan counter menghadapi serangan lawan.

“Mariska tampil sudah bagus. Namun memang dilapangan, apapun bisa terjadi. Banyak faktor yang menentukan, termasuk diantaranya positioning dan suasana atmosfir pertandingan yang dialami atlet, juga strategi yang diterapkan pelatih dilapangan.” Ujar Rahmi yang juga menjabat Kabid Binpress PBTI itu.

Sementara itu, terkait dengan hasil yang dicapai di kejuaraan Asia ini, Mariska menyatakan bahwa dirinya sudah tampil maksimal, namun memang lawan yang dihadapi penampilannya lebih prima dari dirinya.

“Saya akan evaluasi diri, dan Bersama pelatih akan menganalisa hasil rekaman seluruh pertandingan yang saya ikuti dan terutama dengan lawan-lawan yang kemungkinan akan saya hadapi juga nanti di Asian Games.” Terang atlet yang diperhelatan Asian Games di Jakarta – Palembang Agustus mendatang, merupakan kali kedua bagi dirinya mengikuti pesta olahraga terbesar Asia itu. Sebelumnya Mariska pernah tampil di Asian Games 2014. Namun, saat itu Mariska belum bisa menyumbangkan medali bagi timnas taekwondo Indonesia

"Semoga disisa waktu ini, semua kekurangan saya bisa dibenahi. Apalagi peta kekuatan di kelas U-53 ini sudah sangat merata. Mungkin yang terberat Korea dan Thailand. Tapi dengan kita menjadi tuan rumah menjadi motivasi tersendiri buat saya untuk tampil kebih maksimal," tambah Mariska.

Dihari ketiga kejuaraan taekwondo Asia yang berlangsung di Ho Chi Minh City,Vietnam itu, selain Mariska juga tampil atlet taekwondo Indonesia lainnya. Namun mereka belum berhasil mencapai hasil maksimal. Ibrahim Zarman yang turun di kjela U-63 Kg putra kalah di babak penyisihan dari taekwondoin Mongolia. Shaleha F yang tampil di kelas U-63 Kg dan Nanda putri yang tampil dikelas U-57 putri juga gagal di babak penyisihan melawan taekwondoin asal Macau dan Tajikistan.


Timnas taekwondo Indonesia mencatatkan sejarah di kejuaraan Asia Taekwondo yang berlangsung di Ho Chi Minh, Vietnam 24 – 28 Mei 2018.  Sampai dengan hari kedua dan saat berita ini diturunkan,  timnas taekwondo Indonesia telah berhasil meraih 1 medali emas dan dua perunggu. Medali emas diraih oleh Defia Rosmaniar yang berlaga di nomor individual Poomsae putri.  Di nomor tersebut, Defia memperagakan jurus Pyongwon dan Bigak dengan power dan jurus nyaris sempurna.  Medali perunggu diraih juga oleh Defia yang berpasangan dengan Muhammad Abdurahmman Wahyu di kategori Pair Poomsae. Sementara satu perunggu lagi diraih oleh Dhean di kategori Kyorugi kelas U – 49 Kg putri.

Menurut manajer Tim Rahmi Kurnia, keberhasilan Defia meraih emas di kejuaraan tingkat Asia ini merupakan catatan sejarah sekaligus catatan penting untuk  taekwondo Indonesia. Sebab menurutnya, keberhasilan Defia menjadi salah satu tolok ukur taekwondo Indonesia untuk yakin dan optimis mampu merebut medali di ajang Asian Games, Agustus mendatang. Apalagi menurut Rahmi inilah kali pertama timnas taekwondo Indonesia mampu merebut dominasi atlet kelas dunia seperti Korea, Iran dan Thailand yang di ajang ini juga menurunkan tim terbaiknya yang kemungkinan besar akan bertarung di Asian Games nanti.

“Keberhasilan Defia menjadi gambaran bagi kita bahwa diajang yang diikuti oleh tim-tim terbaik Asia ini, menunjukkan bahwa pengembangan skill berupa penajaman teknik disertai dengan latihan yang keras dan intensif yang disupervisi langsung oleh Jincheon Korea National Training Center menampakkan hasil. Dan tentu saja pencapaian dalam bentuk konsistensi performa Defia perlu terus dipertahankan hingga saatnya nanti dirinya bertarung di ajang Asian Games”. Ujar Rahmi.

