PBTI memberangkatkan 22 atlet pelatnas untuk melakukan training camp ke Korea Selatan (22/4). Selama di Korsel, selain berlatih di Sehan University, Gwangju dan di awasi langsung oleh prof. Park selaku Pelatih Kepala disana, timnas taekwondo Indonesia juga akan mengikuti sejumlah pertandingan untuk mengukur sekaligus mengevaluasi kinerja pemusatan latihan selama ini.

Menurut Kabid Binpres PBTI, Rahmi Kurnia, atlet poomsae akan digembleng teknik, stamina dan keseimbangannya oleh seorang professor taekwondo langsung. Berbagai kekurangan akan terus dievaluasi untuk mencapai kesempurnaan penampilan saat Asian Games nanti.

Sementara untuk atlet kyorugi, menurut Rahmi para atlet akan lebih sering berlatih tanding dengan atlet profesional Korea yang memiliki kualitas kelas internasional, atau mereka yang sering juara di level-level kejuaraan internasional. Di Korea menurut Rahmi, banyak sekali klub-klub profesional yang memiliki atlet kelas dunia.

“Dengan seringnya para atlet berlatih tanding, diharapkan para atlet akan makin berpengalaman dan semakin terbiasa bertanding dengan kualitas lawan yang baik. Selain itu, bagi pelatih hal ini juga akan makin efektif untuk mengevaluasi taktik dan strategi serta mental para atlet” Ujar Rahmi.

Korea Selatan dipilih karena merupakan salah satu poros kekuatan taekwondo dunia. PBTI merasa perlu untuk mengukur kemampuan dengan atlet pelatnas negara itu. Atlet yang berangkat pun berasal dari empat nomor Poomsae, yakni tim Putra-Putri, individual Putra-Putri, new Poomsae, dan recognize.

Setelah dari Korea, Timnas akan mengikuti Kejuaraan Asia di Vietnam, kemudian try out ke Cina untuk mengikuti kejuaraan China Terbuka tanggal 6-8 Juni," kata Rahmi.

Seluruh rangkaian ini akan ditutup dengan training camp lanjutan di Korea Selatan bagi seluruh atlet di tiap nomor. Rahmi mengatakan atlet pelatnas masih sangat perlu peningkatan fisik dan pengalaman. Rangkaian program pelatnas ini ditujukan untuk ke arah sana.

Ia pun cukup optimistis Indonesia mampu berbicara banyak di Asian Games 2018 mendatang. "Untuk saat ini kalau dari pemerintah minta satu emas, tapi dari pengurus besar sendiri ditargetkan dua medali emas," kata Rahmi.

Sebelumnya pada hari Rabu, 18/4 bertempat di Hotel Mulia Ketua Umum PBTI, Bapak Letjen TNI (Purn) Marciano Norman beserta seluruh jajaran pengurus mengudang para atlet untuk beramah tamah sambil makan bersama. Di acara tersebut Marciano Norman memberikan motivasi dan semangat kepada seluruh atlet dan tim official yang akan melakukan perjalanan training camp ke Korea dan mengikuti berbagai kejuaraan sebagai bagian dari persiapan menuju Asian Games Agustus 2018 mendatang.

Dalam arahannya Marciano Norman meyakinkan dan membangun sikap optimis kepada timnas taekwondo Indonesia bahwa cabor taekwondo Indonesia akan dapat berbicara banyak di Asian Games.

“Saya mengajak seluruh elemen yang terlibat, baik atlet, pelatih dan seluruh official team untuk memanfaatkan segala momentum dan peluang selama timnas berlatih dan bertanding menimba pengalaman disana. Selalu semangat, disiplin berlatih, terus melakukan evaluasi dan analisa serta perbaikan atas berbagai kekuragan-kekurangan, hingga saatnya nanti, hasil maksimal dapat kita raih di Asian Games 2018”. Tegas Marciano.

 

Pengurus Propinsi Taekwondo Indonesia (Pengprov TI) Sumatera Selatan menyelenggarakan Rapat Kerja Propinsi (Rakerprov) yang digelar di Grand Malaka Hotel, Palembang, Sumsel Sabtu, (21/4).
Rakerprov kali ini diikuti oleh 14 dari 17 Pengkot/Pengkab TI Sumsel. Selain dari perwakilan Pengkot/Pengkab, Rakerprov juga dihadiri oleh Kepala Bidang Organisasi Pengprov TI Sumsel, Asdi Abdullah dan perwakilan dari Dispora Sumsel, Marlin. Acara dibuka oleh Kepala Bidang Organisasi Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) Yefi Triaji sekaligus memantau jalannya rakerda.

