Program Pelatihan Pelatih Taekwondo tingkat Provinsi Banten kembali bergulir di Pandeglang, Banten, Kamis (13/9/2018).

Program Pelatihan Pelatih Taekwondo yang merupakan angkatan V berlangsung selama 4 hari hingga 16 September 2018 diikuti sekitar 60 peserta yakni para pelatih berasal dari Kabupaten dan Kota se Provinsi Banten.

Assiten Deputi Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan, Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, Kemenpora RI, Herman Chaniago menyatakan, kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan mercusuar yang dilakukan Kantor Kemenpora dalam upaya percepatan dan pengembangan prestasi olahraga nasional sesuai arahan dari Presiden Joko Widodo tahun ini.

"Upaya percepatan itu dipastikan membutuhkan sumber daya manusia mumpuni yakni pelatih dengan kopetensi ideal yakni mengerti ilmu keolahragaan,” Ujar Herman.

Program pelatihan sendiri mengejar target secara kuantitas, kualitas berdasarkan sertivikasi dan leveling mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional dan internasional bermuara pada kuatnya pondasi olahraga nasional.

Kegiatan Pelatihan Pelatih Taekwondo Angkatan V se Provinsi Banten yang menjadi bagian program Pelatihan 100.000 Pelatih dan Instruktur Kemenpora 2018.

Peserta diberikan materi diklat New Rule Competition 2018 menghadirkan narasumber dari Pengurus Besar Taekwondo Indonesia, PBTI Master Indra MZ,Irene Soeitoe & Mr Lee Serta Dispora dan KONI Provinsi Banten.

"Kegiatan ini diharapkan meningkatkan kemajuan ,kualitas &Profesional Wasit dan Pelatih TI Banten." Terang Sekum Pengprov TI Banten Fiva Zabreno

Kepolisian Republik Indonesia sukses menggelar kejuaraan taekwondo piala Kapolri “Kapolri Cup 2018 yang dilaksanakan dari tanggal 14 – 16 September 2018 di GOR POPKI Cibubur, Jakarta Timur. Sebanyak 2.555 peserta dari 135 kontingen terdiri dari berbagai unsur, baik dari unsur TNI, Polri, dan klub atau dojang yang tersebar di hampir seluruh propinsi di Indonesia, berjibaku bertarung memperebutkan medali dan trofi Kapolri sesuai dengan kategori kelas dan umur

Kejuaraan dibuka oleh Asisten Kapolri bidang SDM Irjen Eko Indra yang mewakili Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian dan Dihadiri oleh sejumpah pejabat tinggi Polri di antaranya Dirregident Korlantas Polri Brigjen Pol Halim Pagarra, dan Deputi Infokom Kemenpora, Gatot S Dewa Broto.

Dalam sambutannya Eko Indra menyampaikan bahwa perheatan kejuaraan taekwondo piala Kapolri Cup 2018 ini dilaksanakan dalam rangka untuk memasyarakatkan olahragataekwondo, sekaligus mensinergikan seuruh potensi yang dimiliki ole para atlet yang berasal dari berbagai klub dan instansi TNBI – Polri yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Harapannya, dari kejuaraan ini, akan lahir bibit-bibit potensial dimasa yang akan datang. Apalagi kita baru saja mendapatkan emas untuk pertama kalinya di ajang Asian Games 2018 kemarin”. Tradisi mempertahankan emas di Asian Games mendatang dan event-event internasional lainnya itulah yang harus terus di pertahankan, dengan menyiapkan berbagai program pembinaan, kepelatihan dan kejuaraan-kejuaraan seperti yang dilakukan di ajang Kaplori Cup ini” Ujar Eko.

Ditambahkan Irjen Eko, Diajang Kapolri Cup 2018 ini, Kepolisian Republik Indonesia bekerja sama dengan Pengurus Besar Taekwondo Indonesia , Kemenpora, BNI dan KONI. “Dengan sinergi kelembagaan ini, bibit atlet taekwondo bisa di peroleh dari ajang yang rencananya akan digelar rutin tiap tahun ini. Tugas Polri sebagai pembina masyarakat bisa melalui hal ini (kegiatan olahraga). Jadi bisa disinergikan membina masyarakat sekaligus mencari bibit-bibit unggul atlet-atlet taekwondo berikutnya," ujar Eko.

Pertandingan dalam turnamen ini dibagi berdasarkan kelompok umur, yaitu kkategori pra kadet 6-11 tahun, kategori kadet 12-14 tahun, kategori junior 15-17 tahun dan senior 18-30 tahun. "Anggota Polri masuk pertandingan yang kategori senior," ucap Eko.

