Sosok wanita ini separuh hidupnya didekasikan untuk Taekwondo.  Ia Malang melintang di dunia olahraga dan seni ilmu bela diri asal Korea itu.  Baik sebagai atlet, pelatih, manajer tim nasional, hingga wasit internasional. Semua itu menjadi pengalaman dan bagian dari perjalanan hidupnya hingga saat ini. Selama hampir satu dasarwa ini, beliau juga concern pada kegiatan kepelatihan. Baik sebagai narasumber maupun sekaligus pengurus yang menjabat sebagai Ketua komisi kepelatihan di Pengurus Besar taekwondo Indonesia (PBTI). Belum lama ini, beliau dianugerahi oleh pemerintah, melalui Kemenpora, saat peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2021 sebagai “Most Achiever Coach of the Year” atau pelatih berprestasi tahun 2021.

Wanita pemegang rekor DAN tertinggi Kukkiwon di Indonesia ini, memang keliatan agak tomboy. Tapi Ia tetap terlihat modis dan cantik, karena selalu tampil fashionable. Itulah yang membuat dirinya selalu tampak muda, menarik dan terkesan santai.  Namun ketika sudah berada dalam aktivitas dan atmosfir kegiatan taekwondo, Semua berubah. Ia justru terlihat “angker” dan menjadi sosok yang cukup disegani oleh banyak praktisi taekwondo. Baik oleh atlet, pelatih hingga para wasit. Apalagi ketika saat dirinya memberikan materi, baik menyangkut soal perwasitan maupun kepelatihan. Bukan karena memang dirinya ingin tampil di hormati,  namun karena Ia memang selalu serius dan all out dalam menjalankan tanggung jawab dan profesinya.

Ya, Ina Febriana Sari namanya. Jebolan Universitas Indonesia untuk jurusan sastra Jerman dan Administrasi Bisnis di Inter Study ini hampir dua dasa warsa lebih aktif di PBTI. Puluhan penghargaan baik nasional maupun internasional dan sertifikat kompetensi menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Semua itu melegitimasi dirinya menjadi salah satu sumber referensi bagi praktisi taekwondo untuk mentransformasi keilmuannya, maupun sekedar berbagi pengalaman untuk menjadikannya motivator bagi kalangan taekwondoin di Indonesia.   

Bersama dua anggota Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) lainnya, yaitu  Indra Mulia yang menjabat Sekjen PBTI, dan Anthony Musa Siregar yang saat ini menjabat sebagai Ketua Harian PBTI, nama Ina juga sudah melekat menyandang Grand Master (GM). Sebuah panggilan yang menggambarkan pencapaian seorang praktisi taekwondo yang berada di puncak pengakuan dan eksistensi dari perjalanan kompetensi keilmuannya sebagai praktisi taekwondo.

Sudah ratusan event yang diikutinya baik sebagai atlet, wasit nasional maupun internasional. Sudah puluhan penghargaan pula tersematkan kedalam dirinya sebagai. Salah satu penghargaan bergensinya adalah menjadi yang terbaik dari 50 negara ketika menggelar uji kompetensi. Acara yang digelar dua tahun lalu yang bertajuk Pohang World University Taekwondo Competition ini, semakin melekatkan namanya sebagai salah satu wasit internasional terbaik dunia.

Pengabdian dan dedikasi menurutnya akan terus ia sumbangsihkan kepada bangsa dan negara melalui olahraga taekwondo ini. Ia tidak pernah lelah dan selalu melihat optimisme akan pasang surut prestasi taekwondo Indonesia. Karena Ia yakin Taekwondo Indonesia suatu saat akan kembali tampil mendunia.

“Mungkin saya bukanlah mantan atlet berprestasi, tapi saya akan terus berusaha memberikan ilmu pengetahuan dan pengalaman terbaik yang dimiliki kepada para praktisi taekwondo. Baik kepada para wasit maupun pelatih, agar mereka memiliki kompetensi yang baik dan bisa berkarir serta berkiprah dalam berbagai kegiatan taekwondo dengan sebaik-baiknya.” Ujar GM Ina.

Seperti yang disampaikannya ketika diwawancarai langsung president Kukkiwon, terkait motivasinya menyelesaikan High DAN,  Grand Master Ina menjawab bahwa “motivasi dan tujuannnya mengambil High DAN adalah untuk memberikan contoh kepada taekwondoin muda, para pemegang sabuk hitam agar terus berlatih dan mempelajari filosofi taekwondo itu sendiri bagi kehidupannya sehari-hari.”

Ya, GM Ina amat concern dan peduli pada taekwondoin muda, karena memang menurutnya semakin kedepan, tantangan pemegang sabuk hitam sangat berat. Apalagi saat ini aktivitas begiat dalam pratisi dunia olahraga di era global ini, tidak terkecuali cabor taekwondo, juga menghadapi berbagai tantangan dan perkembangan yang makin modern dengan penggunaan peralatan dan teknologi yang semakin canggih dalam pertandingannya. Menurut Ina, hanya praktisi yang terus update pada perkembangan iptek itulah, yang terus belajar dan terus mengasah kemampuannya, yang bisa beradaptasi dan survive pada profesi ini.

Dirinya selalu berpesan dan memberikan motivasi agar mereka, taekwondoin muda jangan berpuas diri dan berhenti untuk mencari ilmu baru yang nantinya dapat diberikan kepada generasi muda taekwondo.

“Seperti filosofinya, bahwa sejatinya sabuk hitam adalah awal, Ia ibarat sabuk putih yang baru mulai dan berharap tidak pernah berhenti berlatih. Sebab seseorang yang menyandang sabuk hitam berarti Ia mulai bisa bertanggung jawab sebagai seorang judansha. Bukan saja kepada dirinya, tapi juga bagi lingkungan dan almamaternya (taekwondo) dalam rangka melestarikan nilai-nilai luhur olahraga tersebut sebagai seni sekaligus ilmu bela diri ” Tegas Ina yang juga sebagai Founders INA Taekwondo Academy itu.

Terkait dengan profesinya sebagai wasit internasional. Dirinya berpesan bahwa wasit atau pengadil dilapangan memang menjadi profesi amat strategis bagi sebuah pertandingan. Tak terkecuali pertandingan di cabor taekwondo. Karena ditangannyalah sebuah keputusan penting diambil tentang nilai kejujuran meraih kemenangan.

Oleh karena itu, menurutnya wasit disamping harus menguasai teknik penilaian dan aturan dalam suatu pertandingan, dirinya juga harus paham bagaimana sebuah skill atau teknik diukur dalam perspektif  standard baku penilaian yang sudah ditentukan parameternya oleh badan dunia taekwondo tentang aturan penilaian pertandingan. 

“Kecakapan seorang wasit itulah yang melegitimasi dirinya menjadi wasit internasional (International referee) yang disematkan kedalam pundaknya ketika mewakili negaranya memimpin sebuah pertandingan di kejuaraan Internasional.” Terang Ina.