Tema Rapat Kerja Propinsi kali ini adalah “Dengan Rakerprov Taekwondo Indonesia Sumatra Selatan,Kita Dukung Program KONI Propinsi Sumatra Selatan Menuju PON XX 2020, Papua dan Ikut Mensukseskan Asian Games Ke XVIII Tahun 2018”

Menurut Yefi Triaji, Rakerprov yang dilakukan oleh Pengprov TI ini merupakan bagian dari agenda kerja Pengprov TI sesuai dengan aturan yang terdapat dalam AD/ART Taekwondo Indonesia. Menurutnya, Rakerprov ini penting dilakukan agar pengprov TI dapat mengevaluasi berbagai pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan, sekaligus memformulasika proyeksi arah, pengembangan dan prestasi taekwondo di daerah kedepan. Oleh karenanya, lanjut Yefi, Rakerda menjadi salah satu momentum penting untuk mengintegrasikan kembali semangat dan komitmen berorganisasi dalam menghadapi berbagai tantangan dan dinamika yang terjadi.

“Dengan Rakerprov, berbagai persoalan, saran dan masukan serta solusi akan menjadi efektif karena bersumber langsung dari para pengurus Pengkot/Pengkab dan dibangun berdasarkan komunikasi dua arah yang sinergis antara pengprov dengan Pengkot/pengkab, sehingga dari komunikasi tersebut, arah dan formulasi serta strategi pengembangan kapasitas organisasi dan prestasi taekwondo dapat disatu-padukan dan kemudian menjadi prioritas pekerjaan rumah bersama antara pengkot/pengkab dengan pengprov”. Ujar Yefi


Terkait pelaksanaan Rakerprov Pengprov TI Sumsel kali ini, Kabid Organisasi PBTI itu mengucapkan terima kasih sekaligus mengapresiasi seluruh jajaran pengurus, baik Pengprov maupun Pengkot/Pengkab yang berdiskusi, bertukar informasi dan memberikan masukan secara konstruktif. Hal tersebut menandakan terkonsolidasinya dengan baik komunikasi organisasi terkait berbagai program kegiatan yang telah dan akan dilakukan oleh Pengprov TI Sumsel kedepan.

Lebih lanjut Yefi mengatakan bahwa dirinya melihat begitu banyak masukan-masukan positif dari para pengkot/pengkab TI Sumsel. Utamanya terkait dengan proyeksi menuju PON XX Papua 2020 mendatang. Berbagai masukan-masukan tersebut dikorelasikan dengan makin berkembangnya sentra-sentra pembinaan atlet Junior seperti di Sekolah Olahraga Nasional (SON) di Palembang dan PPLD di Musi Banyu Asin.

Selain itu, dalam Rakerprov kali ini, concern peserta juga mengarah pada upaya perbaikan organisasi yang disepakati bersama menjadi salah satu agenda kedepan dalam rangka penataan organisasi kearah yang lebih baik lagi. Program penataan organisasi tersebut diharapkan kedepan dapat menunjang berbagai program pembinaan, pengembangan dan prestasi taekwondo di Sumsel.

“Harapan saya, tentu setelah digelarnya Rakerprov ini, arah menuju prestasi taekwondo Sumsel kedepan akan semakin baik dan tentunya pula dapat bersaing secara kompetitif di ajang PON XX Papua 2020 mendatang”. Terang Yefii.

 

 

Pengurus Propinsi Taekwondo Indonesia (Pengprov TI) DI Yogyakarta sukses menyelenggarakan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) DAN yang diselenggarakan di ruang Bima, Kompleks Balaikota Yogya, Minggu (15/4) lalu. Sebanyak 124 taekwondoin berhasil menyelesaikan ujian di berbagai tingkatan.

Menurut Ketua Umum Pengprov TI DI Yogyakarta Drs. Sukamto, dari 124 taekwondoin yang ambil bagian, penyumbang peserta  terbanyak berasal dari level geup I ke DAN 1 yakni sebanyak 41 peserta.  Disusul level Geup I ke Poom 1 sebanyak 40 peserta. Peserta lainnya berasal dari poom 1 ke poom 2 sebanyak 3 peserta. DAN 1 ke DAN 2 sebanyak 12 peserta, DAN 2 ke DAN 3 sebanyak 6 peserta, DAN 3 ke DAN 4 sebanyak 15 peserta. Untuk peserta apply DAN terdapat 3 peserta yakni pada DAN 1 sebanyak 1 orang, di DAN 2 sebanyak 2 orang peserta.

Yang menarik dari UKT DAN kali menurut Sukamto adalah adalah adanya peserta yang ambil bagian yang ditujukan untuk “pemutihan” status di TI DIY.  Istilah Pemutihan ini berlaku bagi mereka ingin kembali bergabung ke dalam taekwondo dibawah naungan PBTI. Seperti diketahui bahwa PBTI telah merekomendasikan kepada seluruh Pengprov untuk mengambil kebijakan bagi para pelaku taekwondo yang ingin kembali bergabung kedalam naungan PBTI yang selama ini mereka berada di luar PBTI.  Dan salah satu kebijakan yang dilakukan oleh pengprov adalah melakukan pemutihan saat UKT. Hal tersebut maksudkan agar seluruh peserta memiliki kesempatan ujian dan penilaian yang sama mengenai kompetensinya sesuai dengan tingkatan Geup atau Dan yang dimiliki.

“Kami memang membuka kesempatan untuk anggota dari organisasi taekwondo di luar TI untuk kembali bergabung ke TI dibawah naungan PBTI”. UJar Sukamto.