Rahmi mengungkapkan, di babak penyisihan hingga semifinal, sebenarnya Defia sempat menduduki peringkat ke 6 dari 8 peserta yang masuk final. Hal tersebut terjadi karena Defia sempat melakukan kesalahan. Namun di final, setelah tim melakukan evaluasi, Defia tampil nyaris sempurna dan sangat percaya diri sehingga mampu mengalahkan atlet lainnya, terutama atlet asal Korea, Iran dan Thailand.

Ditambahkan Rahmi, untuk kategori Pair, Defia dan Abdurahmman Wahyu sebenarnya bisa tampil maksimal. Namun karena mereka baru dipasangkan, masih terdapat kendala dalam keserasian gerak dan jurus. Di nomor ini sebenarnya menurut Rahmi Indonesia juga bisa bersaing lebih ketat, karena sebetulnya pasangan Defia adalah M Alfi Kusuma. Namun karena Alfi cidera hamstring, terpaksa Abdurahman Wahyu yang menggantikan. Namun Rahmi menilai hasil yang dicapai oleh keduanya sudah sangat bagus dan kita akan evaluasi terus untuk penerapan strategi di kategori ini.

Secara umum, untuk kategori tim putra dan putri, Indonesia menduduki peringkat ke- 5. Dari hasil ini timnas taekwondo Indonesia akan melakukan berbagai pembenahan di sisa persiapan menuju perhelatan Asian Games nanti.

“Salah satu hal yang mesti menjadi catatan penting evaluasi adalah soal kekompakan dan keserasian di kategori new poomsae. Ini memang sulit, dan salah satu yang menjadi kelemahan tim kita adalah soal gerakan akrobatik saat free style poomsae. Mereka sebenarnya bisa lebih power full, namun masih belum sepenuhnya percaya diri karena keserasian gerak dan ketepatan jurus juga menjadi penilaian utama.” Ujar Rahmi

Sementara tu, menurut Ketua Harian PBTI, Zulkifli Tanjung, keberhasilan timnas taekwondo Indonesia di ajang Asian Taekwondo Championships 2018 ini tentu akan membangkitkan moril, motivasi serta kepercayaan diri bagi para atlet. Karena menurutnya diajang inilah, semua peta kekuatan atlet yang akan bertanding di Asian Games nanti terukur disini. Menurut Zul, Semua negara peserta di kejuaran Asia ini, menjadikan ajang ini sebagai barometer kesiapannya.  Tentu, bagi pelatih dan utamanya bagi atlet akan sangat positif sebagai bahan analisis dan evaluasi mengenai sejauhmana hasil di kejuaraan ini diraih.

“Capaian atlet kita di kejuaraan Asia ini sangat positif dan memberikan momentum strategis bagi atlet dan pelatih untuk mengoptimalisasi penampilan. Prestasi Defia dan atlet lainnya juga sangat berpengaruh bagi mentalitas dan kepercayaan diri mereka. Dan ini harus menjadi bagian penting bagi atlet dan pelatih untuk menjaga penampilan dan menentukan strategi di Asian Games nanti. Intinya, hasil terbaik yang di capai Defia dan atlet lainnya di kejuaraan Asia ini akan menambah optimisme kita untuk bisa memberikan yang terbaik di Asian Games, Agustus nanti.” Terang Zul.

Dihari kedua, selain turun dinomor pair poomsae, timnas taekwondo Indonesia juga turun di nomor kyorugi. Dhean  turun di nomor U 49 Kg putri dan berhasil meraih perunggu, Reynaldi di kelas U-58 Kg putra, Dinggo di kelas U-74 Kg putra,  dan permata yang turun dikelas U-70 Kg putri. Selain Dhean, mereka belum berhasil meraih medali.

 

Pentingnya peran pelatih, instruktur dan tenaga olahraga di Indonesia menjadi perhatian penuh Kemenpora. Mereka adalah ujung tombak pelaku olahraga di Indonesia.

Hal ini disampaikan Menpora Imam Nahrawi saat membuka acara Pelatihan Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan di Albergo Ballroom, Hotel Belleza, Jakarta, Sebin (21/5). Kali ini Kemenpora memberikan pelatihan kepada Pelatih Tingkat Pemula Cabor Taekwondo, Wasit Lisensi B Cabor Bola Basket serta Organisasi Olahraga.

"Bapak dan ibu sebagai ujung tombak pelaku olahraga mengharumkan nama bangsa Indonesia melalui prestasi atlet Indonesia di kancah Internasional. Kehadiran bapak dan ibu di tempat ini dalam rangka meningkatkan kapasitas serta kualitas demi tercapainya misi menggapai prestasi tertinggi untuk dunia keolahragaan Indonesia," ujarnya.