Oleh karenanya Ina berpesan, baik kepada para wasit maupun pelatih, bahwa kompetensi yang dilegitimasi dan disertifikasi dalam sebuah kurikulum pendidikan dan penyegaran, haruslah dibarengi dengan pengabdian dalam penugasan serta kemampuan dirinya menguasai bahasa asing.

Menurutnya sangat penting bagi setiap praktisi taekwondo Indonesia, ketika ingin serius mengembangkan potensi dirinya dan berkarir dalam dunia taekwondo, maka tiada jalan lain, bahasa asing harus dikuasai. Inilah yang menjadi salah satu problem yang harus terus ditingkatkan bagi para praktisi taekwondo Indonesia. Khususnya bagi para wasit nasional dan para wasit daerah. Karena yang namanya event Internasional, bukan saja event tersebut berada di luar negeri. Bisa saja event Internasional itu berada di Indonesia sebagai tuan rumah.

Menurutnya, kendala bahasa akan menjadi salah satu distorsi keseragaman, dan pemerataan para wasit di Idonesia. Dan ini yang akan menjadi concern dirinya untuk terus membantu memberikan motivasi dan pengalamannya kepada para taekwondoin Indonesia. 

 

 

Taekwondoin Indonesia, Andi Sultan asal DKI Jakarta berhasil meraih medali emas untuk kategori Freestyle Male Cadet dalam kejuaraan dunia “Online  2021 World Taekwondo Poomsae Open Challenge Final”.  Yang penilaiannya berlangsung dari tanggal 20 – 23 Desember 2021. Andi Sultan sukses merebut emas dengan skor 6.220 mengalahkan taekwondoin Iran M Habibzadeh yang hanya meraih skor 5960 yang harus puas mendapatkan perak. Sementara medali perunggu di raih taekwondoin asal Meksiko O. Martinez dan taekwondoin asal Macao H.Shi yang masin-masing meraih skor 5750 dan 5500.

Selain Andi Sultan, Indonesia sendiri menurunkan 2 atlet lainnya, yakni  M. Nadim Faturrahman dari Jawa Barat yang  turun di kategori Recognize Male Cadet dan Naylana Khansa  Janneta asal Jawa Barat yang turun di kategori Freestyle Female Cadet . Kedua atlet Indonesia, Nadim dan Naylana harus puas berada di peringkat kelima. Nadim harus mengakui keuanggulan taekwondoin asal USA yang meraih emas dengan skor 6080, perak dari taekwondoin Italia B. Corradeshi dengan skor 5960 dan medali perunggu yang direbut oleh taekwondoin asal Macao C. CHiang dengan skor 5720 dan taekwondoin Iran A.Amrafe yang meraih skor 5640. Nayla sendiri meraih skor 5380.

Sementara itu, taekwondoin Indonesia lainnya Nadim Faturahhman gagal meraih medali perunggu  setalah hanya kalah tipis dari taekwondoin asal Hongkong yang meraih skor 7310. Nadim sendiri meraih skor 7310. Emas di kategori ini direbut oleh taekwondoin asal Korea  H. Kim dengan meraih skor 7470. Medali perak diraih taekwondoin asal Peru R. Perez dengan skor 7360.

Terkait dengan keberhasilan tim Indonesia meraih emas dan masuk ke 5 besar kejuaraan dunia ini, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBTI Yefi Triaji menyatakan puas. Menurutnya penampilan ketiga atlet kita sudah cukup maksimal. Selain Andi Sultan yang tampil meyakinkan dan nyaris sempurna dengan teknik skill dan gerakan freestyle-nya, ketiga atlet kita semua tampil maksimal. Menurutnya, memang persaingan di semua kategori cukup ketat dan semua atlet yang turun adalah atlet-atlet terbaik yang pernah juara dan berperingkat delapan besar di rangkaian seri kejuaraan dunia selama satu tahun ini.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) Letjen TNI (Purn) H.M Thamrin Marzuki ketika dihubungi menyatakan rasa bangganya kepada para atlet. Menurutnya, walaupun ditengah masa pandemi Covid – 19, mereka tetap konsisten berlatih keras, sehingga hasil yang raihpun maksimal.  Ini menunjukkan bahwa prestasi yang dicapai mereka adalah output dari sebuah proses tata kelola pembinaan atlet usia muda yang  berjalan dengan baik.  Para atlet berprestasi ini tak lepas dari identifikasi bakat dan pembinaan yang di produksi oleh klub atau dojang, dan di monitoring serta di bina terus secara berjenjang ditingkat pengprov, hinggga mereka digembleng secara optimal di pelatnas.

“Saya sebagai Ketua Umum PBTI merasa bangga, dimana atlet muda kita berprestasi di tingkat global. Ini menunjukkan walaupun dalam kondisi pandemi Covid – 19, pembinaan atlet di pusat maupun di darah tetap berjalan secara optimal.” Ujar Thamrin.

Untuk diketahui bahwa kejuaraan dunia yang digelar World Taekwondo ini adalah kejuaraan dunia yang diselenggarakan selama tahun 2021 yang bertepatan dengan kondisi atau situasi masa pandemi Covid – 19. Oleh karenanya, kejuaraan berkategori level G2 ini digelar secara online atau virtual. 

Sebelumnya WT menggelar World Taekwondo Poomsae Open Challenge I 2021 yang mempertandingkan kategori junior (pasangan dan tim). Berikutnya World Taekwondo Poomsae Open Challenge II 2021 yang mempertandingkan kategori cadet (pasangan dan tim) dan World Taekwondo Poomsae Open Challenge III 2021 mempertandingkan kategori senior dan kategori Para (disabilitas). Jadi kejuaraan Dunia ini adalah grand final yang merupakan  putaran akhir dari rangkaian serie ini, dimana para atlet terbaik dari masing-masing serie kembali bertarung merebut yang terbaik di masing-masing kategori.

Tiga atlet Taekwondo Indonesia  kategori Kadet tampil di grand final Kejuaraan Dunia Poomsae  yang bertajuk  “Online  2021 World Taekwondo Poomsae Open Challenge Final”. 

Ketiga atlet tersebut adalah Andi Sultan, atlet asal DKI Jakarta yang akan turun di kategori Freestyle Male Cadet,  M. Nadim Faturrahman dari Jawa Barat yang  akan turun di kategori Recognize Male Cadet dan Naylana Khansa  Janneta asal Jawa Barat yang akan turun di kategori Freestyle Female Cadet . Kejuaraan ini mulai berlangsung dan ditayangkan secara streaming di chanel Youtube World Taekwondo mulai hari ini tanggal 20 – 23 Desember 2021.

Ketiga atlet tersebut selama ini dan khususnya selama sebulan ini, dilatih oleh pelatih yang juga mantan atlet pelatnas. Mereka terdiri dari Maulana Haidir, Sofiudin dan Laras Fitrianti Sumarna.