Irjen Eko yang membacakan amanat Kapolri mengatakan, tujuan terselenggaranya kejuaraan Taekwondo untuk melahirkan atlet Indonesia yang siap bersaing di tingkat dunia. “Tantangan semakin kompleks, baik di tatanan global, lokal, dan regional

Turnamen taekwondo Kapolri CUP 2018 ini berhadiah jutaan rupiah, resmi ditutup Minggu (16/9/2018). Polda Jawa Barat keluar sebagai juara umum kategori TNI-Polri. Penutupan turnamen dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, beserta Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Idham Azis. Kapolres Bogor, AKBP Andi M Dicky Pastika sebagai pembina cabang olahraga taekwondo Polda Jawa Barat menerima piala dan penghargaan sebagai Juara Umum 1 kategori TNI-Polri.

 

Sumber : Taekwondo Indonesia News (TIN)

Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI), melalui bidang komisi perwasitan beberapa waktu yang lalu, tepatnya sebelum pelaksanaan Asoian Games 2018 telah mengikuti World Taekwondo Kyorugi - Poomsae- International Referee Refresher Course (IRRC)  - International Referee Seminar (IRS).  Kegiatan tersebut berlangsung dari tanggal 26 – 29 Juli 2018 untuk poomsae dan tanggal 30 Juli – 2 Agustus 2018 bertempat di Convention Room, Shin Yang Park Hotel, Gwangju, Korea Selatan.

Menurut Ketua Komisi Perwasitan PBTI, GM, Tb. Indra Mulia Ari Zuhri, Kegiatan diklat wasit internasional tersebut bertujuan sebagai  syarat penugasan pada Asian Games 2018,  sehingga dapat mendukung kesuksesan Team Indonesia secara tidak langsung.   Selain itu, menurut Indra, tujuan penting lainnya dalam kegiatan diklat perwasitan Internasional ini adalah untuk memperoleh ilmu & penafsiran dari  “Peraturan Pertandingan” baru, baik poomsae maupun Kyorugi yang telah berlaku  mulai 1 Juni 2018 lalu. Selain itu, keikutsertaan peserta dalam diklat ini juga menurut Indra adalah sebagai bagian dari upaya untuk menambah Credit point bagi IR, untuk promosi kelas.

“Diklat IR kali ini amat penting bagi para wasit Internasional, karena update hasil diklat ini akan diterapkan di Asian Games 2018. Selain itu ini juga penting bagi kreedit point para wsait. Utamanya wasit asal Indonesia yang akan bertugas di Asian Games” Ujar Indra.

IR Indonesia yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 22 orang. Dan berdasarkan hasil penilaian, IR Asal Indonesia, Mukhlis Ba’Alwi bahkan mendapat predikat peserta dengan nilai terbaik. Hal ini menurut Indra menunjukkan bahwa wasit internasional asal Indonesia juga menjadi salah satu wasit yang kredibel di mata dunia. Oleh karenanya, wajar menurut Indra saat ini WT kerap mengundang para IR Indonesia untuk  memimpin pertandingan-pertandingan internasional yang menjadi agenda World Taekwondo (WT).

Berikut adalah IR Indonesia yang mengikuti IRRC dan IRS Kyorugi – Pommsae :

  1. Ahmad Yusuf M
  2. Aries Budi N
  3. Beny handoiyo P
  4. Benhard N. Lumowa
  5. Eko Kinaryanto
  6. Handrianto
  7. Herman Andikara
  8. Indra Mulia Ari Zuhri
  9. Irene Yosephine
  10. Irwan Nugraha
  11. Jhoni Vernando
  12. Mukhlis Ba’ Alwi
  13. Mulyadi D
  14. Refly Herjanto Genggang
  15. Rizki Prwadentafa
  16. Sanny Harsono
  17. Shabrina W
  18. Sumarno S
  19. Syaiful Rohim
  20. Syamsul B
  21. Tjhin Khie Tjhauw
  22. Tri Nurjanah

Seperti diketahui, IR Indonesia yang bertugas di Asian Games 2018 yang telah berakhir baru-baru ini telah mengikusertakan dua orang wasit internasional asal Indonesia. Mereka adalah Indra Mulia A. Zuhri dan Irene Yosephine. Keduanya bertugas dengan sangat baik dan mendapat apresiasi dari Asian Taekwondo Union selaku wasit tuan rumah yang bertugas secara fair.

Didampingi Chief de Mission (CdM) Tim Indonesia, Komjen Pol. Syafruddin. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo ikut menjadi saksi sejarah berhasilnya Atlet taekwondo putri, Defia Rosmaniar, menyumbangkan medali emas pertama bagi Indonesia pada Asian Games 2018. Jokowi sabar menunggu perjalanan Defia dari penyisihan hingga menuju puncak partai final berhadapan dengan taekwondoin Iran, Marjan Salahshouri. Dengan memadu padan jaket merah celana jeans hitam ala-ala James Bond. Jokowi sendiri akhirnya yang mengalungkan medali ke Defia dan seluruh peraih medali.