Ditambahkan Sukamto, UKT DAN yang rutin digelar ini semakin lengkap dan akreditatif karena diuji oleh penguji yang sangat kompeten dan berasal dari PBTI langsung. Mereka adalah Grand Master Tb. Indra Mulia dan Master Rahmi Kurnia. Seperti diketahui Tb. Indra Mulia adalah salah satu Grand Master yang dimiliki oleh PBTI saat ini selain GM Acen Tanuwijaya.  Beliau saat ini juga menjabat sebagai kepala komisi perwasitan PBTI. Sementara Master Rahmi Kurnia saat ini menjabat sebagai kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBTI sekaligus sebagai Komandan Pelatnas Taekwondo Indonesia.

“Kami berharap, dengan persiapan UKT dan standard kompetensi yang diharapkan oleh pengprov TI DIY, kami akan mendapatkan para praktisi taekwondo yang sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya. Harapannya, dengan kualitas yang baik, apalagi setiap UKT diuji oleh para penguji yang berkualitas, kedepan, harapanya tentu akan berdampak pada program pembinaan dan pengembangan prestasi taekwondo di Yogyakarta.  sehingga diharapkan pula prestasi DIY juga akan meningkat dan menjadi bagian penting dari salah satu daerah dalam peta persaingan taekwondo nasional dan memberikan kontribusi besar bagi atlet nasional Indonesia dimasa yang akan datang.” Tegas Sukamto.

Sementara itu, Grand Master TB. Indra Mulia mengungkapkan bahwa dalam UKT DAN di Yogya ini, dirinya melihat potensi dan kualitas taekwondoin DI Yogya semakin baik. Hanya saja dirinya memberikan catatan evaluasi tentang perlunya peningkatan latihan dan penguasaan serta pemahaman filosofi tentang poomsae atau jurus. GM Indra melihat di sisi itulah TI Yogya masih perlu berbenah.  GM Indra juga menekankan agar para taekwondoin untuk meningkatkan performa kekurangan-kekurangan tersebut dengan cara lebih giat bekerja keras lagi latihan. Hal ini menurutnya penting karena hanya dengan penguasaan skill dan pemahaman filosofi serta penjiwaan itulah dasar kita berbicara dan berjibaku tentang pembinaan dan prestasi taekwondo Indonesia.

Disisi lain, menurut Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres PBTI) yang juga selaku penguji di UKT DAN ini berharap dalam PON XX di Papua 2020 mendatang TI Yogya mampu bersaing ketat. Ia melihat beberapa tahun terakhir ini, hampir semua daerah sudah memiliki fokus program pembinaan dan prestasi. Hasilnya bisa dilihat dari berbagai event kejuaraan nasional dan Kejurnas tahun lalu. Pemerataan medali sudah mulai terlihat. “Walaupun Jabar masih mendominasi, namun penyebaran prestasi sudah terlihat merata. Ia berharap Yogya juga mampus menembus dominasi Jabar dimasa yang akan datang.” Harap Rahmi yang juga berasal dari DI Yogyakarta itu.

Lebih lanjut Rahmi mengatakan bahwa berbagai catatan evaluasi hasil UKT dari penguji yang sudah di pegang oleh Pengprov TI harus di follow up dalam bentuk program-program yang lebih intensif demi orientasi pembinaan dan pengembangan prestasi TI DI Yogya dimasa yang akan datang. Dan bagi mereka yang sudah naik satu level dari tingkatan sebelumnya, Rahmi berharap mereka dapat lebih profesional mempertanggungjawabkan jati dirinya sebagai taekwondoin.

Sumber : Taekwondo Indonesia News (TIN)

Pengurus Propinsi Taekwondo Indonesia (Pengprov TI) Banten menyelenggarakan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Sabuk Hitam yang berlangsung di GOR KONI Banten kota Serang, Jl. Cipocok Serang Banten 13 – 15 April 2018. Kegiatan tersebut diawali dengan latihan penyeragaman selama dua hari dan dilanjutkan di hari terakhir dengan ujian sabuk hitam. Adapun penguji di UKT ini terdiri dari 3 orang master. Yaitu Master Sri Budiono, Master Denny Tanod, dan Master Tarkim.

Sekretaris Umum Pengprov TI Banten Fiva Zabren mengatakan bahwa UKT sabuk hitam ini wajib bagi setiap atlet Taekwondo. Sertifikasinya juga dikeluarkan langsung dari kukkiwon Korea melalui asosiasi taekwondo di setiap negara. Kalau di Indonesia oleh Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI).  

Fiva juga menjelaskan bahwa tujuan dilaksanakannya UKT Sabuk Hitam ini adalah untuk melahirkan sumber daya atelt dan pelatih yang berkualitas. “Tidak sembarangan taekwondoin bisa ikut UKT sabuk hitam. Ada beberapa persyaratan mutlak yang harus dipenuhiagar bisa mengikuti UKT. Persyaratan tersebut, menurut Fiva harus dipenuhi sebagai upaya bagi taekwondo Banten untuk memiliki kualitas takwondoin yang baik. Kalau ia atet, maka atletnya berkualitas baik. Kalau ia pelatih maka pelatihnya akan menjadi pelatih dengan kualitas yang baik pula.” Tegas Fiva.