Di tahun olahraga ini, lanjutnya, para pelatih harus betul-betul fokus karena ini tantangan luar biasa. Pada tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games dan Asian Para Games.

"Kami juga berharap kegiatan ini bisa menjadi bagian dari kegiatan road toAsian Games dan Asian Para Games, karena tahun 2018 merupakan tahun olahraga. Indonesia sekali lagi dipercaya untuk menjadi penyelenggara kejuaraan multi event perhelatan olahraga terbesar di Asia yaitu Asian Games di bulan Agustus dan Asian Para Games di bulan Oktober," ucapnya.
Imam mengajak seluruhpeserta turut menyosialisasikan dan mendukung persiapan para atlet nasional yang akan berjuang untuk Asian Games dan Asian Para Games. Ia berharap Asian Games bisa sukses penyelenggraan, sukses administrasi, sukses promosi, sukses secara ekonomi.

"Dan ini kesempatan bagi Jakarta untuk mempromosikan budayanya. Begitu juga para pelatih dapat mempromosikan cabang olahraganya. Di tangan bapak ibu, masa depan olahraga Indonesia di pertaruhkan dan di tangan bapak ibu juga, lagu Indonesia Raya bisa di kumandangan," ujar Imam.

Asdep Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Herman Chaniago melaporkan kegiatan ini merupakan program kegiatan yang ada pada Asdep Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan yang merupakan salah satu kegiatan prioritas. Kegiatan ini merupakan instruksi Menpora dan tindak lanjut dari Presiden untuk meningkatkam jumlah pelatih dan instruktur olahraga di Indonesia.
"Tujuan dilaksanakan kegiatan ini agar para pelaku untuk memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan para pelatih dan instruktur olahraga di Indonesia. Para tenaga keolahragaan memiliki kompetensi sesuai dengan jenjangnya. Untuk para manajemen keolahragaan diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengelolaan agar ke depan mampu mendorong kegiatan prestasi olahraga di daerah," jelasnya.
Acara turut dihadiri pula Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Mulyana, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga H. Ratiyono serta Kepala Bidang Peningkatan Mutu Pelatih dan Instruktur Ahmad Arsani. Peserta yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 215 orang yang terdiri atas pelatih Taekwondo 70 orang, wasit 55 orang dan perwakilan cabor se-DKI 90 orang.

 

 

TIMNAS TAEKWONDOIN

22 Mei 2018
131 times

Media

Pengurus Propinsi Taekwondo Indonesia (Pengprov TI Banten pada tanggal 11 – 12 Mei 2018 menyelenggarakan Pendidikan Kepelatihan (Diklat) Penguji dan Pelatih Daerah. Diklat kali ini diikuti oleh 60 peserta dari seluruh Pengkab/Pengkot Banten, yang dilaksanakan atau bertempat di Badan Diklat Provinsi Banten Pandeglang.

Kegiatan ini dibuka oleh Ketua Harian Pengprov TI Banten Ir Andi Soko dan dihadiri oleh Pengurus dari KONI Banten serta jajaran Pengurus Pengprov TI Banten lainnya. Menurut Ketua Umum TI Banten, Andi Soko mengatakan bahwa pihaknya mengharapkan agar Teaekwondoin Banten lebih berprestasi. Dengan begitu menurutnya akan makin banyak atlet asal Banten yang memberikan kontribusi untuk mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia, baik dikancah nasional maupun internasional.

Sementara itu, dalam sambutannya Sekum TI Banten Fiva Zabreno mengatakan bahwa kegiatan Diklat Penguji dan Pelatih Daerah TI Banten ini dilaksanakan dalam rangka untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas serta profesional para Penguji dan Pelatih Daerah Banten.

Menurut Fiva, diharapkan dengan kegiatan tersebut para Penguji daerah bisa mendampingi penguji Nasional yg ada di Propinsi Banten dalam kegiatan UKT Geup dan pelatih bisa menerapkan ilmunya pada siswa/siswi di Dojang/Pengkab/pengkot masing-masing sesuai metode program kepelatihan.