Menurut Maulana Haidir, keikutsertaan atlet kadet Indonesia ini didasari atas aturan WT yang merupakan imbas dari prestasi yang telah mereka torehkan sebelumnya di rangkaian kejuaraan serupa yang digelar sepanjang tahun 2021 ini.

“Secara otomatis mereka masuk putaran final karena prestasi sebelumnya. Andi Sultan misalnya. Ia adalah juara dunia di Online  2021 World Taekwondo Poomsae Open Challenge II. Adapun M Nadim Faturrahman dan Naylana Khansa  Janneta adalah peringkat kelima dan kedelapan dikejuaraan yang sama. Jadi otomatis mereka akan tampil di putaran final ini” Ujar Maulauna.

Ditambahkan Maulana,  Andi Sultan yang turun di kategori Freestyle Male Cadet akan bersaing memperebutkan yang terbaik bersama 7 negara peserta. M Nadim Faturrahman yang turun di kategori Recognize individual Male Cadet, akan bersaing dengan 21 negara lain. Sementara Naylana Khansa  Janneta yang turun di kategori frestyle individual female cadet akan bersaing dengan 9 negara peserta, serta ketika Nayla yang juga turun di kategori Recognize individual Female Cadet akan bersaing memperebutkan tempat terbaik bersama 23 negara peserta lainnya.

Untuk diketahui bahwa kejuaraan dunia yang digelar World Taekwondo ini adalah kejuaraan dunia yang diselenggarakan selama tahun 2021 yang bertepatan dengan kondisi atau situasi masa pandemi Covid – 19. Oleh karenanya, kejuaraan berkategori level G2 ini digelar secara online atau vritual. 

Sebelumnya WT menggelar World Taekwondo Poomsae Open Challenge I 2021 yang mempertandingkan kategori junior (pasangan dan tim). Berikutnya World Taekwondo Poomsae Open Challenge II 2021 yang mempertandingkan kategori cadet (pasangan dan tim) dan World Taekwondo Poomsae Open Challenge III 2021 mempertandingkan kategori senior dan kategori Para (disabilitas). Dan saat ini 8 peserta terbaik dari masing-masing tahap kembali akan bertarung di grand final open Challenge.

Keberhasilan ketiga atlet masuk putaran final  ini sebenarnya tak lepas dari analisis pelatih kepala timnas Poomsae Mr. Shin Seung Jung yang melihat potensi para atlet ini yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Selain prestasinya, Menurut pelatih asal Korea itu, mereka juga adalah para atlet yang aktif di media sosial dengan banyak memperagakan atraksi freestyle taekwondonya. Misalnya Andi Sultan.  Ia adalah atlet multitalenta yang memang memiliki karakter dan bakat yang luar biasa dan sangat membantu penilaiannya dalam melihat potensi atlet tersebut.

“Era digital teknologi informasi saat ini memang memungkinkan kita bisa menilai kapasitas para atlet. Dan selain prestasinya, mereka ini adalah salah satu dari produk audisi PBTI yang direkomendasi oleh tim Talent Scouting yang terus memantau perkembangan prestasi mereka sebelumnya. Ujar Mr, Shin

Sementara itu, ketika dimintai dalam keterangannya, Ketua Umum PBTI Letjen TNI (Purn) H. M Thamrin Marzuki berharap ketiga atlet Cadet Indonesia ini tampil maksimal. Dengan usia yang masih muda, mereka akan punya pengalaman internasional dan jam terbang yang lebih panjang dalam menorehkan dan membawa harum nama bangsa dan negara.  Mereka adalah aset timnasional Indonesia kedepan yang harus terus diasah lebih baik dari hari-kehari.

Menurut Ketua Umum PBTI, Program audisi atlet memang merupakan salah satu alternatif program penjaringan dan seleksi PBTI.

“Program Audisi atlet akan memungkinkan kita bisa lebih optimal melakukan penjaringan dan seleksi atlet berbakat secara efektif dan efisien. Dan yang paling penting program audisi ini bisa dan mampu mengakomodir potensi para atlet yang tersebar hingga kepelosok daerah yang mungkin saja tidak terjangkau atau teridentifikasi oleh pengurus didaerah.” Terang Thamrin  

 

Audisi dan Seleksi Nasional Atlet Taekwondo Indonesia untuk persiapan Sea Games 2022 yang berlangsung di Hotel Green Forrest Bogor, Jawa Barat sejak 6 Desember 2021 lalu, resmi berakhir (12/12). Sebanyak 23 atlet (14 atlet putra dan 9 atlet putri) diaudisi dan diseleksi secara ketat dengan parameter obyektif yang dilakukan oleh tim penilai.  Adapun tim penilai sendiri terdiri dari jajaran pelatih nasional, maupun yang berasal dari tim yang menilai dari sisi psikologi, kesehatan maupun dari sisi fisik berbasis  ‘sport science’.  

Audisi dan Seleknas ditutup oleh Ketua Umum PBTI. Letjen TNI (Purn) H. M Thamrin Marzuki, S.Sos didampingi oleh Kabid Binpres, Yefi Triaji, Kabid Diklatbang, Dr. Fahmy Fachrezzy, M.Pd, dan Kabid Organisasi Brigjen TNI (Purn) Untung Waluyo. Hadir pula Ketua Pengprov Ti Jawa Tengah, Alex Haryanto.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PBTI merasa bangga sekaligus mengapresiasi antusiasme dan semangat para atlet yang mengikuti audisi dan seleknas ini. Antusiasme dan semangat mengikuti setiap tahap pelaksanaan seleksi yang sangat ketat ini, menurutnya modal kuat  bagi tim pelatnas taekwondo nantinya dalam menjalankan berbagai program latihan.

Selain itu, dirinya juga menjamin bahwa proses penilaian yang berlangsung selama audisi dan seleknas ini dilaksanakan secara obyektif, fair dan terukur.

“Hanya atlet berkualitas sesuai kualifikasi dan standard yang kita inginkan yang akan lolos dan akan berada dalam pelatnas taekwondo nanti.” Ujar Thamrin.

Lebih lanjut ketua umum PBTI juga menekankan bahwa agar atlet dan seluruh tim tetap fokus menjaga protokol kesehatan. Apalagi menurutnya pandemi Covid – 19 belum berakhir ditambah dengan kekhawatiran masuk dan berkembangnya varian virus ‘Omicrom” di Indonesia.

Disisi lain Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres), Yefi Triaji  mengatakan bahwa hasil audisi dan seleknas ini merupakan salah satu dari komitmen PBTI dalam menjaring atlet potensial dan berprestasi di PON XX Papua lalu. Selanjutnya bagi mereka yang lolos, akan masuk menjadi bagian dari persiapan timnas taekwondo Indonesia menuju Sea Games, Vietnam 2022 mendatang.