Ditambahkan Fiva, animo taekwondoin Banten untuk mengikuti UKT sabuk hitam ini juga semakin meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah Atlet yang mengikuti UKT yakni sebanyak 150 orang dimana tahun sebelumnya yang mengikuti hanya 48 orang dari 80 club Taekwondo yang tersebar di wilayah Banten.

Agendakan TC ke Luar Negeri, TI Banten Siap Bersaing di PON 2020 Papua.

Selain UKT Sabuk Hitam, dalam acara tersebut juga diumumkan bahwa pengprov TI Banten telah menetapkan 25 Atlet yang telah lolos seleksi untuk mengkuti Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) jangka panjang secara mandiri guna di persiapkan pada Kejuaraan Tahun 2020 yang akan diselenggarakan di Papua.  

Taekwondo Banten serius menatap PON XX di Papua 2020 secara optimis. Segala bentuk persiapan tengah di genjot secara maksimal. Termasuk persiapan TC ke luar negeri. Dengan melihat pencapaian hasil TI Banten di Kejurnas 2017 lalu, TI Banten optimis target tinggi yang di usung di PON 2020 nanti bisa tercapai. Minimal 1 emas dapat diraih Propinsi Banten di ajang PON yang dihelat empat tahunan sekali itu. Demikian hal tersebut disampaikan oleh Ketua Pengprov TI Banten E Kosasih Samanhudi kepada TIN beberapa waktu lalu.

Menurutnya, target tersebut ditetapkan berdasarkan peta kekuatan atlet yang dimiliki Banten saat ini. Selain mengandalkan atlet peraih tiga medali perunggu pada PON XIX Jawa Barat 2016, Banten juga mengandalkan atlet-atlet muda yang belakangan menunjukkan progres yang cukup bagus pada beberapa kejuaraan.

Sekretaris Umum Pengprov TI Banten, Fiva Zabreno mengatakan, untuk memastikan capaian medali emas di PON tercapai, Pengprov TI Banten selain berencana mematangkan atlet dalam program Pelatda Jangka Panjang (PJP) Banten, juga akan mendongkrak kemampuan atlet dengan menjalani tryout ke mancanegara.

“Khususnya sih ke negara di Asia Tenggara, selain agar atlet bisa meningkatkan pengalaman tanding, juga agar kualitas kemampuan atlet juga meningkat. Kalau berkutat pada kejuaraan di Indonesia, nilai kompetisinya masih kalah dibanding di negara-negara Asia Tenggara. Kalau pun ada hanya Indonesia Open,” jelas Fiva

Fiva menambahkan, dengan bertanding di luar negeri, taekwondoin Banten bisa juga meningkatkan level kemampuannya sehingga setara dengan atlet Asia Tenggara. Hal itu memungkinkan terjadi lantaran kompetisi di negara-negara tersebut sangat ketat. Dengan demikian Fiva yakin kemampuan atlet Banten juga ikut terdongkrak.

“Kita agendakan satu kejuaraan, kita kirim satu sampai tiga atlet di Thailand, Malaysia, Singapura., dan Vietnam yang cukup sering intensitas kejuaraannya dan pesertanya dari mancanegara juga. Itu agenda kami 2018,” jelas pria berkacamata itu.

Adapun yang dijadikan negara acuan buat atlet Banten berlaga, pihaknya memilih untuk berlaga di Thailand. Dasarnya Thailand adalah negara Asean yang paling bagus pembinaan taekwondonya. Dari sistem pembinaan yang dijalani Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, sudah memiliki atlet peraih medali di kejuaraan dunia dan Olimpiade.

“Selain itu, kompetisi di sana ada beberapa seri, jadi ini cukup bagus. Kita akan agendakan tryout ke negara Asean mulai tahun ini. Mudah-mudahan bisa terwujud,” tutur Fiva.

Ketua Pengprov TI Banten E Kosasih Samanhudi menyatakan, secara intern sendiri peningkatan kemampuan atlet dan sumber daya manusia (SDM) taekwondo di Banten terus diusahakan ditingkatkan. Itu dibuktikan dengan penambahan program kerja pembinaan yang tahun lalu hanya 18 kegiatan dan tahun ini menjadi 28 kegiatan. “Mulai dari kejuaraan, ujian kenaikan tingkat, penataran pelatih hingga penataran wasit dan juri. Tujuannya hanya satu, kami ingin menghasilkan medali emas di PON XX nanti,” ucapnya.

 

The World Taekwondo General Assembly today unanimously approved a series of changes to its Competition Rules as part of its ongoing commitment to ensure taekwondo is as exciting and engaging as possible for its global fan base.