“Diklat Penguji dan Pelatih Daerah ini adalah bagian dari rangkaian program TI Banten untuk mensinergikan seluruh potensi yang ada dalam rangka fokus persiapan menuju prestasi TI Banten di PON XX Papua 2020 nanti. Harapannya, tentu dengan berbagai materi yang up to date yang diberikan oleh para instruktur, baik penguji maupun pelatih dapat segera mentransformasikannya ke para atlet. dan menjadikan pengetahuan yang baru mereka peroleh tersebut untuk menajamkan kegiatan kepelatihannya di daerah masing-masing dilingkungan Propinsi Banten.” Ujar Fiva

Intruktur atau narasumber kegiatan DIklat kali ini berasal dari Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI), Grand Master TB Indramulia Arie Zuhri, didampingi oleh Sabeum Pino. Ketua komisi perwasitan PBTI itu, menjelaskan dan mensimulasikan banyak hal terkait dengan berbagai aturan terbaru yang diterapkan sesuai dengan rule World Taekwondo.  

Menurut Indra, dirinya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Pengprov TI Banten sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan kualitas Penguji dan pelatih di lingkungan TI Banten. Dirinya berharap dengan terus di agendakannya kegiatan kepelatihan, ia yakin TI Banten akan semakin sukses dalam pembinaan dan pengembangan prestasi taekwondo.

 

Progres peningkatan kualitas atlet Kyorugi Tim Nasional Taekwondo Indonesia makin terlihat pesat. Baik dari segi teknik, penampilan maupun kepercayaan diri mereka. Demikian hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) Letjen TNI (Purn) Marciano Norman yang berkesempatan meninjau langsung perkembangan Pelatnas taekwondo Indonesia di Korea Selatan (10/5).

Ditambahkan Marciano Norman, perkembangan positif kualitas atlet Indonesia itu, tak lepas dari peran dan dukungan oleh tim kepelatihan di  Jincheon Korea National Training Center yang dikelola oleh Kementerian Olahraga Korea Selatan yang berlokasi diluar kota Seoul. Tepatnya Provinsi Chung cheongbuk-do jincheon-gun.

Penanganan khusus oleh tim kepelatihan Korea yang juga menangani timnas Korea Selatan tersebut, tentu memberikan motivasi kuat bagi timnas taekwondo Indonesia dalam rangka menghadapi Asian Games, Agustus mendatang. Apalagi menurut Marciano, para atlet secara intensif diberikan kesempatan berlatih-tanding dengan tim nasional Korea Selatan yang juga diturunkan di ajang Asiang Games nanti.

“Saya melihat baik atlet poomsae yang saya kunjungi beberapa waktu yang lalu ditempat berbeda, maupun atlet Kyorugi disini, ternyata mereka makin baik dari teknik dan mentalitasnya. Apalagi ditambah dengan latih tanding dengan tim nasional Korea Selatan yang juga diturunkan di Asian Games nanti. Hal ini tentu sangat berdampak positif bagi para pelatih dan tentu saja para atlet, karena kita dapat mengukur sejauhmana mereka (tim nasional Korea – red) mempersiapkan diri menghadapi Asian Games nanti.” Ujar Marciano

Marciano juga berharap agar seluruh jajaran tim, baik atlet, pelatih dan seluruh tim official lainnya, menjaga terus momentum positif ini dengan sebaik-baiknya hingga saatnya nanti kita bertanding di Asian Games. Hal tersebut dikarenakan  pemusatan latihan yang berjarak 90 km dari kota Seoul dan berdiri pada September 2017 ini sangat modern dan lengkap dengan berbagai fasilitas kebutuhan seluruh atlet.

“Semua sudah lengkap tersedia disini apapun itu kebutuhan atletnya. Dan tentu ini sangat berharga buat para atlet dalam menimba ilmu dan pengalaman.” Terang Ketua Umum PBTI itu yang didampingi Ketua Harian Zulkifli Tanjung, Sekjen Dirc Richard dan beberapa pengurus lainnya.

Lebih lanjut Marciano mengatakan bahwa evaluasi kinerja pemusatan latihan yang komprehensif harus terus menjadi tolok ukur, agar kita bisa memastikan kesiapan tim nasional taekwondo Indonesia yang dibebani target dua medali emas ini.   

Sementara itu, atlet Kyorugi putri Indonesia, Mariska Halinda yang diandalkan meraih medali di Asian Games nanti mengatakan,  bahwa dirinya sangat memanfaatkan betul pemusatan latihan disini. Hal tersebut menurutnya karena banyaknya sparing partner dengan berbagai karakter atlet yang berbeda-beda. Hal ini menjadikan dirinya bisa terus menimba pengalaman dan mempelajari serta mengevaluasi strategi di pertandingan nanti.

