Kejuaraan Taekwondo Festival bertajuk Olympic Champions berlangsung sukses digelar di GOR POPKI Cibubur Jakarta 18 – 19 Desember 2018. Kejuaraan yang di buka oleh Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI), Letjen TNI (Purn) Marciano Norman ini mempertandingkan kategori poomsae dan kyorugi dari kelas pemula dan junior. Diikuti 1460 peserta dari delapan propinsi, yakni Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, Jambi, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan DKI Jakarta.  

Menurut Ketua Penyelenggara Kejuaraan Ade Lukman, kejuaraan taekwondo festival Olympic Champions ini adalah upaya meningkatkan dan menyemarakkan atmosfir taekwondo Indonesia. Sekaligus kejuaraan ini merupakan bagian dari program pemasalan taekwondo PBTI. Program ini juga menjadi catatan positif bagi C.J Corporation, sebuah institusi sosial yang concern pada upaya pemasalan perkembangan taekwondo di seluruh dunia, dimana mantan juara olimpade Athena, 2004 Moon Dae Sung menjadi brand ambassodor institusi tersebut. Catatan positif tersebut institusi ini akan menilai tentang atmosfir pertandingan dan contoh kejuaraan pemasalan taekwondo yang baik untuk perkembangan taekwondo di suatu negara.

“Kejuaraan ini semata-mata bagi PBTI untuk membuktikan bahwa kejuaraan festival untuk tujuan pemasalan taekwondo di Indonesia sangat banyak dan dilakukan dengan kemasan yang sangat baik. Jadi hampir di setiap kejuaraan taekwondo festival ya seperti ini di Indonesia.  Kejuaraan Olympic Champions ini hanyalah prototipe saja dari beragam kejuaraan taekwondo Festival yang sudah dan selama ini digelar di Indonesia untuk dijadikan acuan bagi C.J Corporation untuk menilai atmosfir perkembangan taekwondo di Indonesia.” Ujar  Ade Lukman.

Sebelum kejuaraan berlangsung juga diadakan coaching clinic bagi para pelatih yang di berikan Moon Dae Sung.  Coaching clinic ini juga mendapat atensi dan apresiasi dari para pelatih yang mengikuti. Apalagi diberikan langsung oleh mantan atlet peraih predikat penghargaan “olympism”, atlet yang  dengan pribadi yang bersahaja dan etika dan sportifitas luar biasa. Selain teknik, filosofi kepelatihan dan motivasi menjadi hal yang ensensial dari materi coaching clinic Moon Dae Sung ini.

 

  

 

Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Taekwondo Junior 2018 telah berakhir. Kejuaraan yang digelar di GOR POPKI Cibubur tersebut berlangsung sejak hari Jumat 14 Desemberr 2018 dan berakhir hari ini, Minggu 16 Desember 2018. Dari 34 propinsi yang mengikuti gelaran Kejurnas ini, Propinsi Jawa Barat untuk kesekian kalinya menjadi kampiun Juara Umum. Jabar berhasil meraih total  15 medali emas, satu medali perak, dan empat medali perunggu. Di peringkat kedua propinsi Jawa Tengah dengantotal raihan medali 5 Emas, 5 perak dan 8 Perunggu. Ditempat ketiga DKI Jakarta dengan meraih 4 emas, 3 perak dan 6 medali perunggu.

Disaksikan Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) Letjen TNI (Purn) Marciano Norman hingga akhir kejuaraan, Beliau mengapresiasi berjalan lancarnya kejurnas taekwondo junior ini, dan mengucapkan selamat kepada para atlet yang berhasil meraih medali. Selain itu, Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus propinsi yang telah berpartisipasi dalam kejuaraan tersebut.

Menurut Bapak Marciano Norman, Ia melihat potensi taekwondoin junior cukup bagus. Baik daris egi postur maupun tekniknya. “Selain postur yang rata-rata tinggi, mereka juga memiliki teknik yang cukup baik. Tidak kalah dengan para seniornya. Potensi inilah yang perlu terus diasah dan ditingkatkan melalui pemusatan latihan di daerah. Saya optimis, dengan talenta yang ada saat ini, mereka para taekwondoin junior akan menjadi pelapis bagi atlet pelatnas dimasa yang akan datang.” Ujar Bapak Marciano.

Ditambahkan Bapak Marciano, problem regenerasi terlihat mulai sudah bisa kita atasi. Secara kualitatif Gap kualitas antara taekwondoin senior dan junior tidaklah terlalu signifikan. Mereka tinggal dimatangkan di pelatnas dimasa yang akan datang. Bahkan setelah PBTI melakukan evaluasi, kemungkinan para atlet potensial ini akan dipanggil oleh team talent scouting untuk diseleksi lebih lanjut.