The General Assembly took place in Hammamet, Tunisia ahead of the World Taekwondo Qualification Tournament for the Buenos Aires 2018 Youth Olympic Games and the Hammamet 2018 World Taekwondo Junior Championships. The approved rule changes, devised to increase the intensity of the competition and ensure athlete safety, include:

  • The valid turning kick to the trunk protector is now four points and valid turning kick to the head is now five points.
  • A gamjeom can now be issued if an athlete has one leg outside of the boundary line and referees will now only wait for five seconds before issuing a gamjeom to athletes who are not engaging in the fight. Using an alternative foot technique will also result in a gamjeom.
  • A weigh-in for randomly selected athletes will take place two hours before the competition. Athletes must be within 5% of their body weight category to be approved. This new weigh-in will take place in addition to the universal weigh-in the day before the competition and will protect athletes from dangerously losing weight to fit into the category.
  • The Golden Point Round has been renamed Golden Round. Athletes are now required to get two points in the Golden Round to win as opposed to one point under the previous rules.
  • In the event there is no winner of the Golden Round, the winner will be declared in the order of: who succeeded in making a body punch, who made the most registered hits, the athlete who won the most rounds in the previous three rounds, and the athlete who got less gamjeoms in the four rounds.

The rule changes will be first implemented at the World Taekwondo Grand Prix Series 1 in Rome on June 1, 2018.

Speaking following the General Assembly, World Taekwondo President Chungwon Choue said:

“Today’s General Assembly was very successful. It is always a pleasure to meet with our Member National Associations (MNAs) from around the world and look back at the great work we have achieved and look forward to the ways we can improve our sport. This year will be focused on development and youth. We will focus on helping our MNAs to grow taekwondo at grassroots level and enhance their elite level athletes. Appealing to youth is a priority as if we do not attract the young generation to practice taekwondo, there will be no future for taekwondo. The rule changes we have approved today are an important step in the constant evolution of taekwondo to make sure it is as appealing as possible.

“I would like to thank our hosts, the Tunisian Taekwondo Federation, the city of Hammamet and the government of Tunisia for their organisation and support. I have no doubt that the Qualification Tournament and World Junior Championships will be fantastic events and showcase Tunisia and Africa’s excellent hosting credentials.”

In addition to the changes to the competition rules, it was approved to change the terms “Full Member” and “Demoted Member” in relation to MNAs to “Level I” and “Level II” members respectively. Level I members have voting rights at the General Assembly and have the right to participate in all official World Taekwondo events. Level I MNAs will be demoted to Level II if they do not fulfil their financial or Championship participation requirements. Level II members shall not have voting rights in official meetings, such as at the General Assembly, but they still retain the right to participate in all official WT events.

During the General Assembly, there was a moment of remembrance for the founding President of World Taekwondo, Dr. Unyong Kim, who passed away on October 3, 2017 at the age of 86.

Source : http://en.mastkd.com

HAMMAMET, Tunisia (April 12, 2018) – Iran today added a fourth gold medal to their haul, whilst Azerbaijan, USA and Chinese Taipei won their first golds in an exhilarating third day of action at the World Taekwondo Junior Championships in Hammamet, Tunisia.

The gold medals were won by Anastasija Zolotic of USA in the junior women’s -52kg, Hamed Asghari Mahiabadi from Iran in the junior men’s -59kg, Chia-Ling Lo of Chinese Taipei in the junior women’s -55kg and Javad Aghayev of Azerbaijan in the junior men’s -63kg.

Today’s results mean that the overall medal table is unchanged as Iran remains in the lead with four gold and two bronze medals overall. South Korea remain in second with two golds and two bronze medals and Russia sit in third with one silver and five bronze medals.

Juniors Women -52kg

The first final of the day saw Anastasija Zolotic of the United States of America and Ozoda Sobirjonova of Uzbekistan fight in the junior female -52kg. The first round exploded into action with Zolotic landing a front kick to the trunk within the first two seconds. However, Sobirjonova responded quickly by landing a front kick to the trunk and then to the head to put her 2-5 up. Zolotic made the scores level once more with an incredible reverse hook kick to the head. The American then began to stamp her authority by landing a series of kicks and ended the round 14-5 up. If possible the second round was even more exciting with both athletes landing a series of kicks on one another, many of which were to the head. But it was Zolotic who took a narrow 24-20 lead into the third round. Zolotic looked to secure the gold medal by landing an early front kick to the trunk. Sobirjonova fought back valiantly by first landing a front kick to the head and then forcing her opponent out of the boundaries on a number of occasions to make the score 27-26. Zolotic looked to have landed the killer blow with a kick to the trunk, but Sobirjonova responded seconds later by kicking her opponent in the trunk and then forcing Zolotic into conceding a gam-jeom. Subsequently, the fight was taken to a golden point round. Both athletes deserved to win the gold in what was probably the most exciting and closely contested final of the tournament so far. However, it was Zolotic who claimed the gold with an emphatic front kick to the head.

The bronze medals were won by Vanessa Beckstein of Germany and Gabriela Briskarova of Slovakia.

Juniors Men -59kg

The junior male -59 final was contested by Hamed Asghari Mahiabadi from Iran and Arslan Demir of Turkey. Mahiabadi took an early 6-0 lead with a series of kicks to the trunk, but was then forced into conceding three gam-jeoms. However, Mahiabadi managed to close out the first round with the score at 9-5. In the second round Mahiabadi extended his lead emphatically by landing a punch and two kicks to the trunk of his opponent. In the third round, Demir tried to fight back courageously, but Mahiabadi was too strong defensively. In the last 30 seconds, Mahiabadi made sure of his gold by landing a combination of kicks to the trunk and head. The fight ended 29-9, with Mahiabadi securing Iran’s fourth gold medal of the tournament. That gold meant Mahiabadi added to his gold he won at the Youth Olympic Games in Nanjing 2014.