“Soal program dan sistem kepelatihan, baik di Indonesia maupun di Korea ini relatif sama. Namun dengan seringnya kita sparing partner dengan kualitas dan karakter atlet yang berbeda-beda, membuat kita jadi makin memahami bagaimana caranya menerapkan strategi bertanding yang efektif nanti. Hal ini yang tidak kami dapatkan di tanah air.” Ujar Mariska.

Senada dengan Mariska, Atlet Kyougi putra Ibrahim Zarman mengatakan bahwa dirinya bersyukur bisa menimba pengalaman berharga di Korea. Apalagi bersama atlet nasional Korea yang berprestasi di tingkat olimpiade dan dunia.

“Ini sungguh peluang dan kesempatan emas buat saya. Bahkan mungkin ini pengalaman seumur hidup saya. Karena gak gampang berada disini. Dan gak semua negara bisa masuk disini bersama tim nasional Korea”. Ujar Ibrahim

Seperti halnya Mariska, Ibrahim juga membenarkan bahwa kalau dari segi program dan sistem kepelatihan, hampir sama. Yang membedakan hanyalah fasilitas disini yang luar biasa lengkap. Kondisi inilah yang memacu semangat kami timnas untuk berlatih serius dan fokus menjalankan program pemusatan latihan.

Dirinya berharap semoga dengan keberadaan timnas di Korea dan berkesempatan secara rutin melakukan sparing partner dengan timnas Korea, akan memberikan motivasi, semangat sekaligus keyakinan kepada timnas Indonesia bahwa taekwondo Indonesia akan bisa meraih medali di Asian Games nanti.

Seperti diketahui, sebanyak 14 atlet pelatnas Asian Games 2018 ditempa berlatih selama 5 hari di Jincheon Korean National Training Center atau yang dikelola oleh Kementerian Olahraga Korea diluar kota Seoul.  Atlet-atlet tersebut yaitu :

  1. Reinaldy Atmanegara 58 kg
  2. Fauzi Akbar Pamungkas 58
  3. Ibrahim Zarman 63 kg
  4. Muhamad Saleh Alwi mouladawillah 68 kg
  5. Dinggo Ardian Prayogo 68 kg
  6. Lukas budi santoso 80 kg
  7. Rizky Anugrah putranto 87 kg
  8. Nicholas Armanto over 87 kg
  9. Dhean titania Fazrin 49 kg
  10. Mariska Halinda 53 kg
  11. Permata conta nadya 57 kg
  12. Shaleha fitriana yusuf 67 kg
  13. Nanda fernandia  over 67 kg
  14. Delva Rizky. Over 67 kg


Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI), Letjen TNI (Purn) Marciano Norman didampingi Sekjen, Dirc Richard dan Ketua Harian, Zulkifli Tanjung melakukan kunjungan ke Korea selatan pada selasa (08/05) lalu yg bertempat di Seoul. 

Dalam agenda lawatannya di hari pertama, Ketua Umum secara khusus melihat langsung atlet pelatnas poomsae individual putra dan putri (Alfi Kusumah & Defia Rosmaniar) yang dipersiapkan pada ajang Asian Games 2018 di Jakarta Agustus mendatang. Kedua Atlet tersebut sedang melakukan training camp di Gachon university, sekitar 20 KM dari Seoul. Mereka berlatih di korea selama 3 bulan bersama atlet terbaik korea lainnya. 

Marciano berharap, dengan fokus berlatih dan disiplin yang tinggi akan menjadi modal dalam pembentukan kekuatan mental dan tekhnik untuk meraih target medali pada Asian Games 2018

Seperti diketahui cabor Taekwondo sendiri mempertandingkan 14 kelas, 10 kelas kyorugi (tarung) dan 4 kelas poomsae (jurus). Di Asian Games 2018 ini, Target yang dibebankan kepada Cabor taekwondo 1 (satu) medali emas namun PBTI akan berusaha untuk melebihi target yang dibebankan. Kehadiran mantan kepala BIN di negeri ginseng itu diharapkan dapat memberikan motivasi dan semangat kepada para atlet terbaik taekwondo Indonesia yang dipersiapkan berlaga di Asian Games 2018.

Senayan Trade Centre (STC),
Senayan, Lantai 3 No.173B,
Jalan Asia Afrika. Jakarta Selatan
Telp: 021-29407769

Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Cari

Peta Kantor PBTI