Selain nilai positif tadi, Kejurnas Taekwondo Junior 2018 juga meninggalkan catatan. Yakni perlunya meningkatkan pemerataan pembinaan dan pengembangan prestasi. Sebab, seperti yang disampaikan sebelumnya oleh Bapak Ketua Umum PBTI, bahwa selain prestasi, dirinya menghendaki adanya pemerataan yang muncul dari daerah-daerah untuk bersaing secara ketat dengan propinsi-propinsi yang selama ini mendominasi. Walaupun ajang kejurnas junior 2018 ini pemerataan medali sudah di raih oleh 15 propinsi dari 34 propinsi yang ikut, namun dengan melihat sebaran dan komposisi total raihan medali tersebut, ternyata pekerjaan rumah terkait masalah pemerataan tetaplah harus menjadi fokus utama program pembinaan dan prestasi bagi PBTi dan seluruh Pengprov TI.

Salah satu problem karena masih adanya disparitas dengan propinsi-propinsi tertentu yang selama ini menonjol dan berprestasi adalah dikarenakan di daerah tersebut tidak mampu atau tidak memiliki memiliki pelatda. Selain itu,  minimnya dukungan dari pemerintah daerah juga masih menjadi salah satu problem yang masih muncul dan menjadi indikator mengapa daerah-daerah tertentu masih sulit bersaing secara ketat dengan propinsi lainnya.  

Namun demikian Bapak Marciano tetap optimis, mengenai program pembinaan dan pengembangan prestasi di seluruh propinsi. Problem pemerataan harus menjadi fokus, namun mempersiapkan regenerasi untuk atlet pelatnas juga sangat penting dan menjadi prioritas.

"Kami akan melihat kebutuhan dalam pelatnas. Kami akan menggabungkan atlet-atlet senior dengan atlet junior dari daerah sehingga kami punya atlet-atlet pelapis yang akan kami turunkan dalam berbagai kejuaraan," katanya tentang jumlah atlet Kejurnas Junior 2018 yang akan dipromosikan sebagai atlet pelatnas.

"Sekali kami putuskan mereka masuk pelatnas, saya berharap mereka akan menjadi atlet dalam jangka panjang lima hingga enam tahun. Kami memproyeksikan mereka turun dalam berbagai kejuaraan internasional di tahun 2019 dan tahun-tahun mendatang." Tegas Bapak Marciano

 

Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Junior Taekwondo 2018 di buka oleh Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) Letjen TNI (Purn) Marciano Norman di GOR POKI Cibubur 14/12. Kejurnas Junior 2018 ini berlangsung dari tanggal 14 – 16 Desember 2018 diikui  34 Propinsi dengan mempertandingkan dua kategori, Kyorugi dan Poomsae.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PBTI, Bapak Marciano Norman mengharapkan dari Kejurnas Junior ini akan lahir atlet potensial masa depan Indonesia. Secara khusus event ini menurut Bapak Marciano Norman akan dimanfaatkan secara maksimal oleh PBTI untuk menjaring dan menyeleksi atlet nasional yang akan dibina di Pelatnas untuk mengikuti Kejurnas junior Asia 2019 mendatang. Termasuk bagi pengprov, ajang ini tentunya menjadi salah satu parameter untuk mengukur kekuatan daerah di PON 2020 di Papua.

Selain harapan munculnya atlet potensial, Ketua Umum PBTI juga berharap hasil Kejurnas Junior yang didukung oleh Bank BRI ini juga menghasilkan peta kekuataan taekwondo Indonesia yang merata di seluruh daerah. “Saya berharap selain hasil yang maksimal, dengan mendapatkan atlet berkualitas, Kejurnas juga menjadi indikator penting berhasilnya program pemerataan pembinaan dan prestasi taekwondo Indonesia.” Ujar Marciano.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Kejurnas Junior 2018 Tb. Ade Lukman dalam laporannya mengatakan, Kejurnas Junior ini diikuti oleh 385 atlet dari 34 propinsi mempertandingkan dua kategori, kyorugi dan poomsae. Kategori Kyorugi mempertandingkan sebanyak 10 (sepuluh) kelas putra dan 10 (sepuluh) kelas putri, yaitu, Putra : U-45 Kg, U-48 Kg, U-51 Kg, U-55 Kg, U-59 Kg, U-63 Kg, U-68 Kg, U-73 Kg, U-78 Kg dan Over 78 Kg. Sedangkan untuk putri kelas U-42 Kg, U-44 Kg, U-46 Kg, U-49 Kg, U-52 Kg, U-55 Kg, U-59 Kg, U-63 Kg, U-68 Kg dan Over 68 Kg. Adapun untuk kategori Poomsae mempertandingkan 5 (lima) kelas yakni Individual Putra, Individual Putri, Team Putra, Team Putri dan Pair (Pasangan).