Young-Jun Lee of Korea and Gabriel Ramos of Brazil claimed the bronze medals.

Juniors Women -55kg

Anastasiia Nosova of Russia and Chia-Ling Lo of Chinese Taipei fought in the junior female -55kg final. Both showed strong defensive work in the opening round, with neither willing to give any early points away. It wasn’t until the second round that the first points were registered by Lo with a side kick to the head. She then followed this up with another impressive kick to the head, only for it to be cancelled out by Nosova. Lo ended the round by landing a front kick to the trunk to take an 8-3 lead into round three. Nosova tried to respond in the last round and quickly forced her opponent into conceding two gam-jeoms in a row. However, Lo wouldn’t let this faze her. She landed three consecutive kicks to the trunk to secure her second World Taekwondo Junior Championships gold medal.  The fight ended 15-6 in Lo’s favour.

Fani Tzeli of Greece and Junli Yang of China won bronze for their respective countries.

Juniors Men -63kg

The last final of the day saw Gabriele Caulo of Italy and Javad Aghayev of Azerbaijan battle for gold in the junior male -63kg. Aghayev landed the first blow after 30 seconds with a kick to the head and then forced his opponent to concede a gam-jeom by knocking him over. Caulo then forced two gam-jeoms of his own, but Aghayev responded with a front kick to the trunk to end round one 6-2 up. Both fighters landed punches to their opponent in the opening stages of the second round. Caulo started to close the gap by landing consecutive kicks to the trunk. However, it was Aghayev who landed the last blow of round two to take a narrow 9-8 lead into the last. Caulo attacked his opponent aggressively in the opening stages of round three and got his reward by forcing Aghayev into conceding a gam-jeom. The fight was tied at 9-9 at the half way mark of the last round. Both fighters looked to claim the gold late on, but it was Aghayev who landed the killer blow with a punch to the trunk in the dying seconds. The fight ended 14-13 and Aghayev claimed Azerbaijan’s first gold of the tournament.

The bronze medals were claimed by Erfan Moradi of Iran and Nedzad Husic of Bosnia and Herzegovina.

 

Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC) atau Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games ke 18 Jakarta – Palembang, bekerjasama dengan induk cabang olahraga, antara lain, taekwondo (PBTI), Badminton (PBSI), Gulat (PGSI), Renang (PRSI) dan Sambo menggelar Workshop National Technical Officer (NTO) untuk masing-masing cabor tersebut di Hotel Grand Sahid, Jakarta 6 – 7 April 2018.

Untuk cabor taekwondo, Workshop NTO diikuti sebanyak 40 peserta yang nantinya akan bertugas di venue pertandingan yang akan dihelat di Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, Jakarta,  Agustus 2018 mendatang.

Menurut Competition Manager (CM) Taekwondo Yefi Triaji, Tujuan diselenggarakannya workshop ini adalah untuk membekali para NTO dalam memahami Job Doiscription yakni tugas, fungsi dan tanggung jawabnya sebagai tuan rumah cabor taekwondo dalam penyelenggaraan Asian Games, baik yang terkait dengan aspek teknis maupun yang berkaitan dengan fasilitas dan pelayanan serta hal-hal lainnya sebagai tuan rumah,

“NTO harus memahami apa job description mereka sebagai panitia penyelenggara pertanduingan. Selain itu, bagaimana peran mereka sebagai tuan rumah dalam memberikan berbagai informasi kepada kontingen atau participant selama mereka mengikuti pertandingan taekwondo”. Ujar Yefi yang juga sebagai Kepala Bidang Organisasi Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) itu.

Harapannya, lanjut Yefi, agar penyelenggaraan pertandingan taekwondo di ajang Asian Games 2018 nanti berjalan sesuai dengan skenario yang telah ditetapkan oleh INASGOC.  

Ditambahkan Yefi, Ia meminta kepada seluruh panitia yang terlibat dalam pertandingan taekwondo nanti, disamping memahami dan menguasai bidang tugasnya masing-masing, Ia juga meminta agar para panitia dapat bekerjasama, kreatif dan mampu bersinergi dengan panitia lainnya, terutama dengan INASGOC. Tanpa adanya formasi yang terintegrasi tersebut, menurut Yefi, pelaksanaan Asian Games bisa saja tidak berjalan maksimal. Oleh karenanya ia meminta kepada semua NTO untuk aktif bertanya hingga menguasai flow dan skenario pertandingan sesuai dengan standard yang telah ditentukan oleh OCA.