“Kami akan menentukan dan mengumumkan hasilnya segera dalam waktu dekat. Yang penting pada prinsipnya, siapapun atlet yang terpilih adalah selain terbaik dari segi teknik, mereka yang terpilih adalah atlet yang siap dari segi fisik, mental dan intelegensia.” Terang Yefi.

Ditambahkan Yefi, proyeksi kedepan, dengan sistem yang sudah kita bangun saat ini, semoga kita bisa mendapatkan atlet dengan masa produktif yang lebih panjang dari hasil program prestasi yang berorientasi pada olimpiade sesuai dengan roadmap Desain Besar Olahraga Nasional. Tentu menurutnya program pengembangan atlet jangka panjang (Long Term Athlete Development Program) ini, bisa efektif berjalan jika proses pembinaan terstruktur dengan materi dan kompetensi  kepelatihan yang baik yang didukung oleh sistem dan massifnya kompetisi yang berlangsung ditanah air.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan, Kepelatihan dan Pengembangan (Diklatbang) Dr. Fahmy Facherzzy, M.Pd mengatakan bahwa tim sport science taekwondo Indonesia sudah bekerja dan telah mengevaluasi seluruh atlet. Hasilnya akan disampaikan lepada Ketua Umum.  Intinya menurut Fahmy, selain aspek technical skill yang dinilai oleh para pelatih, hasil penilaian dalam seleknas yang berbasis digital sport science ini juga telah bekerja mengukur kapasitas dan kinerja fisik atlet berdasarkan aspek Phisical (metabolisme tubuh, berat badan, kadar dan komposisi gizi,  protein, lemak hingga mengukur kekuatan massa tulang atlet.

Aspek phisical lainnya adalah menyangkut kriteria genetic speed dan kesimbangan. Sementara dari hasil kesehatan atlet  akan dilaporkan oleh tim dokter pelatnas taekwondo dari hasil psikotest tentang mentalitas bertanding dan intelegensia atlet.  Dikatakan Fahmi, secara umum hasil audisi dan seleknas ini, kondisi fisik tim hanya tinggal menyempurnakan performa atlet lewat program khusus.

“Diharapkan Februari nanti kondisi team sudah progress, Maret akan dilakukan test kembali. Namun teknik, taktik dan strategi perlu mendapat perhatian khusus dari pelatih. Ini dilakukan untuk mengejar sisa 4 bulan menjelang Sea Games, Vietnam 2022.” Ujar Fahmy

Prestasi Taekwondo Indonesia, khusus di kategori Kyorugi (tarung) harus diakui sejauh ini masih belum maksimal di ajang multi event Sea Games. Bahkan harus diakui bahwa kita masih belum bisa berbicara banyak diajang Asian Games dan Olimpiade, karena kita belum berhasil meloloskan wakilnya ke ajang multi event tertinggi dan bergengsi tersebut. Inilah tantangan yang harus dihadapi. Kita harus tetap optimis bahwa Taekwondo Indonesia kedepan akan kembali menorehkan catatan prestasinya untuk bangsa dan negara di ajang-ajang bergensi tersebut. Demikian hal itu disampaikan oleh Ketua Umum PBTI, Letjen TNI (Purn) H.M Thamrin Marzuki dalam arahannya saat membuka Audisi dan Seleksi Nasional Sea Games 2022 di Bogor, Jawa Barat (6/12).  Direncanakan kegiatan ini akan berlangsung hingga 12  Desember 2021 mendatang.

Ketua Umum PBTI juga menjelaskan bahwa saatnya kita harus melaksanakan semua hasil telaah dan evaluasi mengenai kekurangan atlet kita.

“Salah satu yang mendasar dari kualitas atlet kita adalah pendeknya masa produktif atlet dan masalah elementer yang masih harus terus kita benahi bersama. Yakni masalah antropometri (fisik/postur) serta problem klasik, yakni masalah mentalitas dan minimnya visi bermain dan strategi bertanding atlet. Khusus persoalan mentalitas ini memang terkait dengan psikologi, ritme dan pengalaman bertanding para atlet di event internasional.” Ujar Ketua Umum PBTI.

Dalam konteks inilah program Audisi dan Seleknas ini dilaksanakan. Program dan Audisi Seleknas khusus untuk atlet kyorugi ini, diharapkan nanti menghasilkan progress perubahan yang lebih baik dan lebih terarah terkait kebutuhan dan tantangan pemenuhan kualitas atlet kedepan.

“Yang kita capai tentu bukan hanya di Sea Games 2022 saja, tapi juga orientasi pembinaan dan pengembangan prestasi jangka panjang menuju Olimpiade Paris 2024. Oleh karenanya, selain seleksi atlet, kualitas kejuaraan internasional juga menjadi catatan penting untuk juga menjadi bagian dari seleksi guna menentukan kejuaraan internasional apa yang selayaknya diikuti oleh timnas taekwondo Indonesia dalam rangka untuk mengkontruksi kualitas bertandingnya.” Terang Thamrin.

Sementara itu, salah satu anggota tim yang meng-audisi dan menseleksi atlet, Dr. Fahmy Fachrezzy, M.Pd mengatakan bahwa Sea Games 2022 ini adalah pintu masuk utama terkait dengan sejauhmana efektifitas program audisi dan seleksi ini dilakukan. Jangka panjangnya tentu adalah Olimpiade Paris 2024.

“Walau waktu saat ini amat pendek, Namun masih bisa kita lakukan banyak hal untuk melakukan perbaikan secara bersama-sama. Komitmen pengurus dan sikap optimis seluruh stakeholders taekwondo Indonesia menjadi prasyarat bahwa taekwondo Indonesia bisa maju, berkembang dan kompetitif di event Internasional.” Ujar Fahmy yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang Pendidikan, Latihan dan Pengembangan PBTI.

Ditambahkan Fahmy, salah satu aspek yang dibenahi saat ini terutama pada kriteria talent scouting atlet potensial dengan fokus pengamatan pada aspek genetic speed yang baik. System seleksi yang akurat, pelatih serta sistem system pembinaan dan kompetisi yang bersifat desentralisasi dan sentralisasi sesuai dengan pola piramida pembinaan.

“Untuk Audisi kali ini, selain faktor technical skill, PBTI menekankan  pada hasil test psikologi yang berisi muatan tentang eksplorasi kecerdasan emosional atlet dilihat dari studi kasus terkait ketahanan mendapatkan tekanan, motivasi juara dan kerjasama team.” Imbuhnya.

Untuk diketahui bahwa program audisi dan seleksi nasional atlet ini merupakan hasil menelaahan tim talent scouting PBTI dari hasil PON XX Papua lalu, para atlet potensial yang berbakat dilihat dari segi usia, antropometri, motorik gerak dan visinya bermain diarena. 