Hadir dalam pembukaan, Direktur pembiayaan Bank BRI, Perwakilan KONI dan KOI. Acara pembukaan diisi oleh atraksi demonstrasi taekwondo oleh Tim Nasional dan N Lions, Tarian Jaro dari NAD yang sukses menarik perhatian di Asian Games lalu, dan paduan pemukulan perkusi oleh tim sanggar budaya dari Bengkulu yang bersama dengan Ketua Umum PBTI membuka acara pembukaan Kejurnas Junior 2018.

Sampai berita ini diturunkan, di hari kedua, propinsi Jawa Barat memimpin raihan medali dengan 7 emas, disusul oleh DKI Jakarta dengan 3 emas dan 1 perunggu

Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) bekerjasama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menggelar Pendidikan dan Kepelatihan untuk para Pelatih tingkat Nasional bertempat di Belleza Hotel, Permata hijau, Jakarta 26 – 29 Desember 2018.

Kegiatan yang diikuti oleh 59 peserta yang berasal dari para pelatih muda dari 32 propinsi ini dibuka oleh Asdep Tenor Kemenpora Dr. Herman Chaniago (26/11). Selain jajaran pengurus PBTI, hadir dalam acara pembukaan pejabat Kemenpora, pejabat dari KONI, dan pengurus PBTI,

Dalam arahannnya ketika membuka diklat, Dr. Herman Chaniago menegaskan bahwa program diklat kepelatihan ini merupakan program rutin yang diharapkan memberikan manfaat bagi para pelatih, khususnya para pelatih muda untuk meningkatkan kapasitas ilmu kepelatihannnya. DIklat kali ini memang sengaja difokuskan kepada para pelatih muda. Tujuannya agar para pelatih ini lebih kreatif dan inovatif untuk terus melahirkan atlet potensial dimasa yang akan datang.

Dalam kesempatan lain, Ketua Umum PBTI Letjen TNI (Purn) Marciano Norman mengatakan bahwa Diklat Kepelatihan Tingkat Nasional kali ini memang khusus diperuntukkan untuk para pelatih muda yang menangani pelatda junior. PPLP, mkaupun PPLD di daerah. Menurut Bapak Marciano Norman,  hal tersebut ditekankan agar nantinya para pelatih muda ini dapat menerapkan metode dan strategi pelatihan keopada para atlet di daerah. Dan yang terpenting semua bekal pengetahuan ini nantinya dapat dijadikan sebagfai bagian penting dari program pembinaan di daerah masing-masing.

“Apabila satu pelatih dapat menciptakan satu atlet berprestasi saja, maka jika ada minimal 59 pelatih yang mengikuti diklat kali ini dapat menciptakan 59 atlet berprestasi, tentu saja akan menjadi lumbung atlet bagi taekwondo Indonesia, sehingga tim pelatnas akan lebih mudah dalam mendapatkan atlet yang potensial.” Ujar Marciano.

Ditambahkan Ketua Umum PBTI, tantangan mendapatkan atlet potensial memang sangat diharapkan oleh PBTI. Melalui upaya yang dilakukan oleh para pelatih, diharapkan  berbagai tantangan tersebut dapat diatasi dengan menghadirkan para atlet hasil pembinaan yang terprogram dengan system dan strategi pembinaan yang baik. Tantangan kedepan ada Sea Games, Pra Olimpiade, Olimpiade Tokyo, dan PON 2020 Papua.