Adapun materi workshop disampaikan oleh Technical Delegate, Deep Abdeirahem Sedo Kurdi yang menjelaskan tentang aturan pertandingan, Competititon Manager, Yefi Triaji yang menjelaskan tentang job description panitia, serta Wakil Direktur Sport INASGOC, Abdul Rauf yang memberikan arahan dan motivasi kepada peserta sebagai panitia yang akan bertugas salama Asian Games berlangsung

Sementara itu, Ketua Harian PBTI Zulkifli Tanjung yang menyempatkan hadir diacara tersebut berharap bahwa cabor taekwondo, bukan saja berhasil menyelenggarakan pertandingan dengan baik dan mendapat kesan positif dari negara partisipan, mengingat sebelumnya PBTI juga pernah sukses menjadi tuan rumah penyelenggaraan event internasional,  baik Sea Games, Kejuaraan Asia Junior, maupun kejuaraan dunia taekwondo di Bali 2013 lalu. Namun juga ia berharap bukan saja kita sukses sebagai tuan rumah, tapi kita juga bisa meraih prestasi sesuai dengan target yang dibebankan yakni 2 emas. Oleh karenanya dukungan dan doa dari seluruh masyarakat taekwondo Indonesia tentunya akan memberikan daya motivasi dan semangat kuat bagi atlet-atlet kita yang nantinya bertarung.

Pengurus Propinsi Taekwondo Indonesia (Pengprov TI) Sumatra Barat menggelar Diklat Pelatih Kyorugi dan Poomsae serta Refreshing Wasit Kyorugi yang berlangsung di New Rasaki Hotel, Padang, Sumatra Barat 6 - 8 April 2018

Diklat kali ini diikuti 57 peserta, terdiri dari 50 pelatih dan tujuh orang wasit.  Adapun tema yang diusung dalam diklat kali ini adalah “Dengan diklat pelatih, kita tingkatkan kualitas SDM pelatih Sumbar Menuju Prestasi Nasional dan Internasional”. 

Menurut Ketua Pengprov TI Sumbar, Drs. Handrianto, pelaksanaan Diklat kali ini merupakan suatu upaya bagi pengrov TI Sumbar untuk meningkatkan kualitas pelatih dan wasit yang ada di Sumatra Barat. Hal ini menurutnya penting mengingat perkembangan metode kepelatihan dan aturan dalam pertandingan taekwondo selalu update. Oleh karenanya, dirinya berharap dengan adanya diklat ini, ada transformasi ilmu pengetahuan yang baik kepada para pelatih dan wasit Sumbar.

Selain itu, menurutnya Diklat pelatih dan wasit kali ini juga terkait dengan harapan Pengprov TI Sumbar agar setiap kejuaraan taekwondo yang dilaksanakan di wilayah Sumbar seminimal mungkin atau bahkan sama sekali tidak adanya protes dari pelatih karena kesalahan kepemimpinan wasit dalam mengambil keputusan. Seperti diketahui Sumbar sendiri sepanjang 2018 ini telah banyak menggelar kejuaraan, seperti Pra Porprov, kejuaraan tahunan di Sijunjung dan Kota Solok, serta Porprov di Padang Pariaman. 

Sementara itu, menurut Ketua Pelaksana Muhammad Abrar, sesuai dengan kebijakan Pengprov TI Sumbar bahwa Diklat ini menjadi prasyarat bagi pelatih yang akan mendampingi atletnya di event kejuaraan di lingkungan Sumbar.

”Diklat dan penyegaran ini menjadi persyaratan bagi setiap pelatih untuk mendampingi atlet di iven tingkat Sumbar ke depannya, ” Ujar Muhammad Abrar.

Adapun narasumber dalam kegiatan diklat ini, Pengprov TI Sumbar mendatangkan pelatih poomsae dari Jawa Barat, Mukhlis Ba Alwi dan pelatih Kyorugi asal Jawa Tengah, Hari Suprianto. Selain itu, Ketua Umum Pengprov TI Sumbar, Drs. Handrianto juga ikut sebagai pemberi materi. Beliau memberikan penyegaran terkait aturan-aturan baru dalam pertandingan dan perwasitan. 

Ditambahkan Abrar, untuk setiap pelatih yang ikut dalam diklat kali ini akan mendapat kartu untuk membuktikan kelayakannya dalam mendampingi atlet saat nanti bertanding di kejuaraan tersebut. ”Jadi nanti setiap pelatih daerah akan ada kartu keanggotaan khusus sebagai tanda pelatih yang berhak mendampingi atlet saat bertanding, sehingga tidak terjadi lagi protes-protes yang tidak penting sepanjang kejuaraan berlangsung, ” ujarnya. 

Sementara itu, salah satu narasumber, Mukhlis Ba Alwi mengatakan bahwa kedatangannya adalah untuk memberikan arahan dan pelatihan terhadap pelatih-pelatih di Sumbar supaya bisa lebih terarah dalam memberikan materi latihan kepada peserta didiknya. “Mudah-mudahan nanti di Porprov atlet-atlet Sumbar bisa bersaing dengan sehat dan lebih kompetitif, ” Ujar Mukhlis yang juga pernah menjadi pelatih poomsae nasional itu.