Defia Rosmaniar meraih medali emas setelah memenangi nomor poomsae individu putri di Plenary Hall Jakarta Convention Centre, Minggu (19/8/2018). Pada pertandingan final, Defia Rosmaniar yang tampil di kategori individual putri poomsae, mengalahkan taekwondoin Iran, Marjan Salahshouri. Defia mengalahkan wakil Iran, Salahshouri Marjan dengan skor 8.690 - 8.470.

Setelah mempersembahkan emas, Defia langsung menangis. Ia berlari mengibarkan bendera Merah Putih, lalu menghampiri Presiden Jokowi. Jokowi pun kemudian berkesempatan langsung mengalungkan medali kepada Defia.

"Kehadiran Presiden di sini membesarkan hati kami, seluruh kontingen Indonesia. Ini penyemangat agar kita bisa semaksimal mungkin meraih yang terbaik. Terima kasih atas perhatiannya," kata Syafruddin saat menyambut Presiden. "Mudah-mudahan karena di-support Pak Presiden secara penuh, atlet kita lebih termotivasi jadi juara," tutur Syafruddin menambahkan.

Keberhasilan Defia Rosmaniar menjadi penyumbang medali emas pertama Indonesia mendapat perhatian besar dari media asing dunia. Selain sejarah penyumbang medali pertama. Defia juga penyumbang emas pertama bagi taekwondo di ajang Multi Event Asian Games ini. Setelah 32 tahun lalu, Abdul Rojak, Budi Setiawan dan Yefi Triaji pernah juga berhasil menyumbang medali perak dan perunggu di Asian Games Seoul 1986 lalu.

“Ini emas pertama cabor taekwondo Indonesia setelah keikutsertaaan cabor taekwondo di multi event Asian Games” Ujar Yefi Triaji, competition manager Asian Games, Cabor taekwondo.

Terkait dengan keberhasilanya tersebut, Defia mengaku bangga dan bahagia. Dirinya sempat tidak menyangka. Masuk Semifinal saja membuat dirinya merasa tak percaya. Menurutnya yang dihadapi saat itu bukan taekwondoin sembarangan, termasuk di semifinal. Ia menghadapi taekwondoin asal Korsel yang merupakan peringkat satu dunia dan langganan pemegang gelar di kejuaraan-kejuaraan taekwondo poomsae tingkat dunia.

“Alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah SWT karena ikut berhasil menyumbang medali emas bagi Indonesia. Ini adalah berkat kerja keras seluruh tim, terutama pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) yang silih berganti selalu memberikan dukungan, mensupport kami timnas, saat melakukan pelatnas di Kore Selatan. Perhatian, dukungan dan motivasi para pengurus disela-sela tekanan berlatih inilah yang terus memompa saya dan teman-teman yang lain, untuk selalu semangat dalam berlatih. Ujar Defia.

Selain itu, keberhasilan Defia Rosmaniar juga merupakan buah dari pembinaan panjang PBTI untuk melahirkan para taekwondoin yang siap berkompetisi di ajang internasional. Amat disadari persaingan yang makin ketat dan kompetitif tersebut, perlu dilakukan dengan metode dan strategi serta komitmen organisasi yang kuat. Khususnya Ketua Umum PBTI Marciano Norman yang melakukan pendekatan dan kerjasama dengan taekwondo nasional Korea serta kementerian pemuda dan olahraga Korea terkait persiapan atlet taekwondo Indonesia di Asian Games ini. Selain itu, Ketua Umum PBTI itu juga sejak awal berusaha keras bahkan terjung langsung beberapa kali memantau jalanya proses pelatnas di Korea.

Bonus mengalir

Sesuai janji pemerintah, Defia akan diberikan bonus 1,5 milyar dari kemenpora. Bonus juga mengalir dari banyak pihak, termasuk bonus apartemen di Bogor. Bahkan bonus umroh untuk Defia dan keluarga juga diberikan langsung oleh Ustad Adi Hidayat yang disampaikannya langsung dari Mekkah bertepatan dengan beliau menunaikan ibadah Haji.

Duta besar Korea Selatan, Kim Chang-Beom mengunjungi timnnas  Taekwondo Indonesia di Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Taekwondo di POPKI Cibubur Jakarta Timur, (7/8).

Dalam kunjungan tersebut Dubes Korea didampingi oleh Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, Sekjen PBTI Dirc Richard, dan beberapa jajaran pengurus lainnya.

Kunjungan Duta Besar Korea Selatan ke pelatnas Taekwondo Indonesia tersebut adalah untuk mendukung dan ikut memotivasi timnas taekwondo Indonesia. Harapannya agar Taekwondo mampu meraih medali sesuai dengan target yang diberikan oleh pemerintah, Yakni minimal 2 medali emas. Bahkan Dubes Korea itu malah meyakini bahwa timnas taekwondo Indonesia bisa berbuat lebih maksimal dari target yang diberikan itu.

“Kami mengunjungi pelatnas Taekwondo Indonesia untuk ikut memberikan dukungan dan motivasi agar timnas dapat meraih medali. Karena kami (Indonesia dan Korea) sama-sama bersemangat menghadapi Asian Games ini yang penuh dengan sejarah. Baik bagi Indonesia maupun bagi Korea” Ujar Kim Chang-beom.