“Saya ingin melihat berbagai rangkaian event itu, diisi dengan pertandingan-pertandingan yang dipenuhi atlet potensial Indonesia hasil pembinaan para pelatih, yang nantinya para atlet potensial itu akan memberikan kontribusi bagi timnas taekwondo Indonesia". Terang Marciano

Materi dan narasumber yang disuguhkan dalam diklat kali ini terdiri dari :

- Kebijakan pemerintah dalam memfasilitasi olahraga prestasi, yang disampaikan oleh Deputi IV Kemenpora Prof. Dr. Mulyana 

- Kebijakan dan Program PBTI,  yang disampaikan oleh Kabid Binpres, Rahmi Kurnia, SE

- Olympism, yang disampaikan oleh Dr. Rossy

- Penyiapan Nutrisi dan Pengaturan Berat Badan yang disampaikan oleh Dr. Mansur Jauhari, M.Si

- Anatomi dan Fisiologi yang disampaikan oleh Eko Juli  Fitrianto, S.Or, M.Kes AIFO

- Tes dan Pengukuran, yang disampaikan oleh Dr. Fachmy Fachrezzy, MPd

- Teknik kepelatihan khusus Poomsae yang disampaikan oleh pelatih poomsae Mr. Shin Seung Jung dan Ina Febriana Sari

- Teknik kepelatihan khusus Kyorugiyang disampaikan oleh pelatih nasional Kyorugi Mr. Sun Jae Lee dan Taufik Krisna 

- Penyusunan periodesasi program latihan yang disampaikan oleh Dr. Fachmy Fachrezzy, MPd

- Recouvery Sport Massage, yang disampaikan oleh Jamuddin, SOr

- Rule of Competititon Kyorugi & Poomsae, yang disampaikan oleh GM. Tb. Indra Mulia

 

Sumber : Taekwondo Indonesia News

PBTI dan Pengprov TI DKI Jakarta memenangkan gugatan yang dilayangkan oleh sekelompok pihak yang menamakan dirinya Pengurus Kota (Pengkot) taekwondo DKI Jakarta Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Jakarta Selatan di Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI).

Dalam salah satu amar putusan yang dibacakan pada hari Rabu 21 Nopember 2019 dengan nomor perkara 14/P.BAORI/VIII/2018 tanggal 10 September 2018 di Ruang Sidang BAORI Gedung KONI Jakarta, yang dipimpin oleh Dr. Sudirman, SH, MH sebagai ketua dengan di dampingi hakim anggota Paltiada Saragi, SH, MH dan Otniel Mamahit SH serta dibantu oleh Rina Wati SH, MH sebagai panitera, menyatakan bahwa Musyawarah Propinsi Luar Biasa Taekwondo Indonesia (Musprovlub) DKI Jakarta dengan nomor : 004/SK/ MUSPROVLUB/IV/ 2018 tanggal 20 April 2018, tentang pemilihan Ketua Umum Pengprov DKI Jakarta tahun 2016 – 2020 dinyatakan batal demi hukum dan tidak mempunyai kekuatan dan akibat hukum apapun.

Sebaliknya, dalam putusan BAORI tersebut juga menyatakan bahwa pelaksanaan Musyawarah Propinsi (MUSPROV) Taekwondo DKI Jakarta pada tanggal 12 November 2016 dinyatakan sah dan mempunyai kekuatan hukum tetap sesuai dengan Surat Keputusan Pengukuhan yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) dengan nomor SKEP.04/PBTI/I/2017 tertanggal 31 Januari 2017.
Menurut Ketua Komisi Hukum PBTI, Sirra Prayuna, SH Gugatan pihak yang menyatakan diri sebagai pengurus Taekwondo Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Jakarta Selatan melawan Pengurus TI DKI Jakarta dan PBTI di BAORI dengan nomor perkara 14/P.BAORI/VIII/2018 tanggal 10 September 2018 dinyatakan selesai.

Ditegaskan pula oleh Sirra bahwa Putusan BAORI yang bersifat final dan mengikat tersebut tentu menjadi akhir dari peselisihan hukum kedua belah pihak yang bersengketa. Dan untuk itu dirinya menghimbau kepada semua pihak untuk tunduk dan menghornati putusan BAORI.

“Hasil putusan BAORI menyatakan bahwa dalam pokok perkara BAORI menyatakan menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya, dan dalam amar putusan lainnya dinyatakan bahwa putusan BAORI ini dalam tingkat pertama dan terakhir serta mengikat kepada semua pihak yang berperkara. Itu artinya putusan ini final dan mengikat.” Terang Sirra.

Seperti diketahui, kelompok yang menamakan dirinya Pengurus Kota taekwondo Indonesia di tiga wilayah DKI Jakarta itu adalah mereka yang melakukan mosi tidak percaya dan kemudian tidak mengakui kepengurusan Pengprov TI DKI Jakarta yang dipimpin oleh Ketua Umumnya Mayjen TNI Ivan Palealu.