Dirinya juga mengucapkan terima kasih kepada Pengprov TI Sumbar beserta seluruh jajaran pengurus yang telah mempercayakan dirinya bersama Sabeum Hari Supriyanto dari Jawa Tengah untuk memberikan pengetahuannya soal kepelatihan. Dirinya berharap semoga materi yang diberikan dapat bermanfaat dan menghasilkan atlet yang bisa bersaing di tingkat nasional atau lebih tinggi.

 

Sumber : Taekwondo Indonesia News

 

AMMAN, Jordan (April 1, 2018) – On Sunday April 1st, 2018, the Azraq Taekwondo Academy training facility was officially inaugurated by Taekwondo Humanitarian Foundation (THF) Chairman and World Taekwondo (WT) President Dr. Chungwon Choue, just short of two years after the launch of the Foundation’s first pilot project in the camp.

His Royal Highness, Prince Rashid Bin El Hassan, President of Jordan Taekwondo Federation, attended this historic event, along with representatives from Jordan authorities, including Vice-President of Jordan Olympic Committee, Amman Mayor Office and SRAD, as well as delegates from UNHCR and CARE Jordan and friends of the Foundation who travelled specially from overseas to attend.

The Azraq Taekwondo Academy began operations on April 27, 2016, as one of the first projects set up in a refugee camp by THF and its mother organisation, World Taekwondo. Azraq refugee camp is located 90 kilometers away from the Jordanian-Syrian border and currently hosts more than 32’000 refugees, victim of the Syrian civil war, of whom a great proportion are children. THF’s Academy trains children from the camp in taekwondo, providing them with important self-defence skills and key universal values imbedded within the philosophy of taekwondo. Currently, more than 80 students train at the Academy, with taekwondo sessions offered three times a week.

At the end of 2017, THF and World Taekwondo took the decision to construct a dedicated taekwondo training facility for the Academy inside to camp. This purpose-built facility will make a huge difference to the lives of hundreds of children today and in the future. It will allow the Academy to host more students and provide a better training experience with more classes and diversified activities. Students will be able to practice in comfort and safety. The facility also has a classroom, which will allow THF to implement its education programme that teaches Olympics values and the universal values of World Citizenship and World Peace.

 

Speaking following the opening ceremony, President Choue said:     

“It was with great pride and humility that I was able to open the new taekwondo facility at the Azraq Taekwondo Academy. The Academy has been a great success and has even already produced its first black belt. But, we knew there was even more that we could do to maximize opportunities for these deserving young people.

This new facility will make a huge difference and allow students to practise in comfort and safety. We have seen over the last two years how taekwondo has the power to bring hope and joy to people who need it most and help them live healthier and more fulfilling lifestyles. With this new facility we can reach even more young people and help teach them values which will help them in the future. This wonderful new facility will provide a benchmark for future THF projects around the world.”

And also, Dr. Choue thanked to Mr. Lu Dezhi, Chairman of China’s Huamin Charity Foundation and Crown Prince Fujaira who donated for taekwondo programs, and Mr. Bian Zhiliang, Chairman of Taishan Sports Industry Group Co, LTD.

THF and World Taekwondo hope to align their efforts with other Olympic Federations and invite other sports that need a physical facility to offer classes in this new Academy in Azraq. The Academy will provide a benchmark for future projects by THF.

Azraq will be used as a model for THF academies across the world – in Rwanda, in Djibouti and elsewhere.

For more information about THF’s current activities, please visit http://thfaid.org/projects/.

 

#Repost http://www.worldtaekwondo.org

SEOUL, Korea (March 27, 2018) – The World Taekwondo Qualification Tournament for the Buenos Aires 2018 Youth Olympic Games and the Hammamet 2018 World Taekwondo Junior Championships will take place in the seaside resort of Hammamet, Tunisia, from April 6–13.

The World Taekwondo Qualification Tournament for the Buenos Aires 2018 Youth Olympic Games will feature five female and five male weight categories for teenagers aged 16-17 – meaning competitors have to be born between Jan. 1 -2001 and Dec. 31, 2002.  The top eight players in each category qualify for the 2018 Youth Summer Olympics in October.

The two-day competition takes over April 6-7 and 438 athletes from 111 countries are participating.

Following that, the 2018 World Taekwondo Junior Championships will feature 10 female and 10 male weight categories for teenagers aged 15-17, meaning competitors have to from Jan. 1, 2001 to Dec. 31, 2003. The event takes place from April 9-13.

The World Taekwondo Junior Championships were first held in Barcelona, Spain, in 1996; the 2018 tournament is the 12th edition and it is first time for Tunisia to hold the World Taekwondo Junior Championships.

This year, 962 athletes are participating, representing 120 countries.

Both competitions take place at the La Salle Couverte Hammamet, in the Tunisian seaside resort.

Also in Hammamet, a WT Council Meeting will take place on April 4, while a WT General Assembly will be held on April 5, and will vote on amended rules for 2018. If the amendments are passed by the Assembly, the new rules will be implemented at the Rome 2018 World Taekwondo Grand Prix Series in June, 2018.

 

#repost http://www.worldtaekwondo.org

Senayan Trade Centre (STC),
Senayan, Lantai 3 No.173B,
Jalan Asia Afrika. Jakarta Selatan
Telp: 021-29407769

Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Cari

Peta Kantor PBTI