Ditambahkan Kim, Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang ini adalah Asian Games yang bersejarah bagi Indonesia. Sebab ini adalah kali ke dua setelah tahun 1962 lalu Asian Games bisa dilaksanakan kembali di Jakarta. Dan bagi Korea, Asian Games 2018 ini juga menjadi pintu sejarah bagi Korea, yang berharap semangat perdamaian semenanjung korea, yang merupakan buah dari kesepakatan Panmunjom Declaration for Peace, Prosperity and Reunification, bisa dirasakan juga nantinya di ranah olahraga, di Asian Games ke 18 ini yang berlangsung di Jakarta dan Palembang.

Selain itu, menurut Kim, kunjungan Dubes Korea ke pelatnas Taekwondo Indonesia tesebut merupakan bagian dari kerjasama pemerintah RI dan Korea yang selama ini berjalan dengan baik.

Seperti diketahui Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) sangat serius melakukan proses pembinaan dan prestasi Taekwondo Indonesia. Pemusatan Lathan Nasional, Tryout dan latih tanding kerap dilakukan di Korea Selatan bekerjasama dengan Institusi, praktisi dan organisasi taekwondo dunia dan nasional Korea yang berada disana. 

Khusus persiapan menuju Asian Games 2018, timnas Taekwondo Indonesia juga melakukan pemusatan latihan disana. Sejauh ini perkembangan positif kualitas atlet Indonesia itu telah terlihat dan menunjukkan progress yang signifikan, sehingga cabor taekwondo optimis meraih prestasi maksimal. Berkat kerjasama dengan pemerintah Korea, timnas Taekwondo Indonesia mendapat dukungan langsung dari tim kepelatihan nasional Taekwonndo Korea yang bernama Jincheon Korea National Training Center yang dikelola oleh Kementerian Olahraga Korea Selatan yang berlokasi diluar kota Seoul. Tepatnya Provinsi Chung cheongbuk-do jincheon-gun.

Dalam kerangka itulah kehadiran Dubes Korea Kim Chang-beom ke Pelatnas Taekwondo Indonesia ini dilakukan. Selain memberikan semangat dan motivasi, Pemerintah Korea Selatan juga berharap cabor taekwondo memberikan pengaruh positif bagi raihan medali bagi kontingen Indonesia. Selain itu, dirinya berharap agar melalui cabor ini, perkembangan dan atmosfir taekwondo di Indonesia, yang merupakan olahraga asal negeri gingseng tersebut makin populer dan mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia.

Seperti diketahui, sebanyak 14 atlet pelatnas Asian Games 2018 selama ini ditempa berlatih di Jincheon Korean National Training Center atau yang dikelola oleh Kementerian Olahraga Korea diluar kota Seoul.  Atlet-atlet tersebut yaitu :

  1. Reinaldy Atmanegara 58 kg
  2. Fauzi Akbar Pamungkas 58
  3. Ibrahim Zarman 63 kg
  4. Muhamad Saleh Alwi mouladawillah 68 kg
  5. Dinggo Ardian Prayogo 68 kg
  6. Lukas budi santoso 80 kg
  7. Rizky Anugrah putranto 87 kg
  8. Nicholas Armanto over 87 kg
  9. Dhean titania Fazrin 49 kg
  10. Mariska Halinda 53 kg
  11. Permata conta nadya 57 kg
  12. Shaleha fitriana yusuf 67 kg
  13. Nanda fernandia  over 67 kg
  14. Delva Rizky. Over 67 kg

 

 

Tim nasional taekwondo Indonesia berhasil meraih 9 medali dalam Kejuaraan Internasional Taekwondo Jeju Korea Open 2018 yang berlangsung 18 Juli hingga 24 Juli 2018 di Pulau Jeju, Korea Selatan.

Dalam ajang sebagai pemanasan jelang persiapan menuju Asian Games 2018 tersebut, timnas taekwondo Indonesia berhasil meraih 9 medali terdiri dari 2 emas, 4 perak, dan 3 perunggu. Medali emas pertama diraih lewat nomor new pair poomsae atas nama Defia Rosmaniar dan Abdurrahman Wahyu. Medali emas kedua melalui nomor new team female poomsae atas nama Mutiara Habiba, Rachmania Putri, dan Ruhil. Medali perak diraih melalui nomor pair recognized atas nama Defia Rosmaniar dan Abdurrahman Wahyu.

Selanjutnya, di nomor regocnized team female atas nama Mutiara Habiba, Rachmania Putri, dan Ruhil. Pada nomor free style single female, Ruhil kembali berhasil meraih medali perak. Dan medali perak terakhir diraih lewat nomor new team male poomsae atas nama Akhmad Saiful Anwar,  Abdurrahman Darwin, dan Maulana Haidir. Untuk 3 medali perunggu masing-masing disumbangkan lewat nomor single female new poomsae atas nama Defia Rosmaniar. Lalu, nomor regocnized team male atas nama Akhmad Saiful Anwar,  Abdurrahman Darwin, dan Maulana Haidir. Dan terakhir di nomor U 63 atas nama Zarman Ibrahim.