Menyusul mosi tak percaya tersebut, pihak yang melegitimasi diri sebagai pengurus pengkot dari keempat wilayah tersebut kemudian menggelar Musyawarah Provinsi Luar Biasa (Musprovlub) Taekwondo DKI pada 20 April 2018. Pada Musprovlub tersebut dipilih Mayjen TNI (Purn) Sjamsu Djalal sebagai ketua umum Pengprov TI DKI Jakarta yang baru.

Terkait dengan hasil putusan tersebut, Ketua Harian PBTI Zulkifli Tanjung mengatakan bahwa selanjutnya Pengprov DKI diminta untuk fokus untuk menata-kelola organisasi TI DKI Jakarta dan berupaya maksimal berkonsentrasi dalam hal pembinaan dan pengembangan prestasi para atlet. Karena menurutnya, kontribusi atlet DKI Jakarta yang memiliki banyak potensi baik yang memerlukan fokus dan konsentrasi pembinaan yang baik. Ditambahkannya, kita semua dan khususnya Pengprov DKI juga harus mengambil pelajaran penting dari kasus ini, karena menurutnya tantangan dan keberhasilan mengelola organisasi bersumber dari soliditas dan kinerja tata kelola yang baik. Segala permasalahan seyogiayanya menurutnya, bisa dipecahkan jika semua pihak saling bersinergi dan saling mendukung bersikap kekeluargaan dan musyawarah untuk kemajuan Taekwondo Indonesia.

SIARAN PERSS KOMISI HUKUM PBTI

21 Nov 2018
666 times

 Perihal : Gugatan pengurus Taekwondo Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Jakarta Selatan melawan Pengurus Propinsi TI DKI Jakarta dan PBTI  di BAORI

Bahwa Gugatan pengurus Taekwondo Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Jakarta Selatan melawan Pengurus TI DKI Jakarta dan PBTI  di BAORI dengan nomor perkara 14/P.BAORI/VIII/2018 tanggal 10 September 2018 dinyatakan selesai.

Putusan telah dibacakan pada hari Rabu  21 Nopember 2019  di Ruang Sidang BAORI Gedung KONI Jakarta, yang mana sidang tersebut dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum dengan dipimpin oleh Dr. Sudirman, SH, MH sebagai ketua dengan di dampingi hakim anggota Paltiada Saragi SH, MH. dan Otniel Mamahit SH.

Putusan BAORI yang bersifat final dan mengikat tentu menjadi akhir dari peselisihan hukum kedua belah pihak yg  bersengketa dan untuk itu dihimbau kepada semua pihak untuk tunduk dan menghornati putusan BAORI.

 

SIRRA PRAYUNA

Komisi Hukum PBTI

 

Guna Update Kompetensi Wasit untuk mengikuti peraturan terbaru World Taekwondo (WT), Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) menggelar Penyegaran Wasit Nasional (PWN) ke XVII secara serentak di beberapa wilayah di Indonesia.  Gelaran PWN di beberapa wilayah ini merupakan kebijakan PBTI, khususnya komisi perwasitan dalam rangka mempermudahkan para peserta (wasit) sesuai domisili terdekatnya untuk wajib mengikuti acara tersebut. Demikian hal tersebut disampaikan anggota komisi perwasitan PBTI Rizky Purwadentafa (16/11).  

“Pembagian wilayah sesuai domisili ini dilakukan sebagai solusi luasnya wilayah Indonesia. Oleh karenanya pembagian wilayah sesuai domisili wasit nasional ini merupakan jalan keluar agar para wasit lebih mudah untuk bisa mengikuti PWN. Apalagi PWN ini wajid sifatnya.” Ujar Rizky.

Adapun pelaksanaan PWN dimulai di Popinsi Banten dengan peserta sebanyak 19 peserta, Berikutnya di Bandung yang diikuti sebanyak 60 peserta.  Kemudian di Hotel Rasaki, Padang, Sumatra Barat pada tanggal 9 – 11 November 2018 yang diikuti sebanyak 57 peserta. Selanjutnya PWN dilaksanakan di DIY Yogyakarta bertempat di Grand Orchid Hotel, pada tanggal 15-18 November 2018 dengan jumlah peserta terbanyak yaitu 157 peserta dan terakhir pada tanggal 21-25 November 2018 nanti yang direncanakan akan dilaksanakan di Mataram NTB yang akan diikuti sebanyak 12 orang peserta.  Sebagai tuan rumah dari acara tersebut, PBTI memberikan kesempatan  kepada tuan rumah untuk mengirimkan wasitnya lebih banyak.