Dari hasil itu didapatkan 23 atlet yang akan diaudisi. Terdiri dari 10 atlet (lima puttra dan lima putri) yang saat ini masih menghuni pelatnas, yaitu, atlet putra terdiri dari Reynaldi Atmanegara (Jawa Tengah), M. Bassam Raihan R (DKI Jakarta), Adam Yasid Ferdyansyah (Jawa Barat), Kenny Rafael Mumpel (DKI Jakarta), Nicolass Armanto (Jawa Barat). Adapun atet putri terdiri dari  Ni Kadek Heni Prikasih (Bali), Megawati Tamesti. M (Jawa Barat), Mariska Halinda (Kalimantan Timur), Shaleha Fitriana Yusuf ( Jawa Tengah), dan Dinda Putri Lestari (Jawa Tengah).

Sementara itu, dari hasil Talent Scouting, diperoleh 13 atlet terdiri dari 9 atlet putra dan 4 atlet putri. Atlet putra terdiri dari Dinggo Ardian Prayoga (Jawa Barat), Thoriq Muhammad Hafidz (DKI Jakarta), Ossanando Naufal (Jawa Tengah), Daffa Rizki Pradana (Jawa Barat), Hilmy Rizki Pradana (DKI Jakarta), M Wijaya Hamzah (Jambi), Alfian Dzulfikar (Jawa Timur), Luthfi Lukmanul hakim (Kaltim), Dhiva Rahmani Sanjaya (Jawa Barat). Adapun atlet putri terdiri dari Silvana Lamanda (Gorontalo), Gloriya Rinny Keleyen (Papua), Novrika Kusuma R (Banten), dan Permata Cinta Nadya (DKI Jakarta).

Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) bekerjasama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) sukses menggelar diklat pelatih taekwondo tingkat nasional 2021 yang berlangsung dari tanggal 29 November – 5 Desember 2021 di Hotel Plagoo Holiday Bali yang sendiri direncanakan.

Kegiatan training of trainer yang diikuti oleh 36 peserta dari berbagai pelatih yang yang difasilitasi oleh Pengprov di seluruh Indonesia ini fokus pada upaya membangun mindset dan orientasi untuk menjadikan para atlet binaannya berprestasi sesuai dengan parameter program kepelatihannya yang berbasis sport science.

Kegiatan ini ditutup oleh Kemenpora yang diwakili oleh Kepala Sub Bidang Peningkatan Tenaga Pendukung Asdep Tenor, Bapak Madih, S.Sos.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) dan seluruh jajaran pengurusnya yang telah merekomendasikan para narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya untuk membekali para pelatih. Selain itu dirinya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada narasumber yang dengan intens, sesuai dengan ekspektasi pemerintah memberikan training kepada para peserta. Sehingga selama pendidikan kepelatihan berlangsung, antusiasme peserta tetap tinggi menyerap materi.

“Kami, pemerintah berharap dengan orientasi dan visi pemerintah dalam desain Besar Olahraga Nasional, parameter menemukan bakat atlet oleh para stakeholders olahraga, khususnya oleh para pelatih dapat dilaksanakan dengan baik. Harapan kami para pelatih yang sudah dibekali ini mampu mencari terus bakat-bakat atlet, mengidentifikasinya, menjaring dan menseleksi kemudian membina hingga atlet tersebut berprestasi. Ujarnya.

Seperti yang telah disampaikan dalam pembukaan diklat ini, Pemerintah sekali lagi berharap, para pelatih disemua cabor, termasuk cabor olahraga beladiri taekwondo yang telah berhasil mengikuti diklat kepelatihan ini, mampu memadu-padankan aspek technical skill yang baik yang dibarengi dengan pengetahuan kepelatihan yang komprehensif, sehingga Desain Besar Olahraga Nasional sebagai misi besar pemerintah, guna menjaring dan mendapatkan atlet berbakat dan berprestasi untuk mewakili Indonesia di event internasional akan dapat tercapai.  

Untuk diketahui, kegiatan diklat kepelatihan ini, selain materi technical & phisical training, peserta juga diberikan materi tentang strategi dalam mempersiapkan atlet jelang dan pada saat pertandingan, materi tentang aturan pertandingan (competition rule), mental training, penanganan cidera atlet, hingga etika pelatih dan materi tentang manajemen pertandingan.  

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBTI, Indra Mulia dalam sambuatnnya mewakili Ketua Umum PBTI menyampaikan ucapan terima  kasih kepada seluruh pihak, baik kemenpora, panitia yang bertugas dan khususnya kepada para narasumber dan peserta yang dengan serius melaksanakan diklat dengan baik. Dirinya berharap apa yang telah didapatkan dalam Diklat ini, juga semestinya di transformasi oleh para peserta kepada para pelatih lainnya didaerah masing-masing, sehingga pemerataan pengetahuan didaerah antar para pelatih akan terus terjalin.

“ Saya meminta para pelatih untuk terus memacu diri agar pengetahuan tentang kepelatihan terus update seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi dibidang olahraga. Khususnya mengenai olahraga taekwondo Diklat pelatih ini hanyalah sarana untuk mestimulasi khasanah berfikir dan semangat serta motivasi para pelatih untuk mencari, menemukan dan mencetak para atlet berprestasi dimasa yang akan datang.” Terang Sekjen PBTI

Lebih lanjut Sekjen PBTI mengatakan bahwa tidak ada proses yang instan, tapi persiapan, perencanaan yang terukur dengan baik adalah jaminan bahwa proses akan menuai hasil secara maksimal dengan baik. Ditangan para pelatih-lah sumber daya atlet Indonesia ini akan terjaga kontinuitas prestasi para atlet di berbagai daerah yang menjadi sumber utama atlet nasional taekwondo Indonesia.

“Sekali lagi, mewakili Ketua Umum, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak, dan semoga seluruh peserta dan narasumber dapat kembali ke daerah masing-masing dengan selamat. Sampaikan salam kami kepada ketua Pengprov dan seluruh pengurus TI di daerah. Dan sekali lagi jangan lupa, agendakan program yang secara kontinyu mampu menciptakan sinergi yang baik dalam menghasilkan regenerasi atlet yang berkualitas di masa yang akang datang.” Tegas Indra Mulia yang juga merupakan salah satu pemegang Gelar DAN Taekwondo tertinggi di Indonesia..

Pada acara Diklat kali ini terpilih Pelatih putra muda berbakat dengan nilai tertinggi yaitu  Fadhil G Wijaya dari Pengprov DI. Yogyakarta dan untuk Putri Dewi Selviana dari Pengprov Kalimantan Barat. Penilaian peserta terbaik ini semoga memberikan nilai positif sebagai bekal motivasi mereka juga untuk memberikan ilmunya kepada sesama pelatihnya di daerahnya.

Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) kembali mengadakan seleksi nasional (Seleknas) untuk atlet pelatnas taekwondo kategori poomsae (jurus), Jumat (11/11/2021).