Terkait keberhasilan di ajang Jeju Korea Open ini, Menpora Imam Nachrowi mengapresiasi timnas.  Dalam pesannya melalui akun twitter, kemenpora memberikan semangat atas keberhasilan tersebut dan mengharapkan semoga Raihan 2 emas, 4 peran dan 3 perunggu tersebut sebagai pelecut semangat jelang Asian Games nanti.yang akan berlangsung tinggal beberapa hari lagi.



Timnas Taekwondo Indonesia dihari ke-3 World University Taekwondo Competition 2018 yang berlangsung di Pohang, Korea 10 – 14 Juli 2018 akhirnya berhasil meraih total 3 emas, 3 perak dan 4 perunggu. Sebelumnya sampai hari ke 2 kemarin timnas telah berhasil meraih 2 emas dan 1 perak.

Emas diraih oleh Mariska Halinda di dua kelas berbeda, yakni kelas U-57 Kg dan U-53 Kg, serta Dhean di kelas U-49 Kg. Perak diraih Ibrahim Zarman (U63 kg), Shaleha (U-67 Kg) dan Muhammad (U-68 Kg). Adapun edali perunggu diraih oleh Dinggo (U80 Kg), Rizki (87 Kg) Permata U62 Kg) dan Delva (73 Kg). Sementara Reinaldi dan Lukas belum berhasil meraih medali.

Keberhasilan timnas taekwondo Indonesia makin lengkap ketika dinobatkan sebagai juara umum dan the best player female yang diberikan kepada Mariska Halinda yang sukses merebut dua emas di dua nomor yang berbeda. Selain itu, timnas juga meraih penghargaan di kategori the best coach juga diberikan kepada pelatih Indonesia, Taufik Krisna Nugraha.

Terkait dengan keberhasilan tersebut Ketua Harian PBTI, Zulkifli Tanjung mengucapkan selamat dan mengapresiasi kinerja para atlet dan pelatih yang memanfaatkan momentum kejuaraan ini sebagai pemanasan sebelum berlaga di Asian Games. Apresiasi diberikan mengingat kejuaraan ini, walaupun hanya sebagai tryout, namun parameter kinerja dan progres perkembangan para atlet akan menjadi salah satu tolok ukur timnas untuk dapat mengevaluasi kekurangan, sekaligus memproyeksikan optimisme cabor taekwondo Indonesia yang yakin dapat bersaing dan berpotensi merebut medali di Asian Games nanti.

“Harapan PBTI tentu menjadikan hasil World University Taekwondo Competitition 2018 ini sebagai bahan analisa penting untuk menerapkan taktik dan strategi di Asian Games nanti.” Ujar Zul

Senada dengan Ketua Harian PBTI, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBTI Rahmi Kurnia mengatakan bahwa Kejuaran World University Taekwondo Competition 2018 hanyalah tryout untuk mengukur kinerja kepelatihan dan analisis hasil evaluasi kejuaraan Asia di Vietnam pada bulan Mei lalu.

Ditambahkan Rahmi, tim pelatih juga sudah membuat Analisa apa kekurangan masing-masing atlet  dari hasil kejuaraan ini. 

“Kejuaraan ini kami jadikan aplikasi berdasarkan simulasi pelatih melakukan Analisa kekurangan atlet di kejuaraan Asia bulan Mei lalu. Karena kejuaraan ini sebagai tryout mereka, maka kita hanya ingin melihat sejauhmana para atlet dapat menerapkan apa yang telah diberikan pelatih kepada mereka. Dan berdasarkan hasil laporan pelatih, kami sudah dapat hasil sementara monitoring kejuaraan ini sesuai dengan aspek SWOT para atlet, dan tentunya setelah ini akan kami analisis untuk kami jadikan bahan persiapan sampai menuju perhelatan Asian Games”. Terang Rahmi.

Seperti diketahui, kejuaraan Internasional ini diikuti sebanyak 3000 peserta dari 50 negara timnas taekwondo Indonesia, menurunkan 11 atlet yakni, Mariska Halinda Dhean Titania Fazrin, Ibrahim Zarman, Reinaldi Atmanegara, Muhammad Salah, Dinggo Ardian, Lukas Budi, Rizki Anugrah dikelas, Permata Cinta, Shaleha Fitriana dan Delva Rizki. Selain keikutsertaan timnas, Indonesia juga mengirim International Referee (IR) yakni Ina Febriana Sari dan Irmawati sebagai wasit. Bahkan Master Ina (biasa dipanggil) diberikan kepercayaan oleh penyelenggara untuk membacakan janji wasit.