Ditambahkan Rizky Purwadentafa, tujuan dilakukannya Penyegaran Wasit Nasional adalah agar seluruh wasit memahami dan menguasai standard peraturan terbaru yang telah dikeluarkan oleh Word Taekwondo (WT) pada bulan Juni 2018 lalu. Dengan pemahaman tersebut, tentunya hal ini akan membawa perubahan pula pada standarisasi pertandingan taekwondo. Apalagi menurutnya, standarisasi peraturan terbaru tersebut akan mulai di aplikasikan di Indonesia, tepatnya pada bulan Desember 2018 ketika dilaksanakannya Kejurnas Junior di POPKI Cibubur 14 – 16 Desember 2018.

Oleh karenanya, menurut Rizky, para peserta, yaitu para wasit nasional mau tidak harus siap membekali dirinya untuk mengikuti kegiatan ini. “ Bagi yang tidak mengikuti, maka statusnya sebagai wasit nasional untuk sementara sulit untuk dialokasikan pada penugasan wasit, khususnya untuk pertandingan yang memiliki standard terbaru.

Secara umum sosialisasi peraturan terbaru yang dimaksudkan oleh Rizky antara lain terkait ketentuan mengenai peraturan penimbangan badan, aturan terkait posisi knockdown atau standing down yang waktunya berhenti untuk sementara dan aturan mengenai salah satu kaki atlet yang keluar arena yang langsung di ganjeum (dipotong nilainya).

Sosialisasi lainnya terkait dengan jumlah point tendangan. Misalnya jumlah poin tendangan lurus ke perut yang dulunya hanya satu poin, sekarang jadi 2 poin. Dan tendangan berputar ke kepala yang dulu nilainya tiga poin, sekarang menjadi lima poin. Bagaimana teknis raihan point tersebut, akan bersama-sama di simulasikan dalam PWN ini.

Sementara itu, Ketua Komisi Perwasitan GM Indra Mulia A. Zuhri mengatakan bahwa pihaknya berupaya agar di bulan Desember 2018 ini, seluruh rangkaian program Penyegaran Wasit Nasional selesai. Untuk selanjutnya, dirinya bersama anggota komisi perwasita lainnya bisa melakukan evaluasi sekaligus pemetaan hasil akhir terkait kegiatan PWN tersebut. Mereka yang terbaik akan diberi kesempatan memimpin pertandingan saat Kejuaraan Nasional Junior Desember mendatang.

”Paling tidak saat pelaksanaan Kejurnas (taekwondo) Junior yang akan dilaksanakan Desember nanti, aturan ini sudah bisa diterapkan. Karena itu, kami berupaya untuk sesegera mungkin menerapkannya kepada wasit kami,” Tegas GM Indra.

 

Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) akan menggelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Junior yang akan dilaksanakan di GOR POPKI Cibubur, 14 – 16 Desember 2018 mendatang. Kejurnas Junior ini akan diikuti oleh 34 Propinsi dengan mempertandingkan dua kategori, Kyorugi dan Poomsae. Untuk Kyorugi akan mempertandingkan sebanyak 10 (sepuluh) kelas putra dan 10 (sepuluh) kelas putri. Sedangkan Kategori Poomsae mempertandingkan 5 (lima) kelas.  

Menurut Ketua Pelaksana Kejurnas Junior 2018 Tb. Ade Lukman, Kejurnas Junior ini menjadi momentum strategis bukan saja bagi Pengprov karena sebagai ajang untuk menetapkan formasi ideal atlet mereka yang akan turun di PON 2020 di Papua,  tapi juga bagi PBTI. Menurutnya, PBTI akan menjadikan Kejurnas Junior ini sebagai salah satu ajang untuk menjaring sekaligus menyeleksi atlet-atlet muda sebagai pelapis generasi atlet pelatnas yang sebagian sudah terdegradasi.  Selain itu, kata Ade, Kejurnas Junior ini juga akan dijadikan ajang bagi PBTI untuk melakukan seleksi timnas yang akan turun di kejuaraan Junior Asia 2019 mendatang. 

“Kejurnas kali ini menjadi sangat penting artinya bukan saja bagi Pengprov yang akan membuktikan kualitas generasi baru atletnya yang akan dipersiapkan untuk PON 2020 di Papua, tapi juga bagi PBTI, karena dari ajang ini, kami akan mengambil atlet terbaik untuk dipersiapkan di kejuaraan Asia di 2019.” Ujar Ade. 