Bertempat di Hotel Green Forest, Bogor, Jawa Barat, seleknas tersebut dilakukan untuk memenuhi tambahan kuota kebutuhan timnas taekwondo Indonesia, yakni sebanyak 18 atlet yang nantinya akan menghuni pelatnas SEA Games XXXI Hanoi, Vietnam 2022.

Menurut Ketua Umum PBTI, Letjen TNI (Purn) H. M Thamrin Marzuki, seleknas tersebut bertujuan untuk lebih memperketat proses pengadaan atlet pelatnas. Hal ini, kata dia, guna memperoleh atlet dengan tingkat kualitas yang baik dan supaya atlet taekwondo Indonesia bisa bersaing ketat dengan atlet-atlet di tingkat Asia Tenggara, yang rerata berlevel dunia.

“Para atlet yang dipanggil seleknas itu, adalah hasil penilaian yang telah dilakukan oleh PBTI melalui evaluasi dan kebijakan promosi dan degradasi atlet pelatnas yang akan diambil 3 putra dan 3 putri, hasil seleknas secara online yang akan dipilih 5 orang atlet putra dan putri, serta dari hasil penilaian tim talent scouting PON ke-20 Papua 2021,” terang Thamrin.

Pihaknya yakin, proses seleksi dengan mempertimbangkan hasil evaluasi melalui kebijakan promosi dan degradasi, monitoring, seleksi online serta hasil penilaian tim talent scouting dari PON XX Papua, akan didapatkan atlet-atlet yang sesuai dengan standarisasi dan ekspektasi pelatih, untuk target pencapaian hasil maksimal di SEA Games Vietnam 2022 mendatang.

“Dengan perjalanan dan rekam jejak prestasi atlet, baik untuk atlet timnas yang sudah ada di pelatnas, dan atlet-atlet lainnya yang baru akan bergabung, saya percaya untuk nomor poomsae, kita akan bisa memberikan hasil terbaik. Oleh karenanya, komposisi 30 persen atlet senior dan 70 persen atlet junior yang akan menjadi penghuni pelatnas nanti adalah komposisi ideal saat ini untuk mendorong semangat dan motivasi mencapai target medali di SEA Games Vietnam nanti,” ungkapnya.

Di samping itu, Ketua Umum PBTI juga memberikan arahan dan mengingatkan terkait etos berlatih, kedisiplinan, serta semangat kepada para atlet. “Ketika menghuni pelatnas, mereka dapat fokus dan bisa mengikuti setiap program maupun strategi kepelatihan yang diberikan para pelatih,” imbuhnya.

Seleknas tersebut dilakukan secara tertutup. Para atlet akan diuji atau di tes oleh tim pelatih pelatnas yang terdiri dari, pelatih kepala Mr. Shin Seung Jung, Mukhlish Ba Alwi, Maulana Haidir dan Laras Fitriana Sumarna. Mereka menguji jurus dan gerakan dari test basic movement, test poomsae (I Jang – 8 Jang), test basic tendangan, new poomsae, freestyle poomsae, dan test poomsae Koryo – Sipjin.

Adapun para atlet yang dipanggil seleknas diantaranya terdiri dari 6 orang atlet pelatnas, yakni M. Alfi Kusuma (Jawa Barat), M. Hafifizh Fachrur (Jawa Tengah), M. Syarif Hidyatullah (Jawa Barat), Defia Rismaniar (Jawa Barat), Mutiara Habiba (Jawa Tengah), dan Kevita Deliza Rizkia (Jawa Barat).

Kemudian, dari hasil seleknas online, atlet yang dipanggil untuk mengikuti seleknas terdiri dari Muhammad Rizal (Jawa Barat), Raymond Arya Krina (Jawa Timur), Eko Nugraha (DKI Jakarta), Gabriel Simorangkir (Kaltim), E.M Riyandi Kusuma (Jawa Barat), Noverentiwi Ramandhanifa (Jawa Barat), Nur Azizah (Sulwesi Tengah), Ina Rahma Prawesti (Banten), Maheswari Enesia irianto (Jawa Barat), dan Avisha Nabila Shaman (Jawa Barat).

Sementara itu, atlet yang dipanggil dari hasil penilaian tim Talent Scouting di PON XX Papua lalu diantaranya, Muhammad Rizal (Jawa Barat), Gabriel Simorangkir (Kaltim), Abdurahman Darwin (Sulawesi Tengah), Ruhil (Kaltim), dan Rahhmania G. Putri (Jawa Barat).

Untuk diketahui, hadir dalam seleknas tersebut yakni, Ketua Umum PBTI, Letjen TNI (Purn) H.M Thamrin Marzuki, Sekjen PBTI Indra Mulia, Wasekjen Billy Apriliansyah dan Irwan Nugraha, Ketua Harian, Anthonily Siregar, Kabid Diklatbang, Fachmy Fachrezzy, Kabid Humas, Kolonel Ruminta dan Komisi Kepelatihan, Ina Febriana.

 

Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) Letjen TNI (Purn) H. M Thamrin Marzuki mengungkapkan rasa syukurnya dan mengucapkan Apresiasi serta terima kasih kepada seluruh pihak, terutama penyelenggara, Offcial dan manajer team, pelatih dan wasit serta khususnya para atlet yang telah melaksanakan pertandingan cabor taekwondo di PON XX yang berlangsung di GOR Diklat Penerbangan, Jayapura 2 – 5 Oktober 2021 dengan lancar, aman, fair dan sportif.

“Selaku Ketua Umum, saya menyaksikan seluruh pertandingan dari hari pertama hingga hari terakhir ini, semua berjalan lancar, aman, fair dan sportif.  Ini tentu sesuai harapan kita semua. Untuk itu, saya mengapresiasi kepada seluruh peserta yang komit dan konsisten menjalankan semua proses dan aturan pertandingan dengan sangat baik..” Ujar Ketua Umum PBTI

Di ajang PON XX Papua ini, juara umum cabor taekwondo berhasil dipertahankan Propinsi Jawa Barat. Diikuti 168 atlet dari 30 Propinsi di Indonesia, Jawa Barat sukses meraih 9 medali emas 3 perak dan 3 perunggu. Sementara tuan rumah Papua, berhasil masuk ke peringkat ke 7 dengan raihan 1 emas dan 2 perunggu.

Ketua Umum PBTI juga mengingatkan bahwa di setiap pertandingan, sudah tentu ada yang menang dan ada yang kalah. Oleh karena itu, menurutnya apapun hasilnya, kita patut bersyukur kepada Allah SWT, Tuhan YME bahwa semua hasil yang diraih di pertandingan taekwondo ini, itu semua adalah hasil yang bisa kita buktikan atas seluruh proses kinerja semua pihak.