"Ini sudah kesekian kalinya bagi saya membacakan janji wasit di kejuaraan Internasional. Sungguh sebuah kehormatan hal itu dipercayakan kepada saya." Ujar Ina yang merupakan pemegang DAN 8 Kukkiwon dan Ketua Komisi Kepelatihan PBTI

 

Sumber : Taekwondo Indonesia News

Ketua KONI Pusat Tono Suratman berkesempatan mengunjungi pelatnas taekwondo Indonesia di Gacheon University, Korea Selatan 9/7. Kunjungan Ketua KONI dimaksudkan untuk memberikan motivasi dan dorongan semangat kepada seluruh atlet, pelatih dan seluruh jajaran team official yang tengah mempersiapkan timnas untuk berlaga di Asian Games, Agustus 2018 mendatang.

Dalam kunungan tersebut, Tono Suratman memberikan arahan kepada para atlet untuk senantiasa berlatih dengan keras dan penuh semangat. Menurut Tono SUratman, sebagai duta Indonesia, para atlet saat ini adalah mereka yang terbaik untuk mengharumkan nama Indonesia di Asian Games nanti. Tono juga optimis timnas Taekwondo Indonesia dapat memberikan hasil terbaik sesuai dengan target yang diberikan kepada cabor taekwondo di Asian Games. Yakni 2 medali emas.

Sampai Ketua Umum KONI Pusat itu melihat langsung persiapan timnas taekwondo Indonesia, dan mendapat menjelasan detail dari para pelatih, Tono Suratman menyatakan dirinya puas dengan laporan progress perkembangan para atlet. Melalui program Training Camp yang melibatkan langsung dengan Asosiasi Taekwondo Korea,  disertai beberapa kali tryout serta latih tanding dengan timnas Korea, dirinya optimis cabor taekwondo dapat mempersembahkan medali di Asian Games.

Ditambahkan Tono, Asian Games tinggal menghitung hari, jadi para atlet diminta fokus dan menjaga kondisi fisik sehingga tampil maksimal di Asian Games. Ketua KONI juga pernah mengatakan bahwa dirinya juga dulu pad tahun 1986 pernah mewakili Indonesia di Asian Games dicabang Anggar. Namun belum berhasil meraih medali pada saat itu. Ia berharap timnas taekwondo Indonesia dapat menciptakan sejarah menjadi juara di Asian Games 2018.

 

Timnas Taekwondo Indonesia yang dipersiapkan untuk Asian Games 2018 meraih 2 emas dan 1 perak di ajang World University Championship 2018 yang berlangsung di Pohang, Korea 10 – 13 Juli 2018. Emas berhasil diraih dihari pertama oleh Mariska dikelas U-53 Kg dan Dhean Fazrin di kelas U-49 Kg. Sementara medali perak diraih oleh Ibrahim Zarman dikelas U-63 Kg.

Di kejuaraan yang diikuti sebanyak 3000 peserta dari 50 negara tersebut, timnas taekwondo Indonesia, selain menurunkan Mariska, Dhean dan Ibrahim Zarman, juga menurunkan beberapa atlet lainnya yang akan turun di hari ketiga nanti (12/7), yaitu Reinaldi Atmanegara dikelas U-58 Kg, Muhammad Salah dikelas U-68 Kg, Dinggo Ardian dikelas U-80 Kg, Lukas Budi dikelas U-80 Kg, Rizki Anugrah dikelas Over 80 Kg, Permata Cinta dikelas U 57 Kg, Shaleha Fitriana dikelas U 67 Kg dan Delva Rizki dikelas Over 73 Kg.

Menurut Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI), Rahmi Kurnia, para atlet yang mengikuti ajang kejuaraan dunia Universitas ini memang tidak dibebani target apapun. Mereka lebih didorong untuk mengekplorasi semua kemampuan yang dimiliki sesuai dengan apa yang pernah disimulasikan dalam training camp. Walaupun peserta yang ikut adalah para taekwondoin yang memiliki kemampuan bagus, bahkan kebanyakan negara peserta adalah merupakan atlet timnas-nya, namun Rahmi menekankan agar atlet tetap lebih menikmati pertandingan dan menjaga fisik agar tidak terjadi cedera yang dapat berdampak nantinya di Asian Games. Selain itu menurut Rahmi, jika atlet memaksakan diri,  Ia tidak mau justru peak performance atlet malah menurun. Padahal harusnya peak performance atlet mencapai puncaknya jelang Asian Games nanti.

Sementara itu, Pelatih Pelatnas Taufik Krisna ketika dihubungi melalui saluran telepon mengatakan bahwa, sesuai dengan instruksinya, para atlet diminta bertanding lepas, namun tetap fokus pada strategi berdasarkan studi kasus karakteristik lawan dan irama pertandingan sesuai dengan yang sudah sering di simulasikan selama pelatnas.