Lebih lanjut Ade juga menjelaskan bahwa gelaran Kejurnas Junior kali ini juga, PBTI melalui team talent scouting, akan lebih ketat dalam hal selektif dan fokus mengidentifikasi bakat atlet terbaik. Bukan saja dari segi Teknik dan fisik, tapi yang utama juga dari sisi postur tubuh yang ideal. 

Dalam Kejurnas Junior 2018 ini, kategori Kyorugi akan mempertandingkan sebanyak 10 (sepuluh) kelas putra dan 10 (sepuluh) kelas putri, yaitu, Putra : U-45 Kg, U-48 Kg, U-51 Kg, U-55 Kg, U-59 Kg, U-63 Kg, U-68 Kg, U-73 Kg, U-78 Kg dan Over 78 Kg. Sedangkan untuk putri kelas U-42 Kg, U-44 Kg, U-46 Kg, U-49 Kg, U-52 Kg, U-55 Kg, U-59 Kg, U-63 Kg, U-68 Kg dan Over 68 Kg. Adapun untuk kategori Poomsae mempertandingkan 5 (lima) kelas yakni Individual Putra, Individual Putri, Team Putra, Team Putri dan Pair (Pasangan). 

Atlet yang akan turun di Kejurnas Junior adalah atlet yang berusia di bawah 17 tahun. Tepatnya yang lahir antara tahun tahun 2001 sampai dengan kelahiran tahun 2004 denganc melampirkan dan membuktikan Akte Kelahiran, Ijazah sekolah (Raport), Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Sertifkat Taekwondo Minimal Geup V (ASLI) yang dikeluarkan oleh PBTI kepada panitia pelaksana.

Panitia pelaksana sudah mengirimkan proposal dan informasi yang jelas ke seluruh pengprov terkait persiapan pelakanaan kejurnas junior 2018 ini. Antara lain terkait dengan Peraturan dan sistem Pertandingan.  Seperti diketahui peraturan di Kejuaraan ini mengunakan peraturan “WT Competition Rule” baik Kyorugi & Poomsae. Sistem Pertandingan untuk Kyorugi menggunakan sistem gugur sedangkan untuk Poomsae menggunakan Recognize System Tournament dan untuk Free Style mengunakan System Cut Off. Peralatan dan perlengkapan baik untuk Kyorugi maupun poomsae menggunakan KP&P. 

Rencana acara pembukaan menurut Panitia pelaksana akan dihadiri dan dibuka oleh Menpora RI bersama Ketua Umum PBTI. Akan hadir pula  Duta Besar Korea, Ketua KONI, KOI dan unsur pejabat serta instansi terkait lainnya. Pembukaan juga direncanakan akan diisi dengan acara meriah, selain demonstrasi taekwondo, juga akan diisi dengan gelaran budaya, tari dan musik. 

 

Sumber : Taekowondo Indonesia News (TIN)

Pengurus Propinsi Taekwondo Indonesia (Pengprov TI) Sulawesi Tenggara sukses menyelenggarakan Musyawarah Propinsi di Kendari 27/10/2018. Musprov TI tersebut dihadiri oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) dan diikuti oleh 17 Pengkab/kota diseluruh Sulawesi Tenggara.

Sebelum Musprov TI digelar, calon Ketua Pengprov sebenarnya ada 4 orang calon, yaitu Sumatiti (Muna), Mardin (univ.Haluoleo), Tasman (dari Koni),dan Dedi Muskar. namun hanya Dedi Muskar yang terus maju, dan yang lainnya mengundurkan diri. Sehingga secara aklamasi peserta sepakat menunjuk Dedi Muskar sebagai Ketua terpilih Pengprov TI Sultra untuk masa bhakti 2018-2022.

Dalam sambutannya, Dedi Muskar menyatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan konsolidasi dan mengambil langkah-langkah konstruktif untuk menata organisasi yang lebih baik lagi kedepan.
“Sebagai langkah awal kita perlu melakukan konsolidasi organisasi dan menata pelaksanaan kompetisi secara berjenjang.” Ujar Dedi.

Pihaknya juga meningkatkan pembinaan atlet untuk berperan aktif dalam berbagai kompetisi lokal maupun nasional. Termasuk melanjutkan program dari pengurus TI sebelumnya. Apalagi dalam waktu dekat pihaknya menghadapi tiga kegiatan sekaligus.

“Desember nanti akan dilaksanakan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Kolaka. Selain itu, ada kejuaraan nasional (Kejurnas) junior serta pendidikan dan latihan wasit,” tambahnya.
Oleh karenanya, dirinya mengajak semua pengurus cabang maupun TI Sultra membantu menjalankan roda organisasi. Ia menyadari tidak bisa menjalankan organisasi seorang diri, tanpa dukungan semua pengurus TI.