“Saya tegaskan, kemenangan dan kekalahan atlet bukan semata-mata terjadi atas kontribusi atlet yang bersangkutan, tapi atas ridho Allah SWT - Tuhan YME dan  atas keterlibatan serta kontribusi semua pihak. Dari pengurus, pelatih, tim official, bahkan peran dan partisipasi stakeholders daerah masing-masing. Termasuk yang utama adalah peran dan dukungan orang tua dan keluarga. Dengan memahami itu, atlet dan tim yang menang, seharusnya bisa menjadi atlet yang selalu rendah hati, mawas diri dan tetap bersahaja. Sementara Atlet yang kalah tidak perlu berkecil hati, karena hasil hari ini bukanlah akhir, tapi bisa menjadi awal yang lebih baik lagi event-event selanjutnya.” Ungkap Thamrin

Yang paling penting dari seluruh proses pertandingan ini menurutnya adalah kita semua harus melakukan evaluasi. Selaku Ketua Umum, dirinya juga akan mengevaluasi semua proses pelaksanaan PON XX Papua ini. Termasuk melakukan telaah dan analisis hasil monitoring para atlet pelatnas dan para atlet muda potensial yang tampil gemilang di PON XX Papua.  

Dirinya juga berharap hal ini berlaku di tingkat Pengprov TI masing-masing. Intinya, pasca pesta akbar PON XX Papua ini, audit kinerja, tata kelola administrasi dan tata kelola pembinaan serta pengembangan prestasi mutlak harus dilakukan untuk mengkonstruksi masa depan prestasi taekwondo menjadi lebih baik lagi.

“Dalam kesempatan yang baik ini, mewakili Keluarga Besar Taekwondo Indonesia, saya mengucapkan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tuan rumah Papua. PON XX Papua kali ini adalah pesta olahraga akbar nasional yang luar biasa. Kami bukan saja mendapat kehormatan berada di tanah indah Papua, tapi juga mendapat kesan mendalam atas keramahtamahan, keseteraan dalam keberagamaan dan rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa.” Terang Thamrin.

Tak lupa selaku Ketua Umum PBTI, dirinya mewakili keluarga besar taekwondo Indonesia juga menyampaikan permohonan maaf jika selama pertandingan berlangsung, banyak tutur kata, sikap dan perilaku yang kurang berkenan, sehingga mencederai persahabatan dan kebersamaan kita sebagai keluarga besar taekwondo Indonesia.

“Saya selaku pribadi, sekaligus selaku Ketua Umum PBTI dan mewakili keluarga besar taekwondo Indonesia memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada tuan rumah Papua, jika ada tutur kata, sikap dan tindak tanduk perilaku kami yang kurang berkenan.” Ungkapnya 

Ketua Umum PBTI juga mengirimkan pesan kepada seluruh partisipan untuk memberikan kesan positif yang mendalam kepada keluarga, sahabat dan rekan-rekannya di daerah masing-masing, terkait semua hal yang indah dan menyenangkan tentang eksotisnya alam dan tingginya adat dan budaya tanah Papua yang sempat kita nikmati.

Propinsi Jawa Barat kembali menjadi kampiun juara umum untuk cabor taekwondo PON XX papua yang berlangsung di GOR Diklat Penerbangan, Jayapura 2 – 5 Oktober 2021. Diikuti 168 atlet dari 30 Propinsi di Indonesia, Jawa Barat sukses meraih 9 medali emas 3 perak dan 3 perunggu. Sementara tuan rumah Papua, berhasil masuk ke peringkat ke 7 dengan raihan 1 emas dan 2 perunggu.

Hari keempat atau hari terakhir perhelatan PON XX Papua di cabor Taekwondo yang berlangsung di gedung Politeknik Penerbangan Papua mempertandingkan 5 kelas kyorugi. Dikelas Under 80 Kg Putra, Taekwondoin Jawa Barat Dinggo Ardian Prayogo berhasil memperoleh emas dengan mengalahkan taekwondoin asal Sumatra Barat Bimantara Subrata yang harus puas meraih perak. Medali perunggu direbut taekwndoin asal Kaltim Luthfi Lukmanul Hakim dan taekwondoin Muhammad Akbar Sidik.

Dikelas Under 54 taekwondoin yang juga atlet pelatnas, Reynaldy Atmanegara berhasil merebut emas dengan mengalahkan taekwondoin asal Jawa Barat Dhiva Rahmani Sonjaya. Sementara medali perunggu berbagi atlet asal DKI Jakarta  Panduaji Alzayed dan R. Odo PrangbakatSuryokamto asal DIY Yogyakarta.

Sementara itu dikelas Under 46 putri, taekwondoin nasional Ni Kadek Heni Prikasih sukses mempersembahkan medali emas untuk propinsi Bali setelah difinal mengalahkan taekwondoin asal Banten Fisca Afe Relia yang harus puas mendapatkan medali perak. Perunggu dikelas ini diraih taekwondoin asal DKI Jakarta Felita Chaniago dan Jauza Rona Hassan asal Jawa Tengah.

Prestasi mengejutkan terjadi dikelas Under 53, dimana taekwondoin asal Papua Glorya Rinny Keleyen sukses mempersembahkan emas pertama untuk Papua di cabor taekwondo setelah difinal mengalahkan taekwondoin asal Jawa Tengah Tsamara Tsabitah. Sementara perunggu harus puas diraih atlet pelatnas Mariska Halinda asal Kaltim dan Hanifah Safitri asal Riau.

Dipartai terakhir, dikelas over 87 Kg putra taekwondoin asal Jawa Barat Nicholass Armanto sukses meraih emas dengan mengalahkan Addekumara Sandi asal Jawa Tengah yang harus puas meraih perak. Adapun perunggu direbut taekwondoin asal Riau Galuh Kogas Prakasa dan Pradito Damas Pradana.  

Dengan demikian, sejak pertandingan cabor taekwondo ini digelar dari tanggal 2 Oktober 2021 lalu, Jawa Barat berhasil mempertahankan posisi sebagai juara umum dengan raihan total medali 9 emas, 3 perak dan 3 perunggu. Peringkat kedua berhasil ditempati Jawa Tengah dengan 4 emas, 6 perak dan 5 perunggu. Sementara DKI Jakarta harus puas diposisi ketiga dengan 3 emas, 1 perak dan 6 perunggu. Diposisi keempat Sulawesi Tengah dengan 1 emas dan 2 perak, diikuti Bali  dengan 1 emas, 1 perak dan 4 perunggu. Tuan rumah Papua di perhelatan PON XX kali ini cukup mengejutkan dengan keberhasilan  meraih 1 emas dan 2 perunggu.

Terkait dengan suksesnya penyelenggaraan cabor taekwondo di PON XX Papua ini, Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI), Letjen TNI (Purn) H.M Thamrin Marzuki dalam arahannya mengatakan dirinya bersyukur seluruh jalannya pertandingan berlangsung dengan lancar, aman, fair dan sportif.