Hasilnya menurut Taufik cukup baik. Mariska misalnya, secara teknis mampu mengeksplorasi kemampuannya secara maksimal. Kekuatan tendangan “Cheking” nya makin kuat dan cepat, penguasaan lapangan cukup baik, Timming counter attack atas baik.  Namun demikian, Taufik juga memberikan catatan penting untuk Mariska. Terutama pada masalah blocking ketika clinch, tendangan dwichaginya juga kerap meleset, sehingga belum menghasilkan point.  Aspek non teknisnya,  Taufik masih melihat Mariska belum cepat adaptasi dengan atmosfir pertandingan, kadang terlihat tegang dan ragu dalam mengambil keputusan.

Selain Mariska Dhean juga mendapat catatan positif dari pelatih. Taufik menjelaskan penampilan Dhean, terutama dari segi kecepatan  dan tendangan yang tiba-tiba (tak terduga) sangat baik. Point kerap banyak diambil Dhean dari faktor kelebihan ini. Dhean menurut Taufik sangat memanfaatkan betul postur tubuhnya yang tinggi untuk lebih agresif dan mengambil inisiatif penyerangan.

Peraih medali Perak Ibrahim Zarman juga menurut Taufik mengalami banyak kemajuan. Disamping kecepatan dan kekuatan tendangan dengan memanfaatkan postur tubuhnya yang tinggi, Ibrahim juga sangat bagus main dalam jarak dekat,  Namun demikian, sama halnya dengan Mariska dan Dhean, Ibrahim juga perlu evaluasi, “khususnya dalam hal bermain jarak dekat atau ketika terjadi dorongan setelah posisi clinch. Kadang atlet kita kalah cepat bereaksi baik melakukan inistaif serangan jarak dekat maupun ketika harus melakukan counter” Ujar Taufik.

Besok (12/7) masih ada beberapa atlet nasional yang belum turun. Semoga hasil maksimal juga dapat diraih oleh mereka.

 

 

 

 

Dua Atlet Cadet Indonesia Akbar Karim Putranto dan M. Rasyid Putranto mengikuti kejuaran open turnamen internasional El Hasan Cup International Open G-1, yang berlangsung dari tanggal 7 – 9 Juli 2018 di Amman Yordania. Di ajang yang diikuti atlet kelas dunia tersebut Akbar berhasil meraih medali perunggu di kategori Cadet Male A under 33 Kg. Di kejuaran itu, dirinya bermain sebanyak 5 kali dan berhasil tembus semifinal sebelum di kandaskan oleh atlet tuan rumah.

Di babak awal Akbar menang dengan skor 16 - 11 melawan taekwondo tuan rumah. Selanjutnya menang dengan skor 15 - 10 melawan taekwondoin asal Oman. Lalu  menang dengan skor 8 - 4 dengan taekwondoin asal Kuwait dan menang dengan skor 9 - 4 dengan taekwondo asal Jordan. Di Semifinal Akbar harus mengakui keunggulan atlet tuan rumah dengan skor ketat 5 – 8. 

Sementara M Rasyid Putranto, terganjal di pertandingan pertamanya. Ia kalah dengan skor yang sangat ketat 15-14 melawan taekwondoin tuan rumah Mustafa Al Khatib. Pertaurungan M. Rasyid sangat seru. Agresifitas disertai teknik tinggi mewarnai laga keduanya. Namun dewi fortuna belum memihak Rasyid.

Terkait dengan hasil tersebut, manajer/pelatih yang juga orang tua Akbar dan M. Rasyid, Sumbar Wuryanto, mengatakan bahwa hasil maksimal yang telah diraih kedua putranya, Akbar dan Rasyid akan menjadi pengalaman berharga bagi keduanya. 

“Secara teknis sebenarnya keduanya sangat berpeluang dan memiliki potensi untuk bisa bersaing dan meraih hasil maksimal. Khusus Akbar malah bisa mungkin meraih emas. Namun demikian, dilapangan memang semuanya bergantung dengan kehendak Allah SWT. Akbar d an Rasyid sudah berupaya sekuat tenaga. 

“Tidak ada masalah dengan fisik dan teknik. Selama bertanding keduanya menunjukkan performa yang baik. Namun lebih pada aspek strategi bertanding saja” Ujar Sumbar Wuryanto yang biasa di sapa dengan Master Anto kepada TIN melalui sambungan telepon (10/7).

Sementara itu, Menurut Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI), Rahmi Kurnia mengatakan, bahwa pihaknya salut dengan perjuangan kedua atlet tersebut. Perjuangan mengikuti turnamen bergengsi tidaklah mudah. Di ajang level G-1 tersebut bertengger atlet-atlet berkualitas. Raihan medali Perunggu yang direbut Akbar, menurut Rahmi, membuktikan bahwa atlet Indonesia yang dilatih khusus oleh orang tuanya itu memang layak untuk menjadi atlet timnas taekwondo Indonesia dimasa yang akan datang. 