“Saya berharap komunikasi kita tetap terjaga, baik Pengcab maupun pengurus besar (PB) TI. Dengan demikian semua program kita laksanakan bisa berjalan dengan baik,” Jelas owner KTTC itu.

Wakil Ketua I KONI Sultra, Tasman Taewa berharap ketua yang terpilih bisa mendorong kemajuan taekwondo di Sultra. “Pembinaan atlet usia dini mesti diperhatikan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua PB TI, Brigjen TNI (purn) H Noor Fadjari juga berharap pengurus TI Sultra mampu memadukan kemampuan dan keterampilan atlet dengan perkembangan teknologi. Pasalnya saat ini, perkembangan dan dinamika olahraga taekwondo amat pesat dan terus mengikuti perkembangan zaman. Oleh karenanya PBTI berharap TI Sultra juga mampu menyelaraskan sekaligus mengakomodasi kebutuhan kompetensi para pelatih dan wasit Sultra, sehingga proses pembinaan, pengembangan dan prestasi taekwondo di Sultra berjalan baik kedepannya.

Sumber : Taekwondo Indonesia News (TIN)

Musyawarah Provinsi Taekwondo Indonesia Sulawesi Barat tahun 2018 sukses digelar di Hotel Lilianto Polman, 25/10/2018 lalu. Dalam acara tersebut hadir wakil Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) Brigjen TNI (Purn) H. Noor Fadjari, ST yang mewakili Ketua Umum PBTI, perwakilan dari KONI Sulbar, dan Para Pengurus Kabupaten Kota Se Sulawesi Barat sebagai peserta yang terdiri dari perwakilan Pembina dan 5 Pengkab, yakni Pengkab TI Mamuju, Pengkab TI Majene, Pengkab TI Mamasa, Pengkab TI Mamuju Tengah, dan Pengkab TI Polewali Mandar.

Ketua panitia Musprov TI Sulbar, Usman Waris yang juga merupakan Sekertaris Provinsi Sulbar menjelaskan bahwa saat ini perkembangan taekwondo di Sulbar berjalan dengan dinamis. Seluruh Kabupaten-Kota bersatu padu mengembangkan taekwondo di daerahnya masing-masing. Sinergisnya seluruh daerah dalam upaya mengembangkan pembinaan dan prestasi taekwondo di Sulbar berdampak positif bagi prestasi Sulbar, khususnya di beberapa kejuaraan bergengsi sekelas kejurnas.

“Para pengurus di Kabupaten berhasil melakukan upaya pembinaan, terbukti prestasi Sulbar beberapa tahun ini terus meningkat” Terang Usman Waris.

Sementara itu, wakil ketua Umum PBTI, Brigjen TNI H. Noor Fadjari, ST ketika membacakan amanah ketua Umum mengatakan, bahwa taekwondo adalah olahraga sport olympic atau olahraga yang dipertandingkan di Olmipiade. Perkembangan olahraga ini sangat dinamis. Karena dinamis, berbagai aturan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Terkait hal itulah maka daerah diminta untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan kualitas program pembinaan dan prestasi, sehingga nantinya dapat memberikan kontribusi positif bagi timnas taekwondo Indonesia di kancah internasional.

“harapannya tentu prestasi taekwondo meningkat ditahun-tahun mendatang, utamanya TI dapat menyumbangkan medali di Olimpade” Ujar Noor Fadjari.

Dalam Musprov TI ini, secara aklamasi telah terpilih Ketua Pengprov TI Sulbar yang baru yakni H. Andi Yan Alibalmasydar, SH, mantan Ketua IMI Sulbar yang berprofesi pengusaha (putra Gubernur Sulbar ).

Terpilihnya H Andi Yan Alibalmasydar, SH ini juga diharapkan memberikan angin segar bagi TI Sulbar, dan seluruh pengkab optimis berbagai agenda program yang akan dilaksanakan oleh TI Sulbar akan berjalan dengan efektif. Khususnya program-program terkait peningkatan kompetensi para pelatih dan wasit di Sulbar. Apalagi mengingat Sulbar hingga kini belum memiliki wasit nasional.

 

*) Sumber : Taekwondo Indonesia News (TIN)

Senayan Trade Centre (STC),
Senayan, Lantai 3 No.173B,
Jalan Asia Afrika. Jakarta Selatan
Telp: 021-29407769

Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Cari

Peta Kantor PBTI