“Selaku Ketua Umum, saya menyaksikan seluruh pertandingan dari hari pertama hingga hari terakhir ini, semua berjalan lancar, aman, fair dan sportif.  Ini tentu sesuai harapan kita semua. Untuk itu, saya mengapresiasi kepada seluruh peserta yang komit dan konsisten menjalankan semua proses dan aturan pertandingan dengan sangat baik..” Ujarnya

Senada dengan Ketua Umum, Ketua Technical Delegade, yang juga selaku Kabid Binpres PBTI Yefi Triaji mengatakan bahwa dirinya juga mengapresiasi seluruh peserta dan tim official, pelatih dan para wasit yang sudah bekerjasama dengan baik, sehingga pertandingan taekwondo PON XX Papua ini berjalan dengan lancar sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

Namun demikian, dirinya juga tetap akan mengevaluasi terkait proses pelaksanaan pertandingan ini. Selain itu dirinya juga dalam waktu dekat akan memanggil tim talent Scouting yang memantau dan memonitoring para atlet. Sebab menurutnya, dari ajang PON XX Papua ini, ada beberapa atlet muda yang memiliki potensi bagus untuk terus dikembangkan menjadi atlet nasional dimasa depan.

 

 

 

 

Kontingen Jawa Barat memperkokoh posisinya sebagai peringkat teratas perolehan medali untuk sementara di cabor taekwondo hingga hari ketiga di PON XX Papua dengan menambah 3 medali emas.  Ketiga emas di hari ketiga, pertandingan taekwondo yang dilangsungkan di GOR Politeknik Penerbangan Jayapura, Papua,  tersebut diraih masing-masing Megawati Tamesti Maheswari kyourugi di kelas under 49 kg putri, Muhammad Rizaldi dikelas under 74 kg putra  dan Adam Yazid di kyorugi dikelas Under 68 kg.

Adam Yazid Ferdyansyah berhasil menyumbang emas setelah di pertandingan final mengalahkan taekwondoin asal DKI Jakarta Kenny Rafael Mumpel dengan skor akhir 38-15 pada PON XXX Papua 2021.

Kedua taekwondoin mempertontonkan pertandingan yang sangat menarik. Adam maupun Kenny sama-sama tampil menyerang dengan teknik-teknik tendangan yang variatif. Di ronde pertama, pertandingan lebih dikuasai oleh Adam Yazid Ferdyansyah dengan mencatatkan nilai 20 sedangkan Kenny hanya mampu mengumpulkan empat poin. Beberapa pukulan dan tendangan dari atlet unggulan Jawa Barat tersebut membuat Kenny harus terjatuh bahkan sempat keluar dari garis matras.

Di ronde kedua Adam tidak menurunkan serangan. dan sebaliknya peraih medali emas pada PON XIX Jawa Barat 2016 tersebut semakin menggencarkan tendangan ke lawannya. Bahkan, beberapa kali Kenny kembali dibuat jatuh. Tapi Kenny bukan tanpa perlawanan, di suatu momen ia juga berhasil membuat peraih juara dua Chuncheon Korea Open 2015 tersebut juga jatuh. Pada babak kedua skor masih menjadi milik Adam yakni 27 berbanding sembilan milik Kenny Rafael Mumpel. Di ronde ketiga, atlet DKI Jakarta tersebut mulai mengalami kesulitan dan tampak kehabisan tenaga. Di akhir laga, Adam yang merupakan juara satu Jeonju Open Korea pada 2016 tersebut memastikan diri meraih medali emas dengan skor akhir 38-15, sekaligus menyumbang emas untuk Jawa Barat.

Sementara itu, emas kedua bagi kontingen Sumatera Barat (Sumbar) berhasil diraih melalui atlet andalannya yakni Delva Riski yang bermain kelas 0-73 Kg. Tampil menjanjikan pada dua pertandingan awal dengan mendapatkan kemenangan atas Sulawesi Tengah dan Papua, difinal Delva tampil berhati-hati saat menghadapi kontingen Riau, Bella Oktafianti. Sejak awal pertandingan, Delva tampil lebih unggul hingga berhasil mengamankan medali emas bagi Sumbar. Delva menang dengan skor akhir 23-13. Selain Delva, Sumbar juga berhasil mengamankan medali perunggu berkat Densa Mata Astrit. Densa harus puas meraih perunggu setelah dirinya kalah pada kelas U-73 oleh M Rizaldi dari Jawa Barat dengan skor telak saat babak semifinal.

Sampai hari ketiga pertandingan taekwondo, 5 besar klasmen perolehan medali untuk sementara masih dipegang Jawa Barat dengan meraih total 7 emas, 2 perak dan 3 perunggu. Jawa Tengah yang sebelumnya berada di urutan ketiga, akhirnya berhasil menggeser DKI Jakarta dengan menambah 1 emas menjadi total 3 emas, 4 perak dan 4 perunggu. DKI Jakarta untuk sementara berada di posisi ketiga dengan raihan 3 emas 1 perak dan 4 perunggu, diikuti Sulawes Tengah yang berada diposisi keempat dengan raihan 1 emas dan 2 perak. Selanjutnya Sumatra Barat dengan 1 emas dan 2 perunggu.

Sehari sebelumnya, Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman berkesempatan mengunjugi pertandingan Taekwondo. Dalam kunjungannya tersebut, Marciano Norman mengucapkan terimakasih kepada seluruh atlet yang berpartisipasi di PON XX kali ini. Tidak hanya itu, ia juga menyampaikan beberapa pesan mengenai gelaran acara PON Papua 2021. Salah satunya tentang penerapan protokol Kesehatan dan harapan di PON Papua 2021.

“Saya harapkan pembukaan PON yang begitu megah akan diimbangi dengan prestasi atlet yang kita bisa banggakan. Lalu, protokol Kesehatan kita bisa menerapkan secara ketat, sehingga tidak menerapkan masalah setelah PON selesai. Jadikan ini juga momentum yang sangat baik untuk kita dengan saudara kita di Papua, mempererat persaudaraan kita. Bahwa kita merupakan bagian dari mereka, mereka juga merupakan bagian dari kita dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Ujar Ketum KONI pusat.

Marciano juga berharap di cabang olahraga Taekwondo ada atlet muda yang bisa diambil dari PON XX Papua.

“Saya berharap ada atlet-atlet muda yang bisa kita jaring dari PON ini. Atlet-atlet senior juga masih mempertahankan prestasinya, dan performa mereka juga masih sangat baik. Tapi kita harapkan juga atlet muda akan lahir dari cabor Taekwondo” ungkap Marciano Norman yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBTI selama dua periode tersebut.

 

 

 

 

 

 

Senayan Trade Centre (STC),
Senayan, Lantai 3 No.173B,
Jalan Asia Afrika. Jakarta Selatan
Telp: 021-29407769

Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Cari

Peta Kantor PBTI