Terkait hal itu, menurut Rahmi memang PBTI sejak tahun 2016 lalu telah merumuskan langkah gradual untuk menciptakan atlet pelapis, namun menurut Rahmi memang harus sinergis dengan keputusan pemerintah tentang pemusatan latihan nasional.

Ditambahkan Rahmi, Idealnya memang kita berharap seperti Thailand dan Iran, yang memiliki timnas sampai lapis ke-3. Apalagi ditambah dengan kompetisi dan persaingan yang ketat antar sesama atlet.

“Idealnya memang timnas ada 3 lapis dari Cadet, Junior dan senior. Hal tersebut sudah pernah saya paparkan akhir tahun 2016, saat akan menghadapi Sea Games, Malaysia 2018. Waktu itu masih ada Pelatnas Prima. Dan waktu itu tanggapan ketua Satlak Prima adalah saat atlet masih junior ada pelatnas namanya prima pratama. Atas dasar keputusan pemerintah tentang adanya pelatnas junior itulah maka kemudian PBTI telah mengirimkan data atlet hasil kejurnas junior maupun PPLP sebanyak 20 atlet. Tetapi sampai dengan akhir pelaksanaan Sea Games dan Prima dibubarkan oleh pemerintah, hal tersebut tidak pernah terealisasi “. Ujar Rahmi.

Lebih lanjut Rahmi mengatakan bahwa menciptakan juara memang butuh proses panjang, dan tidak bisa instan. Pembinaan berlapis dengan intensitas kejuaraan yang kompetitif dan berkualitas adalah pintu utama bagi output keberhasilan pembinaan tersebut. Selain membutuhkan dana yang tidak sedikit, menurut Rahmi juga kendalanya adalah mereka (baca : para atlet cadet) masih dalam usia produktif sekolah. Jadi lebih tepat menurutnya jika para atlet Cadet dbina di pusat Pelatihan Atlet Berbakat (PAB) di propinsi masing-masing. Dan untuk usia Cadet memang pelatihannya belum seperti senior.  Sebab menurut Rahmi mereka masih tahap tumbuh kembang.

“Jadi ada banyak faktor yang mesti dipertimbangkan agar pelaksanaan pembinaan usia Cadet ini efektif. Dan itu membutuhkan banyak sinergi dan keterlibatan stakeholders". Terang Rahmi, yang saat ini tengah berkonsentrasi penuh mendampingi atlet yang sedang menjalankan pemusatan latihan di Korea dalam rangka persiapan timnas untuk bertanding di Asian Games, AGustus mendatang di Jakarta.

 

Berikut data Prestasi Akbar Karim Putranto

- Prestasi di Indonesia 130 x juara di berbagai turnamen 

- Prestasi Internasional :

  Tahun 2014 

  1 1st jicalicu INTERNATIONAL TAEKWONDO championship 2014( SILVER  Medal) 5th-7 th .stadium cheras MALAYSIA

  Tahun 2016

  - 14th  WATA open intercontinental TAEKWONDO championship in sakai april 24 th 2016 osaka JAPAN ( Gold  medal) 

  - 4th open Rembau taekwondo championship 27 th-29 th may 2016 negeri sembilan MALAYSIA ( GOLD  medal)

  - The 10 th CK Classic international open TAEKWONDO championships...23-25 sept 2016 .cheras MALAYSIA ( BRONZE medal)

  - the 2nd Heroes international championship  22 nd-24 october 2016 Bangkok udomsuksa school THAILAND ( Gold   medal) 

 - sportexcel nsc Milo INTERNATIONAL TaeKwondo invitition championships 11st -13 NOV 2016 nilai polytecknic MALAYSIA ( SILVER  medal)

  - Thaitae open international championships 17 dev 2016 central plaza chaengwattana  THAILAND ( GOLD  medal)

 Tahun 2017

  - 8 The Century Classic 19 March 2017 Bangkok  (Gold medal)

  - The 13 th AU TKD Championships Princess CUP Assumption University 25- 26 march 2017 ..john paul sport center Bangkok           Thailand (Gold  Medal)

   - 10 Heros International TKD Championships  cup.29 april 2017 selangor Malaysia

   - 4 The 3rd Heroes INTERNATIONAL Championship  5 th August 2017 (Silver medal )

   - 11  5th DAEDO TKD Championships 2nd -3rd Dev 2017 North Street. Heart Beat Besok Singapore (Silver Medal) 

   Tahun 2018

   - The 22 nd Asian Cities TKD Championships. Kowloon Park 17 -18  March th 2018 Hongkong (Silver medal)

   Prestasi Internasional G 1 

   -  El Husein open international TAEKWONDO G1 Amman-Jordan (5-8 july 2018 (Bronze medal)

 

Sumber : Taekwondo Indonesia News

Senayan Trade Centre (STC),
Senayan, Lantai 3 No.173B,
Jalan Asia Afrika. Jakarta Selatan
Telp: 021-29407769

Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Cari

Peta Kantor